TERNATE PUNYA CERITA #1 (TAMU)

September 23, 2016


Kalau ada yang mengatakan bahwa membuka pintu rumah lebar-lebar pada pagi hari akan membawa kelancaran rezeki bagi penghuninya, barangkali itu tidak berlaku di sini.

Membukakan pintu untuk melepas kepergian suami menuju tempatnya bekerja sudah pasti mendatangkan rezeki. Tetapi kalau pintu itu dibiarkan terbuka seterusnya, maka akan kamu dapati tamu-tamu tak diundang yang alih-alih membawa rezeki, justru meminta sedikit bagian darimu.

Kemarin, menjelang siang saat saya tengah asyik berendam bersama cucian, seseorang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. Saya kaget bukan main. Mungkin saya lupa menutup pintu, mungkin juga tamu itu yang terlampau percaya diri untuk masuk tanpa permisi. Saya segera bangkit dari rendaman, melongok keluar, dan mendapati bocah laki-laki sekitar sebelas tahun, agak lusuh, datang menenteng map merah muda berisi kertas-kertas.

"Kamu kok masuk tanpa permisi sih?" Itulah kalimat pertama yang saya ucapkan setelah menjawab salam. Benar-benar tuan rumah yang ramah, bukan? 😌

"Maaf kaka, pintunya terbuka sedikik, saya..."

Bocah itu tidak melanjutkannya, sebab saya telah lebih dulu memotong kalimatnya dengan sebuah pertanyaan singkat, "Ada apa?"

"Begini kaka, saya mau minta dana."

"Dana?" Saya mengernyitkan dahi. "Dana buat apa?"

Dan jawabannya kemudian membuat saya termangu.

"Balapan, kaka."

Di saat para mainstream peminta-minta di ibu kota mengatasnamakan pembangunan masjid atau pondok pesantren tertentu sebagai kedok mereka dalam menjalankan rutinitasnya, bocah laki-laki di depan saya ini dengan sangat terbuka justru mengatakan ingin meminta dana untuk balapan. Jujur sekali kamu, Dik.

Tapi sayang, saya tidak memandang aktivitas balapannya itu sebagai sesuatu yang bermanfaat. Andaikan, andaikan saja, dia datang dengan permohonan bantuan dana untuk mendirikan sebuah taman baca, misalnya, atau untuk pengadaan obat di balai pengobatan setempat, mungkin saya akan memberikan beberapa lembar rupiah saat itu juga. Sekalipun saya belum meminta izin kepada suami. Tapi, sayang. Amat disayangkan, saya bukan penggemar balapan. Kecuali, balapan memenangkan hati perempuan. Dan lagi-lagi sangat disayangkan, karena hati saya sudah dimenangkan seseorang. Iki jan suwe-suwe ragenah.

Hari berganti...
Tadi pagi, sekitar pukul sembilan Waktu Indonesia begian Ternate, kembali ketika saya tengah khusyuk mencumbui cucian, terdengar seseorang mengucapkan salam di depan rumah. Saya menjawabnya dengan penuh penyesalan karena lupa menutup pintu (lagi-lagi).

Tamu saya hari ini adalah seorang wanita paruh baya--tidak saya sebut sebagai nenek-nenek karena saya tidak tahu apakah dia punya cucu atau tidak--yang berpakaian baik. Saya belum mengatakan apa-apa ketika tiba-tiba dia melepas sandal jepitnya dan naik ke lantai teras rumah. Menciptakan becek coklat yang kotor sebab pagi ini hujan turun agak deras.

Saya akan maklum, jika alasannya naik ke teras tanpa saya persilakan adalah untuk berteduh. Tapi dia datang di saat hujan telah reda, dan langit mulai menampakkan cerahnya. Hujan yang turun sedari pagi hanya menyisakan basah di aspal-aspal jalanan. Tidak lebih. Maka untuk alasan apakah wanita itu merapat ke pintu rumah saya? Itu yang jadi pe-er bersama.

Dia terdengar mengucapkan sesuatu dengan cepat, menggunakan bahasa lokal yang saya tidak tahu apa maksudnya. Saya hanya mendengar satu kata yang saya mengerti: "sapu".

"Sapu?" Saya mengulangi satu kata itu.

Saya pikir, wanita ini datang untuk menawarkan sapu. Tapi saya tidak melihat apapun dari barang bawaanya yang bisa disebut sapu, kecuali tas jinjing berwarna coklat muda yang cukup pantas dibawa ke kondangan mantan.

"Boleh?" Tanyanya. Dan saya masih tidak mengerti mengapa dia bertanya seperti itu.

Seperti membaca raut kebingungan dalam air muka saya, wanita itu mengulangi kembali kalimatnya tentang sapu. Kali ini dengan kata-kata yang lebih mudah dicerna telinga. Dan saya pun mengerti. Dia menawarkan dirinya untuk menyapu pelataran rumah (sepetak tanah terbuka di luar teras yang terdiri dari susunan batako-batako merah selebar dua meter) dengan imbalan uang sepuluh ribu.

Belum pernah saya temui yang model begini di kampung halaman saya. Dan saya takjub.

Tapi lagi-lagi, saya tidak melihat adanya kotoran atau sampah-sampah remeh di pelataran rumah. Jadi saya tidak memandang perlu untuk menerima jasa menyapu. Yang ada hanya basah. Basah. Ingin rasanya saya menawarkan pilihan kepada wanita itu untuk mengeringkannya saja, karena basah, tapi tentu itu humor yang buruk sekali.

Jadi, saya diam saja.

Ini semua terjadi, tak lain dan tak bukan karena kebiasaan saya membiarkan pintu rumah terbuka sepanjang hari. Bukan berarti hal ini tidak baik. Hanya saja di sini, ada banyak tamu yang kelewat menakjubkan untuk ditemui setiap harinya. Dan kamu tahu, menjumpai tamu asing itu tidak selalu mengasyikkan, terutama saat kamu sedang hamil muda. 😌

Sekarang saya tahu, kenapa pintu-pintu di rumah penduduk lokal itu senantiasa tertutup.

Perkara saya jadi memberikan uang sepuluh ribu kepada wanita itu atau tidak, tidak perlu saya ceritakan. Kalau saya mengatakan "iya" nanti terkesan riya', kalau "tidak" pasti terkesan pelit.

Begitulah hidup. Dipenuhi kesan-kesan.

Ternate, 23 September 2016

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe