Air Ketuban dan Rasa Makanan

Setelah kemarin membahas tentang wanita hamil yang kalap soal makanan (apa saja dimakan asal kenyang), hari ini saya justru ingin mengulas tentang mereka yang pilih-pilih. Mereka yang hanya mau memakan makanan jenis A, tidak mau yang B atau C. Yang hanya doyan daging ayam atau daging sapi, misalnya, tidak selera sama ikan atau seafood lainnya padahal sebelum hamil biasa saja. Yang maunya beli, tidak mau masak sendiri. Yang maunya disuapin suami, kalau suaminya lelah dia ngambek. Ehe. Yang seperti itu.

"Lho, itu kan karena ngidam, Up."

Hsssshhh~ Jangan terbiasa menjadikan ngidam sebagai alasan. Ngidam itu ketika kamu begitu menginginkan sesuatu dan akan terus menuntut itu sampai kamu mendapatkannya. Bukan menyukai satu hal lalu menolak yang lain. Ngidam Rainbow Cake tidak lantas membuatmu membenci Brownies atau Bolu Karamel, Mbakyu. Apalagi sampai ikut-ikutan memboikot Sari Roti padahal sebelumnya itu favoritmu. #eh
Itu bukan ngidam namanya. Itu... Mmmp~ 😌

Tindakan pilih-pilih makanan ini, percaya atau tidak, akan berdampak pada pola makan anak kita nantinya. (Ciyee anak kita 😚) Anak akan cenderung mudah makan ketika--selama hamil--ibunya tidak rewel soal makanan.

Kenapa?

"Selama kehamilan, janin dapat menyerap zat-zat dari lingkungannya. Apa yang dimakan oleh ibu, dalam dosis tertentu, juga diteruskan kepada janin," demikian kata Dr Benoist Schaal dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Vancouver, Kanada, empat tahun silam.

Di dalam kandungan, janin dapat mengetahui rasa makanan yang dimakan ibunya melalui cairan amnion, atau yang sering disebut juga dengan air ketuban. Air ketuban, selain berfungsi sebagai area yang memungkinkan janin bebas bergerak, dan mengatur kestabilan suhu dalam rahim, juga merupakan sarana komunikasi antara ibu dan janin. Air ketuban menyimpan hampir semua informasi yang dibutuhkan--termasuk di dalamnya; aroma dan rasa makanan yang dikonsumsi oleh ibu dalam kadar tertentu. Senyawa dalam air ketuban juga bisa merangsang dan membantu pembentukan sensor di hidung janin.

Pada minggu ke-15, indera perasa dan penciuman janin sudah terbentuk. Itu artinya, dia bisa ikut merasakan dan mencium aroma makanan yang dimakan ibunya lewat air ketuban. Jika dia menyukainya, dia akan menelan lebih banyak, untuk kemudian dikeluarkan lagi melalui ginjal dan saluran uretra. Ingatan janin tentang bau di otaknya juga sudah berkembang. Dalam tahap yang sama, dia menyimpan semua ragam bau itu di dalam otaknya. Ini memungkinkan baginya untuk memilih makanan yang sudah akrab dikenali--sejak dalam kandungan--kelak ketika tiba masanya MP-ASI.

Jadi, jangan salahkan ngana pe bayi jika nantinya dorang susah makan, kalau selama hamil saja ngana rewel nah.

Oh iya, indera penciuman mempengaruhi cara mencicipi makanan secara langsung. Secara umum, ketika janin merasakan makanan yang dikatakan sebagai rasa makanan, sebenarnya yang dirasakan itu adalah bau makanan.

Oke ya, clear ya.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Dengan tetap memperhatikan keseimbangan gizi, cobalah berbagai menu masakan dengan bahan dasar yang berbeda-beda. Sayur, ikan, daging, hati ayam, kerang, tahu, tempe, gandum, coklat, buah, agar-agar, semuanya. Kenalkan sebanyak mungkin rasa dan aroma kepada janin. Buat dia sadar, ada begitu banyak ragam makanan di dunia ini, dengan teknik pengolahan yang berbeda-beda. Sehingga nantinya dia tidak mudah mengklaim bahwa rasa A adalah yang paling enak, maunya yang A saja, sementara ada jutaan rasa lainnya yang belum dia kenal. Kenalkan banyak rasa, agar pengetahuannya tidak sempit layaknya orang-orang yang kurang piknik.

Kenalkan banyak rasa, kecuali beberapa seperti: rasa sakit dihianati.

Ternate, 23 Desember 2016
Sejak saya bisa mengingat, saya memang cenderung lebih dekat kepada Bapak. Beberapa tulisan yang saya posting entah di facebook maupun blog, adalah hasil obrolan kami sehari-hari. Sementara Ibuk jarang sekali mengajak saya bicara, apalagi bercerita tentang hal-hal lucu yang pernah dialaminya. Kalimat-kalimat yang terlontar dari Ibuk seringkali hanya berupa perintah-perintah, atau kalimat tanya tentang letak suatu benda yang tengah dia cari.

Banyak orang bilang, dibandingkan dengan kakak dan adik-adik saya, sayalah yang paling mirip dengan Ibuk. Baik fisik maupun wataknya. Mungkin itu jugalah yang menjadikan kami bagai dua kutub magnet yang sama, yang saling menolak jika didekatkan. Ibuk melihat kekurangan dirinya ada pada saya, dan saya, anaknya yang kurangajar ini, dengan angkuhnya menganggap Ibuk "terlalu begini, terlalu begitu" padahal sejatinya saya sedang menilai diri sendiri.

Hampir tidak ada moment dimana saya dan Ibuk terlihat duduk berdua saja sampai lebih dari lima menit, kecuali salah satu dari kami beranjak lebih dulu. Itu pun hanya duduk, tanpa ada sepatah kata yang keluar. Berbeda ketika ada adik atau kakak saya di sana, yang lebih bisa mencairkan suasana dengan obrolan ngalor-ngidul dan mendapat respon apik dari Ibuk.

Sampai saya lulus kuliah, kecanggungan ini masih terus terpelihara. Bahkan sampai akhirnya saya menikah. Tidak ada petuah-petuah intim antara seorang Ibu dengan anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri. Tidak ada nasehat-nasehat. Tidak ada basa-basi semisal "Apakah kamu gugup?" atau yang lainnya. Ingin rasanya saya bertanya, "Buk, aku harus bagaimana nantinya?" ketika pada satu titik, saya dilanda kebingungan hebat akibat syndrome pranikah. Tapi tidak saya tanyakan. Sebab canggung.

Di hari pernikahan pun, ketika ada prosesi sungkem kepada kedua orang tua, dimana biasanya orang tua akan membisikkan sedikit nasehat atau doa di telinga pengantin, Ibuk tidak melakukannya. Sungguh stay cool sekali Ibuk saya itu.

Tapi semua sikap dingin itu, sikap cuek yang ditampakkannya selama ini, tidak saya lihat pada hari keberangkatan saya ke Ternate. Sepanjang perjalanan sampai di bandara, mata Ibuk sembab. Bapak menyuruh saya mendekati Ibuk (Ya Gusti, mau mendekati Ibuknya sendiri saja kok pake disuruh segala), dan menanyakan keadaannya. Saya manut.

"Ibuk kenapa, Buk?" Tanya saya begitu duduk di samping Ibuk. Sungguh anak yang tidak pandai berbasa-basi.

"Rapopo. Kelilipan." Jawab Ibuk pelan.

"Oh." Saya menanggapi singkat. Padahal saya tahu, semalam Ibuk tidak bisa tidur, dan beberapa hari terakhir Ibuk juga tidak enak badan karena memikirkan anaknya yang mau pergi jauh. Bapak yang mengatakannya pada saya, beberapa saat sebelum dia menyuruh saya mendekati Ibuk.

Satu detik pertama, saya sebal pada Ibuk yang tidak mau jujur bahwa dia kepikiran soal saya. Detik berikutnya, saya yang tidak kuat menahan emosi. Saya memeluk Ibuk. Kemudian menangis.

"Maafin aku ya, Buk. Belum bisa ngasih apa-apa, tapi sudah mau pergi." Saya berbisik sesenggukan.

Tangis Ibuk pun pecah. "Rapopo, rapopo. Sak titahe Gusti Allah. Ibuk ngrestui. Rapopo." Begitu katanya, sambil mengelus lengan saya yang melingkar di bahunya. Sesekali mengusap air mata dengan ujung jilbabnya.

Barangkali itulah kali pertama saya memeluknya dengan sadar. Setelah kemudian kami tidak bertemu lagi hampir lima bulan.


Ternate, 22 Desember 2016