Meski tidak selalu harmonis, kami termasuk pasangan yang jarang ribut. Dan kami memang tidak suka ribut. Tapi ada kalanya miskomunikasi itu muncul, sehingga memicu kesalahpahaman yang berujung saling diam-mendiamkan. Saya lah yang lebih sering memulainya duluan. Kebiasaan buruk (sebagian) wanita yang lebih suka "mengode" alih-alih mengatakan langsung apa yang diinginkannya, membuat saya (sebagai bagian dari populasi wanita yang suka ngode itu hiks) sering nesu-nesu gak jelas. Ditanya maunya apa, gak njawab. Ditawari bantuan, tetap diam. Giliran didiamkan, malah ngambek. Begitulah. Saya sendiri bingung kenapa bisa seperti itu.
Suami saya sangat santai menghadapi tingkah laku saya yang semacam itu. Sehingga dengan sendirinya suasana di rumah kami bisa kembali cair tanpa perlu ada yang marah-marah atau menyesal.

Dia juga santai menghadapi saya yang super ceroboh dan pelupa. Benda apapun yang saya pegang akan jatuh. Pasti. Terutama ketika sedang beberes dapur. Bunyi klentang-klentang cangkir stainless atau panci yang terpelanting mencium lantai sudah sangat akrab di telinga. Itu bagian cerobohnya. Bagian pelupanya, apa yang seharusnya dibawa seringkali ketinggalan, dan apa yang sudah dibawa tidak kembali pulang. Parah ya? Iya memang.


Yang paling saya ingat adalah ketika suami saya baru saja membeli hape baru. Hapenya dia masukkan ke saku, dan box-nya, yang berisi booklet panduan, kartu garansi, lengkap dengan charger dan earphone, diserahkan pada saya untuk dipegang saat kami naik motor menuju pembelian simcard. Pulang dari konter, beberapa meter saja sebelum sampai rumah, saya baru ingat kalau box-nya ketinggalan di konter. Untung ga sekalian hapenya. :3

Suami saya pun langsung putar balik, dan syukurlah box-nya masih utuh. Bahkan mas-mas penjualnya ga ngeh kalo ada box ketinggalan di situ.

Dan setelah semua itu, suami saya cuma bergumam, "Kowe kok biso lalinan ngunu ki piye, Nduk?"
Pernah juga saat naik Go-Car dalam perjalanan menuju Bandara Sam Ratulangi Manado, saya ketiduran sambil nyusui Asqi. Lalu begitu sampai bandara, saya langsung bangun dan keluar mobil tanpa mengecek saku rok. Hape saya terjatuh di jok. Dan saya baru menyadari ketika kami sudah masuk ke lobi bandara. Suami sayalah yang gerak cepat menghubungi sopir Go-Carnya dan mengambil kembali hape saya yang terjatuh di jok itu. Untung mobilnya belum jauh, dan sopirnya jujur mau mengantarkan kembali hape saya.

Lalu, seperti sebelum-sebelumnya, suami saya hanya bilang, "Nduk, Nduk, kok biso ceroboh ngunu ki piye kowe?"

Heuheu. Maaf ya.

Kami berdua bagaikan bumi dan langit. Saya buminya. Yang ceroboh, pelupa, tempat orang-orang membuang ludah. Dan dia langitnya. Teliti, berhati luas, tempat orang-orang menggantungkan asa.
Hanya Tuhanlah yang tahu betapa tak henti-hentinya saya bersyukur diberi suami sebaik dia. Semoga makin hari saya dapat mengimbangi kebaikannya.

Selamat ulang tahun, Ophand Albana. Selamat Hari Ayah Nasional. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Dan tetaplah seperti itu.

Ternate, 13 November 2017.
Diketik dengan rindu, antara Weda dan Koloncucu.
Saya sering dibuat terharu oleh usahanya menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil lewat hal-hal yang saya suka.

Awal-awal kami menikah, dia sering bertanya tentang apa yang saya suka. Entah itu hobi atau makanan. Apapun. Tapi saya terlanjur tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengutarakan apa yang saya sukai. Bahkan terkadang saya sama sekali tidak tahu apa yang sedang saya suka, apa yang saya ingin, dan apa yang saya butuh. Suami saya menyadari itu. Dan dia belajar.

Hari-hari terlewati, dia menyadari bahwa istrinya begitu menyukai cokelat. Sejak itu dia rajin membawakan cokelat sepulang kerja, baik dalam bentuk minuman maupun cemilan. Ketika pada kesempatan berikutnya dia tahu bahwa istrinya menyukai pempek, dia tak segan-segan untuk mampir ke penjual pempek sekalipun itu jauh dan dia telah lelah bekerja seharian.
Kejadian semacam itu terus berulang. Dia menawarkan pada saya beberapa alat gambar; membelikan buku-buku; mengajak ke tempat-tempat baru; mencoba berbagai menu makanan yang belum pernah saya rasakan, lalu rutin bertanya, "Doyan?" atau "Suka?"; untuk melihat respon saya dan menilai apa yang sebenarnya saya suka.

Selalu begitu. Dan dia tak pernah lelah untuk bertanya apa keinginan saya dalam setiap aktivitas yang akan kami lakukan, seperti mau nonton film apa, mendengarkan lagu apa, pergi ke mana, dan banyak lagi yang lainnya.

Saya belajar mengenal diri sendiri justru dari dia yang awalnya tidak mengenal saya.

***

Terima kasih ya. Sehatlah selalu. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkahmu, memberkahi rizqimu, melimpahkan nikmat dan keselamatan dunia-akhirat. Dan semoga aku beruntung untuk membersamaimu (dan anak-anak kita) di surga nanti. ❤

Selamat ulang tahun. Selamat Hari Ayah. Semoga ide-idemu dapat terus dikaryakan, dan apa yang menjadi angan dapat terwujud. Kami akan mendampingimu sampai batas yang Allah izinkan.

Ternate, 12 November 2017.
Dengan cinta,
Ibu, Arslan, dan adik-adiknya kelak.