KOPI TAHLIL: KOPI, TAHLILAN, DAN ULANG TAHUN PEKALONGAN

Di tengah menjamurnya kedai kopi dan kafe-kafe modern di Pekalongan yang menyediakan beragam menu kopi dari asal biji sampai teknik penyeduhan, ada satu yang tetap khusyuk berteduh di emperan. Satu olahan kopi yang bertahan menjadi primadona di gerobak angkringan, dan hanya di gerobak angkringan. Kopi ini, kata orang-orang, adalah kopinya Pekalongan. Kamu tentu tidak tahu. Tidak mengapa. Orang-orang yang mendaku penikmat kopi garis keras macam Iqbal Aji Daryono dan Robi "Aobi" Fuzi--yang doyan pamer foto manunggaling kretek lan kopi--juga belum pernah mencobanya kok. Lha wong tahu saja tidak. Nody Arizona, admin @KopiID yang menganggap ngopi setara dengan bernapas dan pengetahuannya soal kopi lebih dalam dari pengalamannya menyelami sanubari wanita itu pun belum pernah mencicipinya. Cih. Kalau begini, kejantanan mereka sebagai pecinta kopi perlu sekali dipertanyakan.

Kopi tahlil bukanlah sejenis kopi yang bijinya dipanen dari perkebunan lokal seperti halnya gayo dan toraja, misalnya. Bukan. Di sini tidak ada perkebunan kopi. Dia berbeda bukan sebab asal-muasal bijinya, melainkan unik cara pengolahannya. Dan lebih dari itu, dia adalah tradisi. Mengulas tentangnya tanpa mengindahkan sejarah dan budaya setempat sama halnya seperti jomblo yang ngobral bualan soal pacar tapi ogah menunjukkan identitas pacarnya. Kosong. Kopi tahlil pada mulanya disajikan sebagai hidangan wajib pada upacara tahlilan. Tahu kan? Ritual perapalan doa-doa dan kalimat Tuhan yang diadakan oleh sebagian umat islam ketika kehilangan sanak saudaranya (Udah deh, udah.. gak usah ribut dulu soal tahlilan-gak tahlilan, apalagi bid'ah-bid'ahan). Kamu perlu tahu, Pekalongan lahir ketika pemerintahan Islam Demak mulai memekarkan kekuasaannya dan berhasil menjangkau sebagian wilayah pantai utara. Pengaruh Walisongo masih begitu kuat pada era ini. Dan siapapun tahu bagaimana perjuangan Walisongo mengenalkan islam di tanah Jawa melalui asimilasi kebudayaan lokal yang saat itu masih kental oleh kepercayaan hindu, budha, bahkan animisme dan dinamisme. Sampai kemudian muncullah tradisi tahlilan yang merupakan upaya pelestarian dari Pinda Pitre Yajna--suatu upacara untuk menghormati roh-roh orang yang sudah mati--dalam ajaran hindu.

Tahlilan kemudian dipelihara oleh orang-orang NU (yang Muhammadiyah tolong jangan berisik dulu). Di Pekalongan, mungkin juga di kota-kota lainnya, upacara ini diadakan dengan ritme nyaris tetap: nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu. Ada juga yang digelar di luar agenda tadi, seperti misalnya, rutin tiap malam Jum'at. Dalam syahdunya acara tahlilan ini, selalu ada saji-sajian yang terhidang, di mana kopi menjadi sebuah keharusan.

Kopi tahlil bukan sekedar bubuk kopi yang diseduh dalam segelas air panas, lalu diberi sedikit gula agar tidak hanya pahit yang terasa. Dia--layaknya ajaran Walisongo yang berbaur dengan kepercayaan masyarakat lokal--menyatu dengan rempah-rempah hasil panen daerah, seperti jahe, kapulaga, kayu manis, pandan, serai, pala, dan gula jawa, untuk menghasilkan cita rasa yang aduhai nikmatnya.

Lambat laun, kopi tahlil bergeser menjadi komoditas yang dijajakan di setiap sudut Pekalongan. Kamu bisa menemukannya di beberapa titik di kota ini, khususnya di warung-warung macam angkringan pinggir jalan yang mencatutkan tulisan "Kopi Tahlil" di depan tenda-tendanya. Ada dua warung kopi tahlil yang berani saya rekomendasikan untuk kamu yang mau bertandang. Satu di wilayah Poncol depan gedung Kospin Jasa, yang kedua di ruas jalan Haji Agus Salim depan gedung PPIP Klego. Dua inilah yang paling populer. Tapi, sini mendekat, saya beri tahu satu hal: Jika tujuanmu adalah murni kopi tahlil, datangi saja warung kedua, warung Pak Eko namanya. Tapi jika kamu punya uang lebih untuk dibuang-buang, dan waktu senggang untuk bersenang-senang, saya sarankan untuk mampir ke warung pertama. Di sini, kamu bisa menemukan seporsi nasi plus kopi yang dijual Rp 5.000 pada siang hari, berubah menjadi Rp 12.000 pada malam harinya. Padahal kamu mengunjungi warung yang sama. Hanya di sini, kamu bisa mendapati mas-mas kurus berkumis tipis yang membuatkanmu kopi di siang hari, berganti menjadi mbak-mbak ayu nan seksi dengan lirikan mata genit saat malam menjelang. Serangan mbak ayu inilah yang membuat Rp 12.000-mu menjadi tak seberapa.

Saya pribadi lebih senang mampir ke warung Pak Eko di depan gedung PPIP. Bukan karena alasan finansial, saya hanya tidak tahan melihat mbak-mbak bohai yang lipstiknya tak luntur dimakan zaman itu tersenyum malu-malu kerbau tatkala para lelaki menggodanya. Ingin sekali saya melemparnya menggunakan bakwan, biar dia tahu rasanya cemburu. Tentu saja ini bohong. Saya syar'i luar dalam kok. Jadi ndak pernah cemburu. Apa hubungannya? Ndak tahu~

Kopi tahlil dapat disajikan dengan tambahan susu kental manis, untuk kamu yang berjiwa lembut. Bisa juga apa adanya. Tentu saya lebih suka yang kedua. Rasa kopi dan rempahnya lebih kuat, hangat jahenya mengalir lewat tenggorokan dan menjalar ke seluruh tubuh. Membuat semangat. Tapi, Dik, kalau kamu perempuan, jangan sekali-kali pesan kopi tahlil tanpa susu di hadapan laki-laki. Percayalah, itu hanya akan membuatmu tampak lebih garang, dan beberapa laki-laki tidak suka saat kegagahannya dibunuh. Pada beberapa kesempatan, seberapapun inginnya saya minum kopi tahlil hitam, saya lebih memilih memesan yang campur susu, atau air mineral sekalian, untuk menunjukkan kepada laki-laki di hadapan saya: aku tak lebih kuat darimu. Dan dari situ kita bisa merebut hatinya pelan-pelan.

Di warung kopi ini, di mana segala permasalahan dari urusan politik, perang, sampai cerita ranjang diperbincangkan, kita akan mengakhiri obrolan. Semoga lewat kopi tahlil ini, kamu akan lebih mengenal Pekalongan, juga orang-orangnya, terutama saya. :*

Selamat ulang tahun, Pekalongan.
Jum'at, 1 April 2016

1 komentar:

  1. artikel yg informatif mas afi,, kalo boleh tau punya nomer kontaknya kopi tahlil mas eko depan gedung ppip ndak mas ? rencananya saya & rombongan mau menikmati kopi disana takut kehabisan malam minggu ini

    BalasHapus