TERNATE PUNYA CERITA #2 (PUCUK MERAH)

Pucuk Merah dan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Tua

Beberapa hari setelah menginjakkan kaki di tanah timur, kami menyempatkan diri mampir ke salah satu lapak penjual tanaman di pinggiran jalan yang saya lupa namanya. (Nanti saya tanyakan ke suami saya deh ya! 😉) Kami membeli beberapa jenis. Salah satunya adalah tanaman pucuk merah.

Suami saya sudah naksir pada tanaman ini sejak kami melihatnya di sepanjang perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Di lereng-lereng bukit dekat pemukiman, pucuk merah tumbuh menjulang menjadi pohon yang rindang dan indah dipandang. Kombinasi warna hijau yang lebat dengan sedikit sentuhan merah di bagian pucuk, serta coklat tua pada batang dan rantingnya, membuat tanaman ini tampak eksotis, dan membawa penikmatnya pada baur suasana musim semi. Jika Jepang punya sakura, saya kira bolehlah Indonesia mengklaim pucuk merah sebagai salah satu ikonnya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari ibu penjual, pucuk merah merupakan tanaman yang tidak memerlukan perawatan khusus, apalagi perhatian berlebih seperti kamu (eh). Cukup diletakkan di tempat yang terkena panas mentari dan disirami setiap pagi/sore hari. Sudah. Selebihnya, mungkin perlu dilakukan pemangkasan daun yang sudah mati secara berkala, minimal 2 minggu sekali. Itu saja.

"Tidak merepotkan." Kata si ibu.

Saya menoleh ke suami, lalu berkata lirih sambil tersenyum manis, "Kayak aku ya, Mas."

Mendengar itu, suami saya membentuk bibirnya sedemikian rupa, lalu menimbulkan bunyi seperti kentut dari sana. Seolah dengan ekspresi begitu, dia sedang mengucapkan, "Pret!"

Oke, fine~ 😪

Kami pulang dengan pucuk merah dalam gendongan.

Dua minggu berlalu. Pucuk merah kami tumbuh dengan lebatnya, bak seorang gadis yang sedang mekar. Tunas-tunas baru yang berwarna merah selalu tumbuh di ujung-ujung ranting, membesar, dan perlahan berubah warna menjadi hijau muda, lalu hijau tua, untuk kemudian menua dan mati. Ketika itulah daun yang sudah mati perlu dipangkas, agar bekas pangkasnya menjadi tempat bagi tunas-tunas baru untuk tumbuh. Lalu membesar lagi, dan mati.

Begitulah siklus hidup pucuk merah, Dik.

Begitu pulalah siklus hidup manusia. Yang pergi akan terganti. Meski tidak selalu sama. Meski kamu--mungkin--butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatinya sebagai pengganti yang lebih sempurna. Tidak apa-apa, semua butuh waktu. Iki opo?

Kami menikmati setiap detik pertumbuhan si pucuk merah. Layaknya sepasang orang tua yang menyaksikan perkembangan anaknya. Setiap pagi dan sore, kami menyempatkan ngobrol di teras rumah sembari memerhatikan pucuk merah yang terkadang menari-nari diterpa angin.

Sampai suatu ketika, di sore yang cukup cerah, setelah terbangun dari tidur siang yang menyenangkan, saya mendapati pucuk merah kami rusak entah oleh apa. Banyak daunnya menghilang, dan beberapa di antaranya "krowak" seperti dipetik paksa atau dimakan binatang secara terburu-buru, sehingga patah dengan tidak sempurna.

Saya sedih bukan main. Begitu pun suami saya.

Dan kesedihan kami bertambah ketika beberapa minggu setelahnya, saat daun-daun pucuk merah mulai bangkit dari keterpurukan, mulai move on, dan tumbuh lebat sebagaimana sebelumnya, sesuatu kembali menyerangnya. Kali ini lebih parah. Yang tersisa hanya beberapa helai daun, dengan "krowak" di sana-sini, juga kulit batang yang mengelupas di banyak sisi. Dia jadi lebih mirip tanaman gundul menjelang tandus, daripada pucuk merah yang kami beli dua bulan lalu.

Kami ngomel-ngomel.

Meski tak bisa disamakan dengan merawat anak, tapi kami sepakat bahwa merawat tanaman bisa sedikit merefleksikan itu. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran, ketelatenan, rasa memiliki, dan curahan kasih sayang yang tulus. Sehingga kami belajar.

Dengan kejadian ini, dengan rusaknya pucuk merah kesayangan kami, saya jadi tahu, bagaimana marahnya-sedihnya-kecewanya-hancurnya menjadi ibu dari anak gadis yang kamu sakiti berkali-kali. Atau dari anak laki yang kamu PHP-in tanpa henti.

Jadi plis, ojo maneh-maneh "dolanan" anake wong! :3

Ternate, 17 Oktober 2016

0 comments:

Posting Komentar