BIDAN DAN MEDIA

April 10, 2015, by ranafiu


Pada Jum'at kedua tiap bulannya, ada jadwal posyandu di kampung saya. Dan sebagai--ehem--bidan, saya sering diminta para kader untuk ikut sibuk dalam kegiatan keposyanduan. Entah untuk sekedar nulis-nulis, konseling tumbuh-kembang bayi dan balita, atau malah sebagai pemikat agar bapak-bapak muda yang menyegarkan itu mau mengantar balitanya mampir nimbang. *hagzhagz :v
Jum'at pagi itu, saya ikut mosyandu. Jam sembilan tepat saya berangkat. Pos masih sepi. Sembari menunggu para balita datang, saya dan ibu-ibu kader ngobrol ceria tentang apa saja yang bisa diobrolkan. Tentang keluarga, angan-angan seputar dunia anak, juga tentang kebijakan pemerintah dalam bidang pelayanan kesehatan primer. Sampai pada satu detik, salah seorang kader bertanya pada saya, "Nok Fina, piye ceritane kok biso dadi bidan? Emang keinginan sendiri, po'?"

Kemudian hening.

***

Beberapa tahun silam di awal perkuliahan, pertanyaan serupa sering dilontarkan mayoritas dosen jurusan kebidanan kepada para mahasiswinya. Saat itu, banyak di antara kami yang menjawab bahwa langkah ini "bukan keinginan sendiri", atau istilah lainnya: nyasar jurusan. 

Saya termasuk di dalamnya.

Kini, pertanyaan itu kembali tersaji. Satu sudut ego saya tergelitik untuk memberikan jawaban senada dengan 4 atau 5 tahun yang lalu, bahwa Sastra dan Seni Rupa-lah yang jadi tujuan. Atau kenyataan bahwa saya sempat memendam keinginan kuliah di STSN. Saya bisa saja menjawab demikian. Toh, api itu masih menyala. Tapi, melihat kondisi media belakangan ini, juga dengan status saya yang sudah nguli, rasanya kok tidak elok jika saya mengatakan (bahwa sebenarnya saya) ingin jadi sastrawan. Buat apa juga? Kita tidak pernah tahu, bagaimana berita ini akan sampai di telinga orang-orang lewat mulut yang kadang lepas kendali. Bisa jadi yang akan terdengar justru: "Heh, ternyata anaknya Bu Maelah itu jadi bidan karena terpaksa. Ati-ati kalo periksa sama dia. Bisa mal praktek." *harraahh 

Saya pun belajar, untuk tidak terlalu polos dalam menghadapi dunia yang sudah terlanjur banyak corak.

***

Saya tersenyum, lalu menjawab anggun, "Nggeh, Bulik, kepinginane kulo piyambak."

Dan puluhan balita pun datang berbondong-bondong. Bersama ibu mereka, bukan bapak-bapak muda yang saya nantikan.

Pekalongan, 10 April 2015

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog