PAK, SAYA BOLEH NU?

Desember 03, 2018

Pak, Saya Boleh NU?

Saya tidak tahu, bagaimana persisnya seseorang boleh disebut atau menyebut dirinya sebagai seorang Nahdliyyin, hingga orang-orang di luar sana mengira; saya NU.

"Roup kui NU!" Begitu kata seorang teman ketika dalam suatu percakapan, kami membahas latar belakang keluarga masing-masing lengkap dengan tradisi-tradisi yang melingkupinya. Saya mesam-mesem saja mendengar pernyataan-tanpa-diminta itu.

Perlu kalian tahu, saya ini tidak punya KARTANU, tidak pernah aktif dalam organisasi ke-NU-an, tidak juga mondok di pesantren konservatif milik Kiai NU. Bahkan lahir dari keluarga NU saja tidak. Ngaji kitab juga tidak, apalagi mengamalkan seluruh ajaran ahlussunah waljamaah. Ndak.
Lalu, di mana letak ke-NU-an saya?

Kalo mau diklothok kulit luarnya saja, lalu diambil kesimpulan mentah bahwa NU adalah mereka yang rutin qunut, niat pake usholli, dzikir dengan prinsip jahr, menyenangi ziaroh kubur, mencintai para ulama, yaasinan dan tahlilan, matangpuluh dino, nyatus, nyewu, manaqiban, barzanzinan, dan segala-gala ritual yang seabrek barokahnya itu, maka percayalah, saya bukan NU.

"Saya Muhammadiyah." Demikian pengakuan saya suatu hari, kepada seorang teman yang lain.

Dan dia terkejut, "Masa njenengan Muhammadiyah, Mbak? Nggak percaya."

"Lho, kok nggak percaya?"

Saat saya tanya kenapa, dia menjawab, "Hehe, nggak kelihatan Muhammadiyahnya, Mbak."

Mungkin, mungkin lho ya, mereka menilai pandangan-pandangan dan pemikiran saya sudah terlalu 'bebas' dan 'nyleneh' untuk seorang yang mengaku Muhammadiyah. Tidak--ehem, maaf--'kaku' seperti beberapa orang yang biasanya vokal. Huehue. Saya sendiri menyadari bahwa saya hanyalah Muhamadiyah bawaan. Hanya karena sejak kecil saya bersekolah di sekolah Muhammadiyah, terbiasa mengikuti ketetapan yang berlaku dalam Muhammadiyah, dan beribadah ala Muhammadiyah, lantas saya mengimaninya sampai mendarah daging.

Makin dewasa, lingkungan dan lingkaran pertemanan saya justru makin diwarnai oleh manusia-manusia NU, baik yang garis keras maupun yang terlampau toleran. Baik yang santri maupun bukan. Baik yang tulen maupun gadungan. Hahaha. Membawa saya pada pemahaman lain di luar Muhammadiyah--pemahaman akan NU--dan pada satu titik di kemudian hari, membuat saya mulai mencintainya.

***

K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sumber: Bangkitmedia.com

Adalah K. H. Hasyim Asy'ari, seorang laki-laki dari garis keturunan Sunan Giri, yang menghabiskan masa remajanya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Memperdalam ilmu dari satu guru ke guru lainnya. Dan kelak di suatu masa, menjadi tokoh paling penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Ada satu fase dalam deret panjang perjalanan hidup Kiai Hasyim yang lebih ditekankan ketika banyak orang berbicara tentang identitas NU yang sebenarnya. Satu fase yang teramat manis untuk dikenang. *halah

Kala itu, Kiai Hasyim bertolak ke Makkah untuk belajar agama islam kepada beberapa guru, satu di antaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, tepat ketika Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaruan pemikiran islam. Abduh mengajak ummat islam untuk memurnikan kembali islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari islam, juga melakukan reformasi di bidang pendidikan, sosial, dan politik. Lalu untuk beberapa alasan, Abduh menggencarkan ide agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan pada pola pikiran para mazhab.

Syaikh Ahmad Khatib mendukung pemikiran-pemikiran Abduh, meskipun dalam beberapa hal, ia berbeda. Sikap mendukung inilah yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya. Salah satu di antara banyak muridnya bernama K. H. Ahmad Dahlan, yang sepulangnya dari Makkah turut mengembangkan ide-ide Abduh dengan mendirikan Muhammadiyah.

Kiai Hasyim bukan tidak senang dengan buah pikiran Abduh. Dia--sama juga dengan murid yang lain--mendukung ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali islam. Akan tetapi, dia menolak pemikiran Abduh agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan kepada mazhab. Baginya, tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Hadits tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang terhimpun dalam sistem mazhab. Sangat tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah tanpa melalui jalur ilmu para ulama hanya akan menghasilkan pemutarbalikan dari ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya. Demikian menurut Kiai Hasyim.

Dan itulah, saya kira, sumbu pembeda dari segala beda yang ada.

Dalam perkembangannya, benturan pendapat antargolongan--yang bermazhab (kelompok tradisional; diwakili oleh kalangan pesantren) dengan yang tidak bermazhab (kelompok modernis; diwakili oleh Muhammadiyah dan Persis)--itu memang tidak terelakkan. Dan dalam tahap ke sekian, mengantarkan Kiai Hasyim pada satu keputusan untuk membentuk sebuah komite berjuluk Nahdlatul Ulama.

***

Tuduhan sebagai seorang Nahdliyyin yang ditujukan orang-orang kepada saya tentu saja membuat saya bangga. Bagaimana tidak? Dituduh sebagai manusia yang doyan ngaji, memiliki pemahaman agama yang mengakar, toleran, luwes, tidak grusah-grusuh dan asal nuduh, serta kuat melek sambil ngopi dan guyon semalaman, lha yo mesti bangga.

Banyak hal dari NU yang saya suka, terutama tentang kegemaran mereka mengambil keutamaan-keutamaan dalam sebuah hadits peribadatan, juga cara mereka menyajikan contoh-contoh kejadian sederhana sebagai analogi bagi perkara-perkara yang sedang diperdebatkan. Mereka membuka diri terhadap perbedaan. Dan lebih dari itu, saya suka jalan berilmu yang mereka tempuh. Mereka senang berguru pada tokoh besar dengan sanad ilmu yang jelas. Jangankan untuk mengaji, mereka bahkan tidak akan segan-segan menempuh jarak ratusan kilo hanya untuk--misalnya--bertemu muka dengan ulama kesayangan. Biar tertular barokahnya, kata mereka.

Sedikit demi sedikit, saya mulai mengadopsi sebagian dari ideologi NU--tanpa sepenuhnya saya sadari.

Hingga kemudian, saya merasa iri. Iri yang begitu sangat. Karena betapa pun orang-orang itu mengira saya NU, saya tidak pernah--dan mungkin tidak akan pernah--bisa menjadi NU. Saya harus jujur, bahwa mengaku-ngaku sebagai warga NU sama halnya seperti mendaku barang milik orang lain. Ada rasa tidak nyaman. Ada keasingan yang membakar. Seolah saya tengah mencuri. Bagaimana pun, jauh lebih tenang duduk di antara orang-orang Muhammadiyah dibanding yang lain. Mungkin karena saya terlanjur terbiasa, atau karena saya merasa lebih menguasai medan ketika berada di antata mereka, atau.. mungkin karena hakikat manusia adalah memilih satu dan menetap di dalamnya, dengan tetap bersentuhan pada yang lain. Dan alam bawah sadar saya telah memilih.

Pada akhirnya, aksi koar-koar yang saya lakukan dengan membuat catatan berjudul "Pak, Kenapa Kita Ndak NU?" hanyalah sebentuk ekspresi pencarian jati diri yang berujung pada kesimpulan bahwa saya tetaplah anak Muhammadiyah, yang mencoba mengenal induknya dengan melongok ke luar pagar.

Kalau sudah begini, saya jadi ingat petuah Bapak:
"Ndhuk, Bapak tahu kecenderunganmu, juga ketertarikanmu akan NU. Itu pilihan. Tapi ingat-ingat, iki mung perkara tumpakan (kendaraan). Jalan kita tetap jalan Islam. Tujuannya Gusti Pangeran. Jangan cuma karena perkara NU-Muhammadiyah, lalu kamu lupa beragama. Lupa kewajibanmu terhadap sesama. Kamu nggak pernah tahu, kan? Bisa jadi ada yang nggak suka membaca tulisanmu di facebook. Bahkan lebih parahnya lagi, ada yang sakit hati. Jadi, tetaplah hati-hati, meski dalam tulisan."

Dan itu cukup untuk menjadi penutup.

Pekalongan, 29 Oktober 2015

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe