Banyak wanita hamil menjadi kalap soal makanan ketika usia kehamilannya memasuki minggu-minggu tenang--katakanlah, selepas 16 minggu. Pada fase ini, keluhan-keluhan seperti mual, muntah, pusing, loyo, caper sama suami (*eh), biasanya memang mulai menghilang secara perlahan, sehingga mereka berada pada kondisi tubuh yang nyaman senyaman-nyamannya. Nafsu makan yang sebelumnya tercabut dari ingatan, kini kembali bersemayam. Bahkan, seringkali menjadi tak terkondisikan. Rasa lapar terus-menerus menyerang, sekalipun satu jam sebelumnya sudah tuntas menyantap seporsi besar nasi padang lengkap dengan sayur dan rendang. *Ini curhat 😌

Keadaan tubuh yang mendadak mudah lapar inilah, ditambah kebahagiaaan batin, dan adanya anggapan dalam mayoritas masyarakat kita bahwa pada saat hamil seorang wanita harus menambah porsi makan dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan dia dan janinnya, yang membuat mereka--para wanita hamil--menjadi kalap. Apapun akan dimakannya. Nyam-nyam-nyam tanpa mengenal waktu. Nyam-nyam-nyam sampai tidak sadar berat badan sudah naik ke tingkat maksimal.

Akibatnya, mereka jadi mager pada kehamilan tua, mengalami beberapa kesulitan pada proses persalinan, dan buru-buru melakukan diet ketat padahal masa menyusui belumlah usai. Membuat produksi ASI menurun dan target ASI Eksklusif 6 Bulan pun tidak tercapai. Huhuhu 😔 kasihan bayimu~

Kenaikan berat badan pada kehamilan itu wajar. Bahkan diharuskan. Tetapi bukan berarti tidak memiliki batas normal. Pun harus diimbangi dengan kenaikan TBJ (Taksiran Berat Janin). *Soal TBJ, dibahas lain kali ya~

Secara umum, ambang batas normal kenaikan berat badan pada wanita hamil adalah 11-15 Kg. Akan tetapi, para ahli kebidanan dan kedokteran kandungan menganjurkan agar kenaikan berat badan pada kehamilan disesuaikan dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) sebelum hamil. Cara menghitung IMT adalah BB (dalam satuan Kilogram) dibagi TB (dalam satuan Meter, dikuadratkan).

Contoh ya!
BB saya 57 Kg dengan TB 161 Cm. Maka IMT saya adalah 57 : (hasil kuadrat dari 1,61) = 21,98.

Nah,

Untuk IMT di bawah 18,5 (berat badan di bawah normal), disarankan menaikkan bobot sekitar 12,7 – 18,1 kg.
Untuk IMT 18,5 – 22,9 (berat badan normal--ehem, saya nih!), disarankan menaikkan bobot sekitar 11,3 – 15,9 kg.
Untuk IMT >= 23 (kelebihan berat badan), disarankan menaikkan bobot sekitar 6,8 – 11,3 kg.
Last but no least, untuk IMT > 25 (obesitas), seorang wanita hamil disarankan menaikkan bobot sekitar 5,0 – 9,1 kg.

Clear ya.

Ada banyak sekali wanita hamil yang akumulasi kenaikan berat badannya mencapai 20 Kg. Ada juga yang lebih. Dan itu, sekali lagi, belum tentu baik.

Lalu, bagaimana cara mengontrol nafsu makan berlebih pada saat hamil? (Mengontrol lho ya, bukan menahan. Bagaimanapun, segala yang terjadi pada masa kehamilan adalah anugerah, maka nikmatilah. Tapi jangan lupa, nikmatilah dengan penuh kesadaran 😘)

Yang pertama, bacalah basmalah. Biar makanannya berkah. 😇

Kedua, makanlah bersama suami, bahkan kalau perlu minta disuapi. Ehe, bercanda ding. Maksud saya, makanlah dengan tenang dan dikunyah dengan baik. Wanita hamil dengan kondisi perut mudah lapar, memiliki kecenderungan makan dengan terburu-buru dan proses mengunyah yang berlangsung singkat. Makanan yang masih keras itu pun terpaksa diterima organ pencernaan dengan tangan terbuka. Hal ini dapat mengakibatkan resistensi insulin. Suatu kondisi dimana insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah, menjadi tidak berfungsi. Sehingga gula darah meningkat, dan rasa kenyang datang terlambat. Padahal sudah makan banyak 😌
Belum lagi resiko yang mungkin terjadi pada janin jika gula darah ibunya meningkat. Seperti misalnya, makrosomia (bayi besar), salah satu penyulit dalam proses persalinan.

Ketiga, tepislah anggapan bahwa wanita hamil harus makan dengan porsi dua kali lipat lebih banyak. Itu nilai yang sudah lapuk, Dik. Gizi yang dibutuhkan memang lebih banyak, tapi tidak ngasal. Perbaiki kualitas, bukan semata-mata kuantitas. Bagaimanapun, sepiring nasi uduk, petis tempe kering, telur balado, lengkap dengan ayam goreng sambal lalapan jauh lebih baik daripada tiga porsi indomie goreng yang dimakan jomblo kesepian. Sama halnya dengan; satu suami lebih baik dari ribuan mantan.

***

Dokter kandungan di klinik tempat saya periksa sudah mewanti-wanti sejak awal, "Jangan diet sebelum bayi usia satu tahun, biar kebutuhan bayi akan ASI tidak terdzolimi."

Saya, alih-alih memikirkan bagaimana metode diet pascapersalinan, justru lebih senang untuk mengatur pola gizi dan kenaikan berat badan sejak dini, agar seimbang dengan tumbuh kembang janin serta kelancaran produksi ASI nantinya.

Subhanallah~ sok memotivasi sekali ya saya 😌

Ternate, pertengahan November 2016