TERNATE: BUKAN LAGI PERKARA ARTIKEL

Mei 31, 2016, by ranafiu

Dua bulan kemudian ...

"Arep melu ora?" Tanyanya.

"Hmm..?" Saya bergumam. Seolah ingin memastikan apa yang baru saja saya dengar.

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Sekalipun saya merasa sangat siap untuk mengikuti suami saya--ehem, nanti setelah menikah, maksudnya--ke daerah tempatnya bekerja di Ternate sana, tetap saja ada kegugupan ketika dimintai kepastian seperti itu.

"Mau ikut ke sini, nggak?" Begitu tanyanya.

Saya tahu, (calon) suami saya itu hanya ingin memastikan bahwa saya mantap dan ridlo untuk ikut dengannya, mendampinginya, mengabdi padanya. Tapi pertanyaan itu memaksa saya berpikir ulang, apakah saya benar-benar siap melesat jauh meninggalkan Pekalongan dalam waktu yang tidak sebentar. Ada bimbang yang menyapa. Ada ragu dalam sendu. Dan setitik kegundahan itu nyata menggoyahkan kemantapan yang saya bangun selama ini.

Saya tidak pernah menetap di suatu kota di luar Pekalongan dalam waktu yang cukup lama. Saya terlahir, tumbuh, dan terlanjur mendewasa di kota ini. Akan menjadi situasi yang sulit bagi saya jika tiba-tiba diajak pergi dan tinggal di luar pulau yang berkilo-kilometer jauhnya, sekalipun inilah yang saya idamkan sejak dulu. Bagaimana dengan orang-orang terdekat? Keluarga, teman-teman, partner kerja... Bagaimana jika saya merindukan mereka? Terlebih lagi, bagaimana dengan pekerjaan saya?
Saya bekerja di RSUD Bendan, sebuah rumah sakit milik pemerintah kota Pekalongan yang jaraknya hanya lima menit berkendara dari rumah. Hampir dua tahun lamanya saya menjadi bagian dari rumah sakit ini. Bekerja sama dengan orang-orang hebat, menghadapi berbagai kasus dan pasien baru setiap harinya, belajar, berbagi, untuk kemudian lelah sekaligus bersyukur karenanya.

Bekerja di RSUD Bendan adalah jawaban. Ada dua keyword yang selalu saya sebut ketika mengajukan proposal kerja kepada Tuhan: rumah sakit dan ridlo orang tua. Keinginan saya untuk bekerja di rumah sakit sudah sejak lama saya patenkan. Tidak bisa tidak, setelah lulus kuliah saya harus bisa bekerja di instansi itu. Di manapun tempatnya, yang penting rumah sakit. Maka mulailah surat lamaran saya edarkan ke seluruh penjuru Jawa. Dari utara hingga ke selatan, dari Ibu Kota hingga Daerah Istimewa. Tapi saya lupa, Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya bekerja di luar kota. Sampai kemudian saya tergerak memasukkan lamaran ke RSUD Bendan, dan baru saya tahu bahwa rumah sakit inilah yang menjadi titik temu dari dua kata kunci yang saya ajukan pada Tuhan.
Dan sekarang, dalam beberapa bulan ke depan saya akan menikah dan dihadapkan pada opsi untuk meninggalkan pekerjaan demi ngabdi pada suami.

***

"Arep melu rene ora?" Ulangnya.

Saya terdiam sejenak.

Untuk beberapa hal, saya memang ragu. Tapi kepada laki-laki ini, saya tidak pernah memiliki secuil pun keraguan. Saya percaya bahwa dialah masa depan saya. Dan bersamanyalah saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan berbagai macam kebahagiaan.

"Mas pingine pripun?" Tanya saya akhirnya.

"Yo melu lah." Jawab suara di seberang sana, mantap. "Nggo opo adoh-adohan."

Saya tersenyum mendengarnya. Kemudian menjawab, tak kalah mantap, "Nggih mpun, aku melu."


*lanjutan dari Esai berjudul ARTIKEL TENTANG TERNATE

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog