Selain kehamilan yang sehat dan proses persalinan yang lancar, berlimpahnya produksi ASI juga menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi seorang ibu, terutama ibu baru (seperti kita, Mbakyu! 😘) Keberhasilan mengantar si buah hati menuju periode emas perkembangan otaknya dengan nutrisi terbaik (ASI), tentu menjadi mimpi bagi semua ibu. Namun sayang, tidak semua ibu dapat mewujudkan mimpi itu.

Beberapa kendala seperti jumlah produksi yang minim, tersumbatnya saluran ASI, atau bentuk puting yang mendelep membuat kepercayaan diri seorang ibu berkurang, lalu berakhir dengan enggannya ia untuk menyusui sang bayi. Duh, duh, duh.. padahal ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sepanjang masa, dan aktivitas direct breastfeeding (menyusui secara langsung) adalah bonding (proses membangun ikatan) paling efektif bagi ibu dan bayinya.

Sayang sekali kan kalau kita melewatkan masa menyusui ini dengan menyerahkan sepenuhnya pada tangan-tangan produsen susu formula?

Nah, salah satu yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan kelancaran produksi ASI adalah dengan melakukan perawatan payudara selama hamil. Ini yang masih saya telateni~

Banyak ibu hamil mengabaikan perawatan payudara ini. Bisa jadi lantaran malas atau karena belum mengetahui manfaatnya. Padahal jika dilakukan dengan benar dan teratur, selain dapat memperlancar produksi ASI nantinya, juga dapat menjaga bentuk payudara tetap bagus saat menyusui. Uwuwuwu.. mau kan mau kan? 😍

Perawatan payudara bisa dilakukan setelah usia kehamilan 7 bulan (kalau saya baru mulai ketika mendekati 9 bulan, karena malas wkwk). Sebelum itu, sebaiknya jangan ya Mbakyu. Karena dapat merangsang kontraksi rahim, dan itu tidak baik untuk kehamilan awal.

Berikut macam-macam dari perawatan payudara yang bisa dilakukan sendiri di rumah.

1. Pemijatan

Lakukan saat mandi, biar gampang. Syukur-syukur bersama suami, biar makin menyenangkan. 🙈

Siapkan di waskom air hangat dan air dingin, waslap/handuk kecil, minyak kelapa (saya pakai baby oil), dan kapas.

Pastikan tanganmu bersih. Olesi telapak tangan dengan baby oil, lalu mulailah pemijatan dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas masing-masing payudara (tangan kanan pada payudara kanan, dan tangan kiri pada payudara kiri). Pijat ke arah samping luar, lalu ke bawah, kemudian hentakkan badan payudara ke arah atas. Ulangi antara 20-30 kali. Gerakan ini bertujuan untuk melemaskan otot-otot dan menjaga elastisitas payudara.

Gunakan tangan kirimu untuk menyangga payudara sebelah kiri. Lalu gunakan buku-buku jari tangan kanan yang mengepal untuk memijat. Mulailah pijatan dari lingkaran luar payudara ke arah puting, seperti gerakan menyisir. Tapi jangan sentuh putingnya. Lakukan gerakan ini 20-30 kali, untuk membantu melancarkan saluran ASI menuju areola (lingkaran hitam di sekitar puting) dan puting.

Usai memijat badan payudara, kini saatnya merawat puting. Bersihkan puting dan areola menggunakan kapas yang sudah dibasahi baby oil untuk menghilangkan kerak-kerak dan kotoran yang menempel di atasnya. Terjadinya sumbatan ASI seringkali berawal dari malasnya ibu membersihkan puting dan areola.

Untuk bentuk puting mendelep, kamu bisa mengeluarkannya dengan tarikan pelan-pelan. Atau minta bantuan suami untuk menyedotnya menggunakan mulut saat foreplay menjelang berhubungan seksual. Selain sebagai aktivitas rutin di tempat tidur, cara ini cukup efektif untuk menonjolkan puting yang mendelep. Tapi yang perlu kita ketahui bersama adalah; muara ASI yang sesungguhnya bukanlah pada puting, melainkan areola. Jadi, jangan pernah takut tidak dapat menyusui karena putingnya mendelep, karena ASI justru keluar banyak melalui areola.

Terakhir, kompreslah payudaramu menggunakan waslap/handuk air hangat, kemudian ganti dengan air dingin. Tujuannya untuk memperlancar sirkulasi darah dalam payudara.

2. Senam

Selain pemijatan, perawatan payudara juga dilakukan dengan senam untuk memperkuat otot-otot, sehingga payudara menjadi lebih padat dan produksi ASI meningkat.

Caranya:
Berdirilah di depan cermin. Selain untuk mempermudah kita melihat setiap gerakan, kita juga bisa sekalian narsis :v

Tangan kanan memegang bagian bawah lengan kiri dekat siku, dan sebaliknya tangan kiri memegang bagian bawah tangan kanan dekat siku (seperti bersedekap). Kemudian tekan kuat-kuat ke arah dada dengan mempererat pegangan, lalu lemaskan kembali. Lakukan masing-masing selama 5 detik, dan diulang sampai 30 kali gerakan.

Setelah itu, pegang bahu dengan kedua tangan (tangan kiri memegang bahu kiri, tangan kanan memegang bahu kanan), kemudian siku diputar ke depan sehingga lengan bagian dalam memijat payudara ke arah atas. Lakukan 20-30 kali putaran.

3. Memakai bra yang pas

Pakailah bra yang sesuai dengan ukuran payudaramu selama hamil. Sebab selama hamil, payudara kita mengalami pembesaran volume. Bra yang terlalu sempit hanya akan menghambat perkembangan kelenjar payudara, sedangkan bra yang terlalu longgar akan membuat payudaramu tampak jatuh tidak nyaman, dan lama-kelamaan menjadi kendur. Heuheu ga mau kan?

Oh iya, karena tubuh ibu hamil cenderung mudah berkeringat, dan area payudara sering terasa gatal, pilihlah bra yang terbuat dari bahan katun atau kaos, sehingga nyaman dipakai dan menyerap keringat. Pilih juga tali pengikat yang lebar agar dapat menyangga payudara dengan baik.

***

Selain perawatan payudara yang meliputi 3 praktik di atas, ada satu hal lagi yang perlu kita pahami baik-baik, Mbakyu. Yaitu: berpikirlah positif!

Kekhawatiran tentang gagalnya kita dalam memberikan ASI Eksklusif pastilah ada, tapi jangan sampai itu menjadi suatu ketakutan yang mengendap sehingga membuat pikiran kita menjadi negatif. Pikiran-pikiran yang negatif hanya akan menghambat hipotalamus dalam memproduksi hormon oksitosin, yang berfungsi mengalirkan ASI.

Jadi, Mbakyu.. be positive thinking ya. Semoga nantinya kita bisa sama-sama menikmati masa menyusui dengan ASI yang berlimpah-ruah-barokah. Hehe, aamiiinn.

Saya kira, jawaban dari mengapa pernikahan bukan tindakan main-main adalah karena tidak mudahnya menyatukan dua pribadi dari dua lingkungan yang berbeda, ke dalam satu bejana kehidupan yang sama; saya dengan didikan dari keluarga saya yang seperti ini, dan dia dengan didikan keluarganya yang seperti itu, disatukan dalam sebuah komitmen besar untuk bersama membangun balok-balok rumah tangga dengan segala problematika di dalamnya. Tentu itu bukan hal yang mudah. Perbedaan cara pandang, isi kepala, tingginya ego, dan dua kemauan yang berselisih menjadi dasar permasalahan sehari-hari. Perkara-perkara seperti balok bagian mana yang akan lebih dulu disusun, bagaimana konsep susunannya, dan lain sebagainya, sedikit banyak menimbulkan pesilangan pendapat dan berujung pada masalah.

Beruntung, saya mendapatkan suami yang demikian baik. Sikapnya yang santai, senang bercanda, dan jauh dari kata pemarah, serta caranya menyingkirkan pilihan-pilihan rumit dalam mengambil keputusan; membuat saya mudah menyesuaikan diri, dan enteng saja menjalani hari-hari bersamanya.
Banyak pasangan di luar sana membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal, sebelum memantapkan diri menuju jenjang pernikahan. Tapi kami tidak. Hanya butuh tiga kali bertatap muka dan dua bulan perkenalan, kami mantap melangkah.

Saya ingat betul satu statement-nya yang kemudian membuat saya yakin bahwa dia memang orang yang tepat. Ketika dulu dia mengutarakan niatnya untuk menemui orang tua saya, saya sempat bertanya, "Apa tidak ingin kenalan lebih dulu?"

Dia menjawab, "Kayaknya ga perlu sih. Buat apa. Mau bagaimanapun pasti akan ada sikap yang membuat kecewa atau kurang cocok. Tapi ya memang seperti itulah dinamika kehidupan. Aku harus menerima, dan kamu harus menerima."
Cukup.

*

Hari ini, tepat sembilan bulan kami melangsungkan pernikahan, dan sembilan bulan saya menjalani kehamilan. Dalam hitungan minggu, atau bahkan dalam hitungan hari ke depan, akan hadir manusia baru yang menjadi bukti cinta kami sekaligus hadiah dari Tuhan.
Tanggung jawab bertambah. Akan ada banyak hal berubah. Tapi semoga, cinta kami tidak.
Klise ya. Cinta memang alasan yang klise. Tapi ketika segala materi dan kenikmatan duniawi dicabut dari badan, ketika prinsip-prinsip menjadi ujian, apa lagi yang membuat seseorang bertahan di sampingmu sampai tua kalau bukan cinta?

Pekalongan, 11 April 2017
Banyak orang menjadi parno dan gampang antipati terhadap sesuatu (baik yang bersifat modern maupun konvensional) ketika ia--atau ada seseorang dalam keluarganya--hamil dan melahirkan.

Seperti misalnya; pemakaian stagen pada masa nifas. Pemakaian stagen, yang oleh orang Pekalongan dikenal dengan istilah bengkingan, menurut ilmu modern dianggap dapat menghambat proses involusi uterus, atau proses berkontraksinya rahim untuk kembali ke ukuran semula. Wew! Bahaya, ndak? Ya bahaya.

Tapiiiiii.. ada tapinya. Tapi, hanya ketika stagen itu dililitkan terlalu kencang pada area perut atas sampai pinggang. Kalau digunakan untuk sekedar memberikan rasa nyaman pada perut ibu karena perubahan bentuk fisik (alias untuk menopang perut yang kendur setelah lahirnya bayi), lha yo ndak papa.

Sama halnya dengan apa yang saya alami tempo hari. Salah seorang tetangga menegur saya, ketika mereka melihat wanita anggun bernama Ra'ufina ini melintas di depan rumahnya. 😌

"Mbak, hamil tua kok masih pakai kaos? Pakai celana pula. Ndak kasihan sama bayinya?"

Saya hanya tersenyum. Senyum yang manis tentu saja. Karena memang saya orangnya manis. Oke, lupakan.

Tetangga saya itu tidak salah. Sebab memang pada umumnya, ibu hamil lebih senang memakai daster atau piyama ketika kandungannya makin membesar. Tapi pilihan mereka terhadap daster dan piyama pun memiliki alasan yang cukup logis:

Pertama, karena pada dasarnya wanita hamil itu mudah sekali merasa gerah, kepanasan, lalu berkeringat. Sehingga mereka butuh pakaian dari jenis kain yang adem dan menyerap keringat. Apa yang paling tepat? Yo pasti daster/piyama. Apalagi daster yang tanpa lengan. Wuuuuu semriwing~ *pasang emot kipas angin

Kedua, kebanyakan wanita hamil pasti merasakan gatal di area perut, entah karena faktor hormonal atau karena melebarnya jaringan di lapisan bawah kulit seiring dengan membesarnya ukuran rahim. Penggunaan celana yang ketat, atau pakaian yang kainnya kasar hanya akan memperparah keadaan itu. Endingnya, mereka benar-benar lari dari kaos-celana dan jatuh ke pelukan daster/piyama.

Nah, masalahnya, apa harus sedemikian saklek?

Ketika kaosmu memenuhi kriteria sebagai pakaian yang nyaman; kainnya adem, lembut, menyerap keringat, dengan ukuran cukup longgar menyesuaikan bentuk tubuh yang makin melebar, ditambah kamu bisa tetap tampil rapi untuk menyenangkan pandangan suami, kenapa enggak?

Ilmu kesehatan itu berkembang, tapi hanya mengarah pada yang ideal. Kebenaran dan kebaikan tentangnya selalu dikembalikan pada masing-masing pribadi yang menjalani.

Wuuush~ quote of the day! :v

Daaaaan.. dua orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun hari ini adalah dua laki-laki yang paling saya sayangi. Ialah suami saya dan Bapak.

Terima kasih kalian.
Selangkah lagi, akan bergabung bersama kalian satu lagi laki-laki yang menjadi kesayangan.

Semoga kalian bertiga senantiasa sehat, berlimpah barokah, dan diridloi Gusti Allah.