ANDALUSIA: KRISTEN, YAHUDI, DAN ISLAM DALAM SATU BINGKAI KISAH

Juni 14, 2016

Pada masa ketika kekuatan Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad mulai melemah, kaum muslim membentuk mayoritas di Andalusia, dipimpin oleh seorang bangsawan Umayyah terakhir yang tersisa; Abdul Rahman. Mereka hidup berdampingan dengan dua komunitas besar lain; Yahudi dan Kristen.

Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana ketiga komunitas itu bergaul.
Pada akhir abad ke-10 M, Sancho mewarisi takhta dari Leon, sebuah kerajaan Kristen di utara Spanyol. Karena menderita obesitas, rakyat Sancho segera menyebutnya sebagai Sancho si Gemuk, jenis panggilan yang tidak pernah suka didengar seorang raja manapun untuk digunakan oleh rakyatnya secara bebas. Sancho yang malang itu mungkin lebih tepat dipanggil Sancho yang Kegemukan Secara Medis, tetapi para bangsawannya terlalu sempit dalam memandang masalah. Mereka menganggap ukuran Sancho sebagai bukti kelemahan internal yang membuatnya tidak layak untuk memerintah, sehingga mereka memecatnya.

Sancho kemudian mendengar tentang seorang dokter Yahudi bernama Hisdai ibn Shaprut yang konon tahu cara mengobati obesitas. Hisdai dipekerjakan oleh penguasa muslim di Kordoba, yang merupakan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan muslim Andalusia yang kini terletak di Spanyol. Sancho pun segera melakukan perjalanaan ke selatan bersama ibunya untuk mencari perawatan. Penguasa muslim Abdul Rahman III menyambut Sancho sebagai tamu terhormat dan menyuruhnya untuk tinggal di istana kerajaan sampai Hisdai berhasil menurunkan berat badannya. Selang beberapa waktu, Sancho kembali ke Leon. Dia mengklaim kembali takhtanya, dan menandatangani perjanjiaan persahabatan dengan Abdul Rahman. [*]

Seorang raja Kristen menerima perawatan dari dokter Yahudi di istana penguasa muslim. Di situ kita mendapatkan gambaran kisah kaum muslim di Spanyol.

Ketika orang Eropa berbicara tentang Zaman Keemasan Islam, mereka sering berpikir tentang Kekhalifahan Kordoba, karena ini adalah bagian dari dunia muslim yang paling dikenali orang Eropa.
See? Bagi orang-orang di luar Islam, kaum muslim berada pada puncak keemasan ketika Islam dikembalikan pada makna harfiahnya: damai (dan membawa perdamaian).
Sayang sekali, kita di sini lebih senang cek-cok dan memaksakan kebenaran.

[*] Chaim Potok, History of the Jews (New York: Ballantine Books, 1978), h. 346-347

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe