CERITA KEHAMILAN #3 : AIR KETUBAN DAN RASA MAKANAN

Desember 23, 2016

Air Ketuban dan Rasa Makanan

Setelah kemarin membahas tentang wanita hamil yang kalap soal makanan (apa saja dimakan asal kenyang), hari ini saya justru ingin mengulas tentang mereka yang pilih-pilih. Mereka yang hanya mau memakan makanan jenis A, tidak mau yang B atau C. Yang hanya doyan daging ayam atau daging sapi, misalnya, tidak selera sama ikan atau seafood lainnya padahal sebelum hamil biasa saja. Yang maunya beli, tidak mau masak sendiri. Yang maunya disuapin suami, kalau suaminya lelah dia ngambek. Ehe. Yang seperti itu.

"Lho, itu kan karena ngidam, Up."

Hsssshhh~ Jangan terbiasa menjadikan ngidam sebagai alasan. Ngidam itu ketika kamu begitu menginginkan sesuatu dan akan terus menuntut itu sampai kamu mendapatkannya. Bukan menyukai satu hal lalu menolak yang lain. Ngidam Rainbow Cake tidak lantas membuatmu membenci Brownies atau Bolu Karamel, Mbakyu. Apalagi sampai ikut-ikutan memboikot Sari Roti padahal sebelumnya itu favoritmu. #eh
Itu bukan ngidam namanya. Itu... Mmmp~ 😌

Tindakan pilih-pilih makanan ini, percaya atau tidak, akan berdampak pada pola makan anak kita nantinya. (Ciyee anak kita 😚) Anak akan cenderung mudah makan ketika--selama hamil--ibunya tidak rewel soal makanan.

Kenapa?

"Selama kehamilan, janin dapat menyerap zat-zat dari lingkungannya. Apa yang dimakan oleh ibu, dalam dosis tertentu, juga diteruskan kepada janin," demikian kata Dr Benoist Schaal dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Vancouver, Kanada, empat tahun silam.

Di dalam kandungan, janin dapat mengetahui rasa makanan yang dimakan ibunya melalui cairan amnion, atau yang sering disebut juga dengan air ketuban. Air ketuban, selain berfungsi sebagai area yang memungkinkan janin bebas bergerak, dan mengatur kestabilan suhu dalam rahim, juga merupakan sarana komunikasi antara ibu dan janin. Air ketuban menyimpan hampir semua informasi yang dibutuhkan--termasuk di dalamnya; aroma dan rasa makanan yang dikonsumsi oleh ibu dalam kadar tertentu. Senyawa dalam air ketuban juga bisa merangsang dan membantu pembentukan sensor di hidung janin.

Pada minggu ke-15, indera perasa dan penciuman janin sudah terbentuk. Itu artinya, dia bisa ikut merasakan dan mencium aroma makanan yang dimakan ibunya lewat air ketuban. Jika dia menyukainya, dia akan menelan lebih banyak, untuk kemudian dikeluarkan lagi melalui ginjal dan saluran uretra. Ingatan janin tentang bau di otaknya juga sudah berkembang. Dalam tahap yang sama, dia menyimpan semua ragam bau itu di dalam otaknya. Ini memungkinkan baginya untuk memilih makanan yang sudah akrab dikenali--sejak dalam kandungan--kelak ketika tiba masanya MP-ASI.

Jadi, jangan salahkan ngana pe bayi jika nantinya dorang susah makan, kalau selama hamil saja ngana rewel nah.

Oh iya, indera penciuman mempengaruhi cara mencicipi makanan secara langsung. Secara umum, ketika janin merasakan makanan yang dikatakan sebagai rasa makanan, sebenarnya yang dirasakan itu adalah bau makanan.

Oke ya, clear ya.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Dengan tetap memperhatikan keseimbangan gizi, cobalah berbagai menu masakan dengan bahan dasar yang berbeda-beda. Sayur, ikan, daging, hati ayam, kerang, tahu, tempe, gandum, coklat, buah, agar-agar, semuanya. Kenalkan sebanyak mungkin rasa dan aroma kepada janin. Buat dia sadar, ada begitu banyak ragam makanan di dunia ini, dengan teknik pengolahan yang berbeda-beda. Sehingga nantinya dia tidak mudah mengklaim bahwa rasa A adalah yang paling enak, maunya yang A saja, sementara ada jutaan rasa lainnya yang belum dia kenal. Kenalkan banyak rasa, agar pengetahuannya tidak sempit layaknya orang-orang yang kurang piknik.

Kenalkan banyak rasa, kecuali beberapa seperti: rasa sakit dihianati.

Ternate, 23 Desember 2016

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe