PEKALONGAN: TOLERANSI UMAT PESISIR

Maret 30, 2016


Nama saya Ra'ufina. Saya lahir di suatu daerah dekat stasiun kota, tinggal dan menetap di sana sampai tulisan ini dibuat dua puluh tiga tahun kemudian.

Kalau suatu hari nanti kamu pergi menumpangi kereta yang melintas di jalur ganda utara, dan pada satu waktu keretamu transit di Stasiun Kota Pekalongan, turunlah. Mampirlah. Akan saya tunjukkan banyak hal tentang kota ini. Salah satunya berupa bukti betapa istriable dan suamiable-nya pemuda-pemudi kota ini. Seperti saya! :v

Pekalongan. Ialah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Kota dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah saling berhimpit yang kadang hanya berbataskan satu lapis tembok. Kamu bisa membayangkan betapa penuh sesaknya perkampungan di sini. Hingga kamu bisa mendengar orang-orang bertengkar, bahkan ketika tetangga sebelah rumahmu mendengkur di kamar-kamar. Mungkin sekali waktu, kamu juga akan mendengar bunyi gaduh diikuti suara seseorang yang mendesah samar-samar, ketika kamu terbangun pada suatu pagi yang terlalu dini. Memaksamu untuk belajar ati-ati, sebab di sini, tak ada tempat yang benar-benar tersembunyi untuk melakukan sesuatu secara sembungi-sembunyi.

Layaknya tipikal manusia yang tinggal di daerah pesisir, masyarakat kota Pekalongan adalah orang-orang yang terbuka. Sebab menurut filosofinya, yang mereka pandangi setiap harinya adalah hamparan laut yang lepas, yang luas bagai tak berbatas, sehingga hati dan pikiran mereka pun menjadi sama luas. Mereka orang-orang yang minim prasangka (tampaknya), sangat welcome, dan pada titik tertentu, kelewat toleran.

Di sini, kita bisa menarik satu simpulan ngawur bahwa sesungguhnya VOC tidaklah pernah menjajah kita, sebab yang terjadi adalah mereka menepi ke daratan Nusantara dan disambut baik oleh masyarakat pesisir. Hahaha ngawur kowe, Up!

Kamu mungkin belum tahu bahwa di sini--di Pekalongan--tidak hanya Jawa yang berkuasa, tapi Tionghoa dan Arab juga. Ketiganya adalah komponen pokok yang membentuk masyarakat. Ada sebuah area yang menjadi titik temu antara garis pemukiman yang satu dengan yang lainnya: Jembatan Kali Loji. Saya sudah pernah menuliskannya di sebuah postingan terpisah. Dari sini, kamu bisa melihat bagaimana Pekalongan berdiri di atas toleransi. Di mana etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa dapat hidup berdampingan dengan mesranya. Di titik ini pula, kamu bebas memandangi kesunyian bangunan gereja kristen di sebelah utara, masjid jami' agak ke timur, gereja katholik yang megah di sisi barat jembatan, dan klentheng bernuansa merah menyala tepat di belakang gereja katholik--sebagai simbol-simbol kerukunan umat beragama. Jangan tanyakan soal aliran-aliran, terlebih lagi dalam islam. Di Pekalongan, sunni dan syiah bukanlah dua raksasa yang perlu diadu domba. Mereka sudah ada dan turut mendewasa bersama waktu. Pun demikian dengan ormasnya. Apakah itu NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Rifa'iyyah, LDII, MTA, HTI, PKS--eh, maksud saya IM, dan lain-lain, termasuk Ahmadiyah, yang konon telah dilabeli "keluar dari Islam", tak peduli seberapa minoritas atau mayoritasnya, ada di sini. Dan mereka mekar pada tangkainya masing-masing tanpa merusak kelopak yang lain.

Kan.. kan.. kelewat toleran kan.
Begitulah~
Dan melihat makin minimnya sikap toleran dalam diri generasi sekarang, rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan: belajarlah pada masyarakat Pekalongan.
Tapi jangan saya. Mbok malah jadi ngawur. :'v

Ditulis menjelang hari jadi Pekalongan, 2016

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe