Ada yang bilang, ketika kita akan pindah ke tempat baru, pandangan kita terhadap orang-orang yang akan kita temui nanti sangat bergantung pada bagaimana kita memandang orang-orang yang kita tinggalkan di tempat lama. Itu bukan berarti karakter dan tingkah laku orang-orang di tempat sebelumnya akan selalu senada dengan yang akan kita temui di tempat baru. Bukan tentang orang-orang itu. Justru semuanya berpusat di dalam diri kita, di hati dan pikiran kita, sebagai pelaku utama. Sudut pandang yang kita ambillah yang akan menentukan bagaimana orang-orang itu di mata kita. Dan bagaimana orang-orang itu kepada kita.

***

Dulu suami saya pernah mengatakan bahwa Jakarta bukan tempat yang baik untuk memulai sebuah keluarga, terlebih untuk membesarkan anak. Lingkungan, pergaulan, cara pandang, terlalu banyak hal yang jauh dari ideal, katanya. Lalu saya mulai berpikir, mungkin Jakarta memang seburuk itu. Sejak kecil saya banyak mendengar cerita tentang orang-orang yang merantau ke sana tapi tak juga kaya. Sebab katanya Jakarta itu keras. Bengis. Tak kenal belas kasih pada orang-orang kecil yang ingin numpang mengais rejeki. Sering pula televisi di rumah kami menampilkan berita kriminal yang terjadi di ibu kota. Juga tentang betapa kentalnya individualisme di sana. Belum lagi perang politik antar-pejabat negeri yang tak juga saya pahami. Sampai kemudian muncul ungkapan, "Ibu kota itu lebih kejam daripada ibu tiri."

Ya, mungkin Jakarta memang semengerikan itu.

Dengan sendirinya saya memilih untuk tidak mendoakan suami pindah kerja ke Jakarta. Jangan. Jangan sampai kami pindah ke sana. Tapi kenyataan berkata lain. SK mutasi datang dan dari ratusan kota yang ada, Jakartalah yang tertulis di dalamnya. Ada rasa cemas dan ketakutan tak terdefinisi yang hinggap dalam benak saya. Saya rasa, saya tidak siap.

***

Kedatangan kami ke Jakarta disambut oleh teriakan caci maki dari mulut ibu-ibu yang bertengkar entah karena apa. Saling sahut dengan suara sangat lantang dan kalimat-kalimat kasar. Tepat di depan rumah kontrakan yang baru saja kami tinggali. Saya buru-buru menutup pintu pagar, lalu membatin, beginikah Jakarta, Ya Tuhan?

Satu minggu berselang. Dua minggu. Lalu sebulan. Dengan makin banyaknya tempat yang kami kunjungi, makin banyaknya orang yang kami temui, saya menyadari sesuatu: Jakarta tidak seburuk yang saya kira sebelumnya. Kamu tahu, Jakarta tidak semengerikan itu.

Jakarta adalah definisi dari banyak cerita. Tentang kejahatan. Kebaikan. Kekerasan. Keramah-tamahan. Konflik. Keharmonisan. Depresi. Romantisme. Kesibukan. Rasa tenggang. Gotong royong. Kesuksesan. Miskin. Kejam. Kehangatan. Dia adalah tempat orang-orang membuang kotoran, sekaligus menjadi tanah dimana mereka meletakkan jangkar-jangkar harapan agar mimpinya tidak hilang tergerus arus. Jakarta menjadi tempat bernaung para bandit, sekaligus menjadi gubuk bagi manusia-manusia berhati lembut yang membagi kehangatannya lewat senyum tiap kali bertemu tatap. Jakarta itu kumuh, tapi juga mewah. Jakarta adalah dua sudut pandang berbeda bagi dua orang yang memiliki kesenjangan tingkat ekonomi. Kamu mungkin akan mendapat jawaban yang saling bertolak belakang saat bertanya tentang Jakarta pada orang-orang yang punya segudang ambisi, lalu pada mereka yang tidak. Jakarta akan selalu menyimpan kisah, entah pedih entah bahagia, milik raga-raga yang pernah bersandar padanya.


Terlepas dari sisi hitam yang banyak orang yakini tentang Jakarta, saya bersyukur berada di sini. Tinggal di kota yang menjadi pusat berkumpulnya ide-ide, dialog, orang-orang “sukses” dari berbagai penjuru. Kota yang menjadi saksi menjamurnya aktivitas berkarya dari banyak bidang. Ada banyak peluang. Ada banyak kelas-kelas ilmu tanpa bangunan, yang leluasa kamu masuki dengan bekal niat baik di hati. Ada banyak sekali hal bagus yang tersebar di sudut-sudut kota ini. Kekhawatiran awal tentang pengasuhan anak pelan-pelan sirna dengan kunjungan ke banyak tempat yang memenuhi 3 kriteria; edukatif, baby friendly, dan terjangkau (baik secara biaya maupun jarak). Dan saya bahagia. Setidaknya, saya bisa melihat rona bahagia di wajah suami saat bercerita tentang apa yang ia kerjakan di luar rumah, meskipun tubuhnya tampak lelah. Dan, sekali lagi, itu cukup untuk membuat saya merasa lebih bahagia.

Ditulis dengan cinta, Jakarta, 9 Desember 2018

"Kenapa sih, Bapak nyekolahin anak-anak Bapak di sekolah Muhammadiyah?" Pertanyaan itu pernah terlontar dari mulut saya, beberapa waktu silam.
Entah sudah berapa puluh kali saya merepotkan Bapak dengan mempertanyakan hal-hal kekanakan semacam itu. Hal-hal yang tidak pokok, yang seringkali hanya berfungsi untuk meloloskan rasa ingin tahu seorang bocah yang ingin dianggap dewasa.

Kelima anak Bapak, dari Mbak Liya hingga Aufa (tidak termasuk Bina, yang telah lebih dulu meninggal pada usia pertamanya), selalu disekolahkan di sekolah yang sama: TK Aisyiyah, dan SD Muhammadiyah. Turun-temurun, sampai guru-guru di kedua sekolah itu mengenal kami sebagai saudari bagi yang lain. Baru ketika SMP, kami dibebaskan untuk memilih sekolah negeri favorit yang diinginkan.

"Yo ben anak-anake Bapak biso sinau agomo." Jawab Bapak sekedarnya. Tenang. Dalam.

"Tapi, kenapa sekolah Muhammadiyah?" Saya kembali bertanya. Dalam hati berteriak, 'kenapa nggak NU, Pak?' Dan tampaknya Bapak mengerti, apa motif sebenarnya dari pertanyaan ini.

"Kenopo nggak NU, gitu?" Tembaknya langsung. Saya merasa menang, merasa sukses menggiring Bapak pada titik yang saya inginkan tanpa harus mengatakannya. Tapi pada saat yang sama, sesuatu dalam ekspresi Bapak membuat saya menyesal.

"Ndhuk, jangan dikira Bapak itu fanatik pada satu golongan." Bapak mulai menjelaskan. Dan sesal itu makin kuat saya rasakan. "Enggak. Bapak cuma pingin kalian memiliki bekal pengetahuan agama sejak kecil. Tapi karena Bapak dan Ibumu ini orang bodoh, yang nggak bisa ngajarin anak-anaknya tentang agama, ya sudah jadi tanggung jawab Bapak untuk memilihkan sekolah yang bagus buat kalian, yang bercorakkan Islam." Bapak memberi jeda pada kalimatnya. Sejenak. Membiarkan saya bebas mengamati pahatan wajahnya, dan mengambil kesimpulan bahwa pada sisi tertentu, Bapak begitu mirip dengan Anggito Abimanyu.

"Kenapa Muhammadiyah, karena Bapak cari yang dekat rumah. Kalau Bapak harus menyekolahkan kalian ke Kauman, itu terlalu jauh. Bapak kan gak bisa setiap hari antar-jemput. Di Bendan dekat, kalian bisa pulang naik angkutan umum sendiri. Bapak gak terlalu khawatir." Penjelasan itu ditutupnya dengan nada yang terdengar apik di telinga.

Kauman adalah sebuah daerah dekat alun-alun kota yang--entah bagaimana sejarahnya--sarat akan NU. Di sana berdiri banyak madrasah berlogo bintang songo; dari ibtidaiyah hingga aliyah; juga Masjid Agung tempat berlangsungnya berbagai acara besar keagamaan. Saking kentalnya nuansa NU di sana, saya sampai mengira, orang-orang di Kauman pastilah Nahdliyyin semua.

Sedangkan Bendan, Bendan merupakan nama desa di mana sekolah kami, SD Muhammadiyah 02, mengokohkan gedungnya. Jaraknya hanya sepuluh menit bersepeda dari rumah kami; satuan ukur yang Bapak sebut sebagai "dekat".

***

Kiai Haji Ahmad Dahlan, saya bisikkan nama itu perlahan. Untuk sejenak mengingat bagaimana pribadi besar itu berjuang membangun peradaban.

Kala itu, mentari di langit Jogja sedang terik-teriknya. Kemarau yang memanjang telah memaksa warga sekitar untuk menerima kondisi alam walau bagaimanapun ganasnya. Mereka yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan para ningrat maupun memegang suatu jabatan di pemerintahan akan terus memacu diri ke ladang, ke sawah, ke pasar, dan segelintir sisanya ke pabrik-pabrik. Bekerja tanpa rehat untuk upah yang tak seberapa, dalam ketat aturan yang semena-mena.

Di titik inilah, di antara riuh rendah orang-orang yang berlalu-lalang, mengintip di balik jendela berkusen jati, seorang pemuda terduduk diam. Dalam kepalanya bersarang keresahan: tanah airnya tak kunjung merdeka. Ratusan tahun lamanya Belanda menduduki pertiwi, belum juga tampak tanda-tanda akan berhasilnya perjuangan pribumi.

Aroma keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani pun mulai tercium saat itu. Munculnya faktor-faktor seperti pemberontakan internal, kemerosotan kondisi sosial dan ekonomi, juga tekanan dari gerakan sekulerisasi Barat, membuat ketahanan kekhalifahan goyah. Konflik dimana-mana, kerusuhan menjadi tak terhindarkan, Barat terus melakukan serangan, dan Ottoman terancam jatuh. Ini bukan prognosa yang baik, tentu saja. Robohnya pilar kekhalifahan yang masih tersisa hanya akan memperparah keadaan umat Islam di negeri-negeri terjajah. Apa yang bisa dibanggakan dari suatu kaum yang kehilangan kejayaan dan tidak lagi memiliki pusat pemerintahan? Meski tak bisa dikatakan bahwa Ottoman mewakili seluruh lapisan muslim di dunia, dia adalah ikon peradaban ummat yang tersisa. Lalu apa yang bisa diharapkan dari suatu kaum yang tidak akan lagi memiliki sistem peradaban?

Maka demikianlah ummat Islam (di negeri terjajah) dipandang saat itu, atau setidaknya, begitulah menurut pemuda yang mengintip di balik jendela berkusen jati.


http://pribuminews.com/wp-content/uploads/2015/08/Pengurus-Muhammadiyah-1918-1921.jpg

Namanya Muhammad Darwis. Beberapa waktu yang lalu, sepulangnya dari lima tahun masa belajarnya di Makkah, dia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Konon, sejak saat itu, dia mulai berani menampilkan diri sebagai pemuda yang bersemangat dalam dakwah. Aktif menuturkan pemikiran-pemikirannya tentang kemajuan ummat kepada beberapa kalangan, termasuk di dalamnya para guru dan keluarganya sendiri.

Ide-ide tentang modernisasi pendidikan, sistem ekonomi, sosial, dan kesadaran politik yang dipropagandakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha--selama belajar di Makkah--sedikit banyak memberikan gambaran apa langkah yang hendak dia ambil demi kemerdekaan bangsanya. Menurutnya, ummat Islam di Indonesia harus mengejar ketertinggalan-ketertinggalan mereka selama ini. Bagaimana mau balik menyerang kalau tidak tahu senjata lawan? Katanya. Maka bagi Dahlan, mempelajari apa yang dipelajari oleh Belanda adalah perlu.

Didirikannya sekolah diniyah dengan metode pembelajaran seperti yang ada dalam sekolah-sekolah resmi Belanda. Dahlan mengkombinasikan pelajaran agama dengan pengetahuan umum seperti bahasa inggris, matematika, dan sains. Ah, iya, dan satu lagi: seni. Tujuannya, tentu saja, untuk meningkatkan kualitas anak bangsa melalui jalur pendidikan dengan tetap berpijak pada Islam. Meski, yaah~ tidak semua orang mau sependapat.

Dia bergabung ke dalam organisasi Boedi Oetomo beberapa tahun kemudian. Langkahnya kali ini langsung mendapat kecaman dari sebagian besar tokoh agama Islam termasuk keluarganya sendiri, sebab Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi sekuler-kejawen yang tidak pantas diikuti oleh seorang kiai macam Ahmad Dahlan.

Dahlan menghirup napas sejenak. Disandarkannya punggungnya pada kursi kayu di ruang depan. Sudah sejauh ini, batinnya, dia tidak boleh berhenti. Beberapa langkah lain dia ambil dengan perhitungan matang, dan sebagai puncaknya, didirikannya Muhammadiyah: sebuah organisasi yang kelak menjadi wadah sekaligus kendaraan baginya untuk menjalankan visi dan misi.

Muhammadiyah yang kini lebih dikenal sebagai identitas bagi muslim yang tidak memakai doa qunut dan menolak upacara tahlilan itu sebenarnya tidak ditujukan untuk hal-hal demikian. Muhammadiyah, dengan segala detailnya, mengajarkan pada anggotanya untuk menjadi muslim yang mandiri secara ekonomi, berilmu, dinamis, dan (sebisa mungkin) memiliki amalan-amalan yang bersifat sosial.

Dengan begitu, rakyat akan menjadi cukup kuat untuk bangkit melawan. Dan memang kemudian itu toh yang terjadi?

***

Bapak saya bukan seorang pengurus Muhammadiyah, asal kamu tahu. Bapak tidak pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi itu. Punya KTA-M pun tidak. Dia sosok yang terlampau biasa saja untuk memiliki kesibukan di komunitas. Tapi sejauh saya bisa mengingat, setiap kali saya bertanya atau menuntut fatwa darinya atas suatu perkara yang saya ragukan asal-muasal sumbernya, Bapak selalu memberi pertimbangan yang--baru saya tahu setelah dewasa--tidak jauh jauh dari isi HPT (Himpunan Putusan Tarjih). Meski saya yakin, sekalipun Bapak belum pernah membaca kitab itu.

Sampai di sini, saya mengerti. Tindakan menyekolahkan anak-anaknya di Bendan bukanlah perkara jarak yang katanya "lebih dekat". Bapak, saya meyakini, memang menyimpan ruh Muhammadiyah dalam dirinya.

Dan saya takzim. Sebab seorang teman pernah berkata, "Kamu tahu apa yang paling membuat Ahmad Dahlan sedih? Ialah ketika orang-orang Muhammadiyah kehilangan ruh kemuhammdiyahannya."

Bapak saya menyimpan ruh itu. Dan akan tetap begitu seterusnya.
Mungkin setelah ini, saya hanya perlu membuat catatan lanjutan dengan judul, "Pak, Saya Boleh NU?"

Pekalongan, 15 September 2010
Pak, Saya Boleh NU?

Saya tidak tahu, bagaimana persisnya seseorang boleh disebut atau menyebut dirinya sebagai seorang Nahdliyyin, hingga orang-orang di luar sana mengira; saya NU.

"Roup kui NU!" Begitu kata seorang teman ketika dalam suatu percakapan, kami membahas latar belakang keluarga masing-masing lengkap dengan tradisi-tradisi yang melingkupinya. Saya mesam-mesem saja mendengar pernyataan-tanpa-diminta itu.

Perlu kalian tahu, saya ini tidak punya KARTANU, tidak pernah aktif dalam organisasi ke-NU-an, tidak juga mondok di pesantren konservatif milik Kiai NU. Bahkan lahir dari keluarga NU saja tidak. Ngaji kitab juga tidak, apalagi mengamalkan seluruh ajaran ahlussunah waljamaah. Ndak.
Lalu, di mana letak ke-NU-an saya?

Kalo mau diklothok kulit luarnya saja, lalu diambil kesimpulan mentah bahwa NU adalah mereka yang rutin qunut, niat pake usholli, dzikir dengan prinsip jahr, menyenangi ziaroh kubur, mencintai para ulama, yaasinan dan tahlilan, matangpuluh dino, nyatus, nyewu, manaqiban, barzanzinan, dan segala-gala ritual yang seabrek barokahnya itu, maka percayalah, saya bukan NU.

"Saya Muhammadiyah." Demikian pengakuan saya suatu hari, kepada seorang teman yang lain.

Dan dia terkejut, "Masa njenengan Muhammadiyah, Mbak? Nggak percaya."

"Lho, kok nggak percaya?"

Saat saya tanya kenapa, dia menjawab, "Hehe, nggak kelihatan Muhammadiyahnya, Mbak."

Mungkin, mungkin lho ya, mereka menilai pandangan-pandangan dan pemikiran saya sudah terlalu 'bebas' dan 'nyleneh' untuk seorang yang mengaku Muhammadiyah. Tidak--ehem, maaf--'kaku' seperti beberapa orang yang biasanya vokal. Huehue. Saya sendiri menyadari bahwa saya hanyalah Muhamadiyah bawaan. Hanya karena sejak kecil saya bersekolah di sekolah Muhammadiyah, terbiasa mengikuti ketetapan yang berlaku dalam Muhammadiyah, dan beribadah ala Muhammadiyah, lantas saya mengimaninya sampai mendarah daging.

Makin dewasa, lingkungan dan lingkaran pertemanan saya justru makin diwarnai oleh manusia-manusia NU, baik yang garis keras maupun yang terlampau toleran. Baik yang santri maupun bukan. Baik yang tulen maupun gadungan. Hahaha. Membawa saya pada pemahaman lain di luar Muhammadiyah--pemahaman akan NU--dan pada satu titik di kemudian hari, membuat saya mulai mencintainya.

***

K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sumber: Bangkitmedia.com

Adalah K. H. Hasyim Asy'ari, seorang laki-laki dari garis keturunan Sunan Giri, yang menghabiskan masa remajanya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Memperdalam ilmu dari satu guru ke guru lainnya. Dan kelak di suatu masa, menjadi tokoh paling penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Ada satu fase dalam deret panjang perjalanan hidup Kiai Hasyim yang lebih ditekankan ketika banyak orang berbicara tentang identitas NU yang sebenarnya. Satu fase yang teramat manis untuk dikenang. *halah

Kala itu, Kiai Hasyim bertolak ke Makkah untuk belajar agama islam kepada beberapa guru, satu di antaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, tepat ketika Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaruan pemikiran islam. Abduh mengajak ummat islam untuk memurnikan kembali islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari islam, juga melakukan reformasi di bidang pendidikan, sosial, dan politik. Lalu untuk beberapa alasan, Abduh menggencarkan ide agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan pada pola pikiran para mazhab.

Syaikh Ahmad Khatib mendukung pemikiran-pemikiran Abduh, meskipun dalam beberapa hal, ia berbeda. Sikap mendukung inilah yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya. Salah satu di antara banyak muridnya bernama K. H. Ahmad Dahlan, yang sepulangnya dari Makkah turut mengembangkan ide-ide Abduh dengan mendirikan Muhammadiyah.

Kiai Hasyim bukan tidak senang dengan buah pikiran Abduh. Dia--sama juga dengan murid yang lain--mendukung ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali islam. Akan tetapi, dia menolak pemikiran Abduh agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan kepada mazhab. Baginya, tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Hadits tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang terhimpun dalam sistem mazhab. Sangat tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah tanpa melalui jalur ilmu para ulama hanya akan menghasilkan pemutarbalikan dari ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya. Demikian menurut Kiai Hasyim.

Dan itulah, saya kira, sumbu pembeda dari segala beda yang ada.

Dalam perkembangannya, benturan pendapat antargolongan--yang bermazhab (kelompok tradisional; diwakili oleh kalangan pesantren) dengan yang tidak bermazhab (kelompok modernis; diwakili oleh Muhammadiyah dan Persis)--itu memang tidak terelakkan. Dan dalam tahap ke sekian, mengantarkan Kiai Hasyim pada satu keputusan untuk membentuk sebuah komite berjuluk Nahdlatul Ulama.

***

Tuduhan sebagai seorang Nahdliyyin yang ditujukan orang-orang kepada saya tentu saja membuat saya bangga. Bagaimana tidak? Dituduh sebagai manusia yang doyan ngaji, memiliki pemahaman agama yang mengakar, toleran, luwes, tidak grusah-grusuh dan asal nuduh, serta kuat melek sambil ngopi dan guyon semalaman, lha yo mesti bangga.

Banyak hal dari NU yang saya suka, terutama tentang kegemaran mereka mengambil keutamaan-keutamaan dalam sebuah hadits peribadatan, juga cara mereka menyajikan contoh-contoh kejadian sederhana sebagai analogi bagi perkara-perkara yang sedang diperdebatkan. Mereka membuka diri terhadap perbedaan. Dan lebih dari itu, saya suka jalan berilmu yang mereka tempuh. Mereka senang berguru pada tokoh besar dengan sanad ilmu yang jelas. Jangankan untuk mengaji, mereka bahkan tidak akan segan-segan menempuh jarak ratusan kilo hanya untuk--misalnya--bertemu muka dengan ulama kesayangan. Biar tertular barokahnya, kata mereka.

Sedikit demi sedikit, saya mulai mengadopsi sebagian dari ideologi NU--tanpa sepenuhnya saya sadari.

Hingga kemudian, saya merasa iri. Iri yang begitu sangat. Karena betapa pun orang-orang itu mengira saya NU, saya tidak pernah--dan mungkin tidak akan pernah--bisa menjadi NU. Saya harus jujur, bahwa mengaku-ngaku sebagai warga NU sama halnya seperti mendaku barang milik orang lain. Ada rasa tidak nyaman. Ada keasingan yang membakar. Seolah saya tengah mencuri. Bagaimana pun, jauh lebih tenang duduk di antara orang-orang Muhammadiyah dibanding yang lain. Mungkin karena saya terlanjur terbiasa, atau karena saya merasa lebih menguasai medan ketika berada di antata mereka, atau.. mungkin karena hakikat manusia adalah memilih satu dan menetap di dalamnya, dengan tetap bersentuhan pada yang lain. Dan alam bawah sadar saya telah memilih.

Pada akhirnya, aksi koar-koar yang saya lakukan dengan membuat catatan berjudul "Pak, Kenapa Kita Ndak NU?" hanyalah sebentuk ekspresi pencarian jati diri yang berujung pada kesimpulan bahwa saya tetaplah anak Muhammadiyah, yang mencoba mengenal induknya dengan melongok ke luar pagar.

Kalau sudah begini, saya jadi ingat petuah Bapak:
"Ndhuk, Bapak tahu kecenderunganmu, juga ketertarikanmu akan NU. Itu pilihan. Tapi ingat-ingat, iki mung perkara tumpakan (kendaraan). Jalan kita tetap jalan Islam. Tujuannya Gusti Pangeran. Jangan cuma karena perkara NU-Muhammadiyah, lalu kamu lupa beragama. Lupa kewajibanmu terhadap sesama. Kamu nggak pernah tahu, kan? Bisa jadi ada yang nggak suka membaca tulisanmu di facebook. Bahkan lebih parahnya lagi, ada yang sakit hati. Jadi, tetaplah hati-hati, meski dalam tulisan."

Dan itu cukup untuk menjadi penutup.

Pekalongan, 29 Oktober 2015
1. SURAT CINTA UNTUK SUAMI

Assalamu'alaikum, suamiku.

Sebenarnya aku ragu mau nulis surat ini. Karena aku tahu betul, kamu tidak memerlukannya dan kamu juga tidak suka membaca tulisan yang terlalu panjang.
Suamiku, seharusnya ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Sudah berkali-kali aku menulis tentangmu, tentang cintaku padamu, tentang betapa bersyukurnya aku menjadi istrimu, meski tak satupun benar-benar kuberikan padamu--aku hanya berani menggunggahnya ke social media dan berharap kamu membacanya tanpa perlu kuminta.

Sayang, masih ingatkah kamu ketika dulu kita memutuskan untuk menikah? Kamu tak benar-benar mengenalku, dan aku juga tak benar-benar mengenalmu. Kita hanya bertemu beberapa kali sebelum kamu datang melamar. Dan hari pernikahan tiba hanya beberapa bulan setelah kita bertemu untuk pertama kalinya. Tapi kamu membuatku merasa pernikahan bukanlah suatu keputusan yang berat. Kamu membuatku percaya pada kalimat itu, bahwa "Marriage is'nt a tough decision, when you meet the right person."

Kamulah orangnya, Mas. Kamu yang berani menemui orang tuaku tanpa tapi-tapi, tanpa nanti-nanti. Kamu yang mengajakku pada hubungan halal, meski banyak anak seusia kita yang lebih memilih untuk saling mengenal lewat pacaran. Dan yang lebih penting, kamu open-minded terhadap segala jenis materi diskusi. Tidak fanatik pada satu hal lalu membenci hal lain. Itulah sikap paling mendasar yang kucari dalam diri seorang laki-laki.
Ketika kutanya mengapa tidak mengambil waktu lebih lama untuk saling mengenal, agar tak menyesal belakangan, kamu malah menjawab, "Tidak perlu. Pada akhirnya akan tetap ada hal yang membuat kita kecewa. Itu dinamika kehidupan. Aku harus menerima, dan kamu juga harus menerimanya."

Aku mengakui jawabanmu sangat gentle, Mas. Untuk itulah aku tidak ragu sama sekali.
Mas, kamu benar. Memang pada akhirnya tetap ada yang membuat kita saling kecewa, meskipun masing-masing kita sudah berusaha mengambil sikap paling sempurna. Aku pun demikian. Dan aku yakin kamu pun merasakannya. Tapi sesering apapun rasa kesal datang, tetap tak bisa menolak kenyataan bahwa kamu adalah ayah yang baik untuk Singa.

Kamu punya segudang kebaikan yang dibutuhkan seorang ayah. Kamu cerdas, berwawasan luas, dan teliti. Kamu terbiasa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Sebagai anak laki-laki, Singa tidak akan pernah menyesal menjadikanmu sebagai role model, Mas.

Kamu juga tipe orang yang selalu punya banyak ide dan senang mempelajari sesuatu. Aku tak pernah melihatmu menyerah pada satu bidang yang belum kamu kuasai. Kalau kamu sudah menyukai sesuatu, maka kamu akan terus mengasah skill-mu sampai kamu berada di tahap expert. Terima kasih, Mas. Kamu selalu membuatku terpukau pada semangatmu, lalu termotivasi untuk ikut belajar. Singa pasti bangga memiliki ayah sepertimu. Wariskanlah sifat-sifat baik itu kepada Singa. Insyaa Allah dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang hebat.

Mas, terima kasih untuk selalu mendukungku dalam menerapkan pola asuhan yang tepat untuk Singa, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Kamu tidak pernah perhitungan soal uang ketika itu berkaitan dengan kebutuhan Singa. Kamu selalu mengusahakan yang terbaik tanpa memanjakan.
Kamu juga peduli pada orang-orang di sekitarmu. Kamu hampir selalu menjadi yang paling awal memberi bantuan. Kamu akan menjadi sosok yang tepat untuk Singa belajar berbagi, agar tidak semaunya sendiri.

Terima kasih sudah banyak membantu, meski aku tahu kamu sudah lelah bekerja seharian. Terima kasih karena tidak mengeluh melihat istrimu banyak kekurangan. Terima kasih, Mas...

Aku tidak tahu apakah selamanya rumah tangga kita akan berjalan harmonis, atau akan ada badai besar yang datang sebagai ujian, seperti halnya badai yang mendatangi rumah tangga Abah dan Ibuk. Aku sama sekali tidak mengharapkannya, Mas. Naudzubillah. Tapi seandainya, ada badai yang mendekat, ada batu yang menghalangi, ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu. Singa mencintaimu. Kami mencintaimu karena Allah yang telah memilihmu untuk kami.

Aku selalu berdoa agar bisa terus membersamaimu dan anak-anak kita kelak. Jika tidak bisa selamanya di dunia, maka akhiratlah tempat kita kembali bersua. Semoga ya, Mas.

Sayang, sehat-sehatlah selalu. Fokuslah pada apa yang ingin kamu capai dalam hidup. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu mendampingimu sampai batas yang Allah izinkan.

Wassalamu'alaikum.

Dari istrimu.

***

Respon suami saya ketika mulai membacanya tentu saja tertawa. Belio merasa lucu karena saya mengiriminya surat cinta. Tapi setelah selesai membacanya, belio langsung mencium saya dan mengucapkan terima kasih. Belio juga minta didoakan agar bisa selalu menjadi suami dan ayah yang baik.


2. POTENSI ANAK

Namanya Arslan Shidqi Albana. Dipanggil Asqi atau Singa. Usianya saat ini adalah 15 bulan. Dia termasuk anak laki-laki yang aktif sejak bayi. Mulai merangkak ketika usianya menjelang 5 bulan, dan sudah berjalan di usia 10 bulan. Pertumbuhan fisiknya juga terbilang cepat. Usia 4 bulan mulai tumbuh gigi, dan di usianya yang sekarang giginya sudah lengkap. Berat dan tinggi badannya juga selalu dalam kurva hijau tua. Alhamdulillah.

Secara bahasa, dia mulai bisa mengucapkan beberapa kata seperti Ayah, mimik, maem, ndak papa, jatuh, basah, kereta, dan habibi. Sudah mengerti kalimat perintah dan meresponnya dengan tindakan yang sesuai. Mengenali benda-benda di sekitarnya, juga anggota tubuhnya dari rambut sampai kaki.
Tapi saya belum bisa mengerucutkan potensi apa yang ada dalam diri anak saya. Dia masih dalam tahap meniru apa yang orang di sekitarnya lakukan. Ayahnya menggambar, dia ikut-ikutan pegang pensil. Ibunya memasak, dia ingin ikut andil dalam memotong wortel. Begitulah. Mungkin masih terlalu dini untuk bicara soal potensi.

Satu yang pasti, dia tidak suka didekte. Ketika memainkan suatu permainan, dia tidak akan mau diberi tahu cara memainkannya dengan lisan. Jika saya tetap ngotot ingin memberitahunya, mainan yang sedang dipegangnya pasti akan dilempar. Dia tidak suka digurui.

3. POTENSI DIRI SENDIRI

Potensi saya? Hm.. saya bisa menggambar, menulis, sedikit menjahit, sedikit memasak, merawat tanaman, beres-beres rumah, apa lagi ya?

Saya orang yang suka kebersihan dan kerapihan, sehingga selalu mengusahakan agar barang-barang di rumah tertata dengan baik.

Saya juga suka belajar. Ketika ada beberapa hal yang belum saya tahu tentang suatu bidang yang saya sukai, saya akan dengan senang hati mempelajarinya, agar makin kaya pengetahuan saya tentangnya. Saya menyukai tema-tema seperti sejarah, filsafat, parenting, seni, sastra, dan sains-fiksi. Tema dari buku-buku yang saya koleksi tidak jauh dari enam bidang tersebut.

Saya pun termasuk tipe wanita jawa pada umumnya, yang "nerimo", manut, dan mengagungkan suami. Saya tidak bisa membentak suami, apalagi berbicara kasar terhadapnya. Pernah sekali saya menaikkan nada bicara--hampir tak terkontrol--dan setelah itu langsung menyesal hebat.

Saya juga tipe ibu yang tidak senang mengekang. Saya membebaskan anak saya mengeksplore setiap hal dalam setiap kegiatan yang kami lakukan. Tentu dengan pengawasan. Contohnya, saya menerapkan metode BLW dalam memberikan MPASI Asqi. Tujuannya agar dia bisa mengeskplore makanannya, dan menikmati kegiatan makan seperti dia menikmati kegiatan bermain. Saya juga senang mengajaknya pergi ke tempat-tempat rekreasi yang belum pernah dia kunjungi, agar dia tahu bahwa dunia ini luas, dan ada banyak hal untuk dijelajahi.

Dari semua hal itu, sejujurnya saya masih tidak tahu pasti apa sebenarnya Kehendak Allah SWT menghadirkan saya di keluarga ini. Mungkin sebagai pelengkap suami saya, dan sebagai fasilitator bagi anak saya untuk belajar mengenal dunia. Mungkin. Saya masih tidak tahu. Saya hanya berusaha memainkan peran sebaik-baiknya, sebagai wanita, istri, dan ibu.

4. LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Lingkungan tempat kami tinggal di Jakarta ini termasuk lingkungan yang padat penduduk. Tinggal di sebuah perkampungan di antara Bungur Besar 6 dan Bungur Besar 7. Tetangga rumah kebanyakan adalah orang tionghoa, yang sering marah-marah setiap kali banyak anak kecil bermain dan berteriak-teriak di depan rumah mereka.

Awalnya saya agak terganggu dengan sikap para tetangga itu, "Kenapa sih harus marah-marah?" begitu tanya saya dalam hati. Tapi seiring berjalannya waktu, datang kesempatan-kesempatan kecil di mana saya bisa menyapa tetangga saya itu dan kami ngobrol santai. Ternyata orang-orangnya sangat baik. Dan dari beberapa obrolan kami, saya jadi tahu alasan kenapa mereka marah-marah pada anak-anak kecil dari kampung sebelah; di rumah mereka ada orang tua sepuh yang tekanan darahnya agak tinggi, sehingga membutuhkan suasana yang tenang untuk bisa istirahat. Dan mereka sendiri pun butuh istirahat dengan nyaman tanpa gangguan teriakan anak-anak.

Saya mulai mengerti sekarang. Saya bisa memahami alasan-alasan itu. Saya tidak bisa menyalahkan para tetangga tionghoa itu, pun tak bisa mengalahkan anak-anak kecil yang senang bermain di jalan depan rumah kami.

Beberapa waktu lalu saya mencoba ikut bermain dengan anak-anak kecil tadi. Lalu ngobrol dengan beberapa anak yang tampak mendominasi perkumpulan. Saya bilang ke mereka, "Kalian ga bosan dimarahi terus sama pemilik rumah itu?" (sambil menujuk rumah tetangga saya). Saya memberi saran kepada anak-anak itu untuk memilih waktu bermain saat para tetangga saya sedang pergi (hari Minggu pagi saat mereka beribadah, atau ketika mobil di garasi mereka tidak ada) atau ketika mereka sudah bangun dari istirahat siang. Sekitar jam 4 atau 5 sore.

Anak-anak itu tidak langsung menanggapi ucapan saya. Tapi selang beberapa waktu, saya makin jarang mendengar suara tetangga tionghoa itu marah-marah. Saya mulai bisa menandai kapan anak-anak itu datang bermain. Syukurlah.

Saya tidak yakin apakah ini adalah salah satu dari Kehendak-Nya menempatkan keluarga kami di lingkungan seperti ini. Kami hanya berusaha sebaik mungkin menjadi warga dan tetangga yang baik.

----------------------------------------------------------------

Semoga dengan mengikuti perkuliahan di IIP, saya bisa belajar membaca Kehendak-Nya kenapa saya hadir di tengah keluarga dan lingkungan ini. Apa misi spesifik saya. Apa tujuan hidup saya. Semoga.


Jakarta, 20 Agustur 2018
Ra'ufina

Banyak kejadian luar biasa hadir dalam keriuhan keluarga kecil kami sepekan terakhir. Dari hal-hal remeh sampai sesuatu yang besar dan tak terduga, yang bahkan kami tak tega menyebutkannya di ranah publik. Lelah karena emosi terkuras. Letih karena terus-menerus memikirkan apa kiranya solusi terbaik yang bisa kami ambil untuk menyelesaikan konflik.

Sampai saya lupa, ada satu tugas yang belum saya sentuh sedikitpun. Dan besok pagi adalah batas akhir pengumpulannya. Saya mohon maaf kepada fasilitator kelas kami, Mbak Sasha, atas kelambatan dan kemalasan saya dalam NHW#2 ini. Seharusnya saya lebih bersungguh-sungguh dan tidak menunda mengerjakannya sampai batas waktu yang ditentukan.

Nice Homework kali ini adalah tentang indikator profesionalisme seorang ibu. Para peserta MIIPB6 diberi tugas untuk membuat checklist indikator profesionalisme yang bisa kami jalankan di kehidupan sehari-hari; sebagai individu, istri, dan ibu. Indikator utama keberhasilan ibu profesional adalah "Menjadi kebanggaan keluarga", dimana kebahagiaan suami dan anak-anak menjadi tolok-ukur nilai profesionalisme. Untuk itulah para peserta diminta mengomunikasikan pada suami dan anak-anaknya, hal-hal apa saja yang membuat mereka merasa bahagia terkait dengan dirinya. Nantinya, jawaban-jawaban itu dapat dijadikan acuan untuk membuat checklist.

Tapi, tapi, tapi... suami saya itu ketika ditanya, "Yah, hal apa yang aku lakukan dan bisa membuat Ayah bahagia? Atau aku harus ngapain gitu biar jadi istri dan ibu yang baik?"
Jawabannya justru, "Lha opo si? Lha mbuh." yang artinya kurang kebih, "Apa sih? Ga tau."
Hhaaaahaha. Begitulah kami. Tidak semua hal bisa dan biasa kami diskusikan (secara lisan), ada hal-hal yang cukup kami aktualisasikan dalam tindakan saja, mengamati satu sama lain untuk kemudian saling mengoreksi kesalahan masing-masing.

Nah, karena judulnya "checklist", seharusnya saya membuat semacam tabel yang berisikan daftar kegiatan atau terget-target yang akan dicapai lengkap dengan patokan waktu dan kolom evaluasi. Tapi, karena saya tidak cukup lihai dalam membuat tabel, saya akan menuangkannya ke dalam narasi.

Silakan disimak~

CHECKLIST INDIKATOR IBU PROFESIONAL

Sebagai Individu
Spiritual
1. Sholat fardhu tepat waktu (setiap hari! No excuse.)
2. Sholat dhuha (min. 2 rakaat setiap hari)
3. Tilawah Qur'an (min. 1 halaman setiap hari)
4. Puasa senin-kamis (selama masa suci)
5. Istighfar (min. 10x dalam sehari)

Pengembangan diri (berkaitan dengan minat dan bakat, serta jurusan yang telah saya ambil di NHW#1)
1. Mengasah keterampilan menggambar (min. menghasilkan 2 gambar dalam 1 pekan)
2. Mencari referensi tutorial menggambar (baik berupa bacaan maupun tontonan) untuk meningkatkan pemahaman teori gambar. (min. 1 video/artikel dalam 1 pekan)
3. Menulis di blog (min. 1 artikel dalam 1 pekan, tidak termasuk artikel NHW)
4. Olahraga ringan; peregangan otot dengan gerakan seperti pemanasan (setiap pagi hari setelah matahari terbit), jogging (max. 1x dalam 1 pekan)

Sebagai Istri
1. Menyiapkan segala keperluan suami sebelum berangkat kerja/dinas luar kota/kegiatan lainnya (setiap hari! Alhamdulillah selama ini sudah diterapkan. Tinggal bagaimana cara meningkatkannya.)
2. Memastikan rumah sudah beres dan masakan sudah siap saji sebelum suami pulang dari kantor (setiap weekdays)
3. Berdandan simple dan memasang roman muka yang "enak dipandang" ketika berhadapan dengan suami. (Ini yang paling sulit, jadi saya tidak akan mematok waktu untuk melakukannya. Sebagai gantinya, saya akan mencatat berapa kali saya gagal melakukannya dalam 1 pekan, lalu mengevaluasinya setelah 3 bulan.)
4. Mengucapkan terima kasih (setiap hari menjelang tidur malam)
5. Tidak meninggalkan piring kotor sebelum tidur; agar tidak repot ketika pagi menyapa, dan leluasa menyiapkan keperluan esok hari. (setiap hari! No excuse.)

Sebagai Ibu
1. Selalu membersamai anak kala ia terjaga (setiap saat)
2. Menciptakan permainan baru untuk mengasah hard and soft skill anak sesuai tahapan usianya (min. 1 permainan dalam 2 hari)
3. Membuat mainan DIY bersama anak (min. 1 mainan dalam 1 pekan)
4. Membuat menu masakan baru agar anak mengenal banyak rasa dan tekstur makanan (min. 1 menu dalam 1 bulan)
5. Mengajak anak bermain/bertamasya ke area publik yang kids friendly (min. 1x dalam 1 pekan, tiap weekend)
6. Mengatakan I Love You, "Ibu bersyukur dengan hadirnya kamu", "Terima kasih untuk hari ini", dan kalimat sejenisnya kepada anak agar ia tahu betapa bahagianya saya menjadi ibu, dan betapa berharganya ia di mata ibu (setiap malam menjelang tidur).

Masing-masing point akan saya evaluasi setiap 3 bulan. Jika belum memenuhi target, saya akan mengulanginya dengan tenggat waktu 1 bulan. Jika sudah terpenuhi, akan saya naikkan kuantitas (sebisa mungkin juga kualitas) di bulan berikutnya. Bismillah~

Terima kasih banyak!

Jakarta, 13 Agustus 2018
Salam,
Ra'ufina.

Ngomong-ngomong soal jurusan, pernahkah ada yang bertanya-tanya kenapa ada begitu banyak jurusan ilmu di dunia ini? Dan dari ribuan, atau bahkan jutaan jurusan itu masih banyak yang mungkin belum kita kenal. Seperti misalnya di Indonesia, ada jurusan yang bernama Batra (pembuatan obat tradisional), Kartografi dan Penginderaan Jauh (cabang dari ilmu Geografi mengenai ilmu pembuatan peta dan metode pengukuran obyek tanpa harus bersentuhan secara langsung), Kriptografi (ilmu persandian), dan masih banyak lagi yang saya sendiri belum pernah mendengarnya.

Ada juga jurusan-jurusan yang tidak terpikirkan sama sekali, yang begitu mendengar namanya, kita akan membatin, "Oh, ternyata ada ya jurusan seperti itu?"

Ini membuat saya semakin yakin, bahwa tiap serpih dari dunia ini memiliki disiplin ilmunya sendiri, meskipun tidak semuanya bisa diajarkan dalam sebuah pendidikan formal. Tiap hal bisa dipelajari, dan tiap-tiap jiwa bebas menentukan mana-mana yang akan mereka tekuni--demi menjalankan fitrahnya sebagai seorang manusia, yaitu belajar.

***

Ada sebuah tugas yang harus saya kerjakan. Tugas ini dikenal sebagai NHW (Nice Home Work) dari Kelas Matrikulasi Batch 6 yang saya ikuti di IIP (Institut Ibu Profesional). Tugasnya gampang-gampang-susah. Meski tidak ada nilai benar-salahnya, jawaban masing-masing peserta akan menunjukkan sejauh mana mereka mengenal potensi diri, menggalinya, untuk kemudian tahu kemana arah tujuannya belajar.

Dan bagi saya yang masih simpang-siur soal potensi diri ini, tugas ini begitu berat. Huhuhu.

Baik, kita langsung saja melihat bagaimana tugasnya. Ada 4 point yang harus dijawab. Dan keempat point itu adalah...

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang hendak kamu tekuni di Universitas Kehidupan ini

Setelah melalui perenungan panjang dan proses menimbang-nimbang beberapa hari ini, ditambah saran dan dukungan dari suami, akhirnya saya mantap memilih jurusan art: ilustration.

Ha. Terdengar main-main ya.

2. Alasan terkuat apa yang kamu miliki sehingga ingin menekuni dunia gambar (khususnya ilustrasi)

Sejujurnya saya tergoda melihat jawaban teman-teman sekelas saat diskusi di WAG tentang NWH#1 kemarin. Sebab banyak dari mereka yang berniat mengambil jurusan yang menurut saya sangat mulia; jurusan ilmu bijak, jurusan ilmu sabar, jurusan parenting, dan seabrek jurusan lain yang bermuara pada peningkatan kualitas diri sebagai orang tua. Bahkan sempat ada guest star di kelas kami bernama Mbak Yessy yang di lembaran profilnya tertulis jurusan kehidupan: parenting dan pendidikan anak, khususnya komunikasi dan home education.

Betapa mulianya. Saya juga ingin menjadi ibu yang baik dengan menekuni ilmu tentang parenting, menuliskannya besar-besar agar semua orang tahu akan hal itu, tapi saya tidak bisa mengabaikan suara hati kecil saya. Saya sangat suka menggambar. Dan menggambar adalah salah satu media healing saya terutama setelah menjadi ibu (rumah tangga).

Saya mulai menggambar sejak kelas 5 SD. Objek yang saya gambar saat itu hanya seputar barbie dan gaun-gaunnya. Lalu kelas VIII SMP saya mulai menyukai gambar-gambar manga. Beranjak SMA baru saya sadar, bahwa ada banyak sekali objek (juga subjek) yang bisa digambar, dan hal paling menyenangkan adalah ketika saya bisa mengilustrasikan satu cerita ke dalam sebuah gambar. Menjelang kelulusan SMA saya berpikir untuk melanjutkan studi ke ranah seni, khususnya seni rupa 2 dimensi. Tapi Ibu menentangnya. Jurusan tidak jelas, kata beliau. Bahkan kemudian saya dilarang mengikuti ujian masuk universitas di luar kota. Kalau mau lanjut sekolah, hanya boleh di Pekalongan, begitu kata beliau.

Pada akhirnya saya masuk ke akademi kebidahan, dengan segala kepadatan jadwalnya yang kemudian membuat saya nyaris tidak sempat menggambar lagi.

Setelah bekerja barulah saya mulai menggambar lagi. Kadang-kadang. Sekadar untuk senang-senang, mengisi waktu luang, dan membahagiakan diri. Tak pernah berniat untuk menekuninya maupun menggali potensi lebih dalam. Sampai kemudian saya menikah dengan seorang yang menghabiskan banyak waktunya untuk satu hal; nggambar. Ya, suami saya hobi menggambar, tapi dia tidak hanya menjadikannya sebagai sebuah hobi kosong, melainkan juga menjadi ladang pekerjaan. Darinyalah saya menyadari bahwa hal sekecil apapun, kesenangan seremeh apapun, bisa menjadi prestasi besar ketika kita fokus dan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Saya ingat betul kalimatnya kala itu:

"Tidak ada yang bisa mengalahkan orang yang fokus dan bersungguh-sungguh. Kamu mungkin meremehkan orang yang hobinya cuma main futsal, orang yang hobinya ngoleksi mainan, joged-joged niruin Idol KPOP, dan yang lainnya. Tapi lihat, Christiano Ronaldo. Dia sukses, populer, duitnya banyak, dapat penghargaan macam-macam, padahal "cuma" main sepak bola. Kenapa? Karena dia fokus. Dia sungguh-sungguh dalam bermain sepak bola. Sehingga dia bisa sukses. Pun demikian dengan kolektor, dancer, penyanyi, pengrajin, selama mereka fokus, mereka bisa sukses di jalan yang mereka tempuh. Tapi kamu tidak akan mendapatkan itu ketika bertindak setengah-setengah."

Untuk itulah saya ingin menekuni kesenangan ini lebih dalam. Lebih serius. Saya ingin menjadi ilustrator--minimal--untuk cerita-cerita yang saya buat. Juga untuk mengekspresikan emosi maupun pengalaman saya dalam suatu kejadian. Saya tidak tahu pasti apa yang sebenarnya saya tuju (Popularitas? Harta?), atau apa yang akan saya dapatkan dengan memilih jurusan ini, tapi satu yang pasti; pada seni rupa, Tuhan memberi saya kata BISA dan SUKA. Saya yakin Dia punya alasan untuk itu. Saya sendirilah yang perlu mencari jawabannya.

Saya tahu ini lebih seperti ego untuk menuntaskan ambisi masa kecil, tapi saya berharap gambar-gambar yang saya hasilkan bisa menjadi kendaraan saya dalam menebar benih kebaikan.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang kamu rencanakan di bidang tersebut

Ada satu nasehat dari seorang teman yang akan saya jadikan pedoman dalam mengarungi dunia gambar:

Teruslah goreskan pensilmu. Teruslah asah imajinasimu. Sejelek apapun hasilnya. Sebab hanya itulah yang akan membuatmu semakin dekat pada kata mahir.

Ya. Saya akan rajin menggambar. Apapun temanya, apapun objeknya. Sampai saya menemukan style saya sendiri. Sembari tidak lelah mempelajari tutorial-turorial dari para ahli, atau mengikuti workshop terkait. Tentu dengan dibantu suami, karena dialah konsultan gambar terbaik dalam hidup saya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang kamu perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut

Musuh terbesar saya adalah mental block. Pemikiran negatif dari alam bawah sadar yang menyabotase potensi dan menghancurkan keyakinan diri, sehingga membuat saya takut melangkah. Mau nggambar, takut hasilnya jelek. Ingin menulis buku, ragu apakah nantinya ada yang baca. Sampai akhirnya tidak menghasilkan apa-apa.

Untuk bisa menjadi seorang ilustrator handal, pertama-tama saya harus menghapus mental block dalam diri saya. Karena hal itu sangat menghambat seseorang dalam meraih kesuksesannya.

Selebihnya saya hanya perlu terus mencoba.

Terima kasih.

Jakarta, 5 Agustus 2018
Salam,
Ra'ufina.

Ada satu doa yang tak pernah absen saya panjatkan ketika hamil; saya ingin bersalin dengan didampingi suami.

Tentu doa-doa lain yang mengharap kesehatan dan keselamatan bagi janin juga terus saya panjatkan. Tapi yang satu tadi tak pernah lupa. Sebab pada saat usia kehamilan saya memasuki minggu ke-28, saya "dipulangkan" ke Pekalongan untuk mempersiapkan persalinan di sana, sementara suami saya melanjutkan hari-hari kerjanya di Ternate. Saya tidak tahu kapan kontraksi rahim akan datang dan kapan saya akan melahirkan, tidak bisa dipastikan (kecuali jika memilih jalan SC). Padahal untuk bisa pulang ke Pekalongan menemani istrinya melahirkan, suami saya perlu mengajukan cuti terlebih dahulu, dan memesan tiket pesawat maksimal H-24 jam dengan lama perjalanan kurang lebih 5 jam (tanpa transit). Tidak bisa serta-merta pulang saat saya mengirim kabar.

Bagaimana nanti kalau saya mendadak kontraksi tapi suami baru bisa pulang esok lusa? Begitu pikir saya. Sehingga doa agar suami bisa mendampingi saat bersalin adalah yang pertama-tama saya garis bawahi.

Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa saya begitu keukeuh ingin melahirkan dengan disanding suami.

• Yang pertama, tentang kenyamanan. Mungkin kebanyakan wanita yang baru pertama kali mau melahirkan lebih memilih untuk didampingi oleh ibu kandungnya selama proses persalinan. Tapi berdasarkan hari-hari yang telah kami lewati dan kekuatan cinta yang dalam--uhuk!--saya merasa lebih nyaman ditemani suami. Biarlah kedua ibu kami mendoakan keselamatan calon cucu mereka dalam jarak. Kami berdua akan berjuang bersama.

• Kedua, saya ingin melihat bagaimana wujud suami saya saat menghadapi istrinya yang akan melahirkan. Dengan kata lain, saya ingin menilainya lebih jauh, lelaki seperti apakah dia.

• Ketiga, ini yang terakhir dan paling penting, saya ingin dia melihat secara langsung proses lahirnya anak kami. Melihat istri dan bayinya sama-sama berjuang demi pertemuan yang mengharukan. Dan berharap, semoga dengan menyaksikannya langsung bisa menjadi booster tekad baginya untuk menjadi ayah yang (lebih dari sekadar) baik.
Tapi.. doa ini ternyata membawa jalan jawabnya sendiri. Dan jalan itu.. bukan suatu jalan yang mulus begitu saja sesuai rencana.

Pekalongan, 25 April 2017

Saya kelewat panik ketika janin dalam kandungan saya tak menunjukkan tanda-tanda ingin lahir padahal waktu terus berjalan mendekati tanggal perkiraan. Empat puluh minggu kurang 4 hari, saat itu. Dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali memeriksakan kandungan saya via USG ke Dokter Spesialis ObsGyn pilihan; dr. Suryo, SpOG. Dalam hati berkata, jika semuanya baik-baik saja, saya rela menunggu sampai si janin siap untuk bertemu dengan ibunya. Sekalipun harus menunggu sampai 41 minggu. Tapi jika terjadi sesuatu.. semoga saja tidak.

Adalah hal yang normal jika sampai usia 40 minggu janin belum juga lahir. HPL hanyalah tanggal perkiraan, bukan tanggal pasti. Saya tahu betul akan hal itu. Tapi entah kenapa kepanikan tetap melanda. Mungkin karena ini adalah kali pertama saya mengalaminya sendiri. Sehingga sudut pandang saya yang sebelumnya berada pada kacamata seorang bidan, kini bergeser menjadi seorang wanita awam yang gugup menantikan persalinannya.

Hasil USG menunjukkan bahwa air ketuban saya keruh dan jumlahnya di bawah index normal. Minimal 10, saya hanya 9. Artinya, janin saya tidak boleh berlama-lama di dalam rahim karena bisa beresiko menelan air ketuban yang terlanjur keruh itu.

Saya menghela napas. Mencoba tenang meski sebenarnya panik. Dr. Suryo memberi batas waktu sampai 3 hari. Jika 3 hari ke depan belum juga ada tanda-tanda persalinan seperti kontraksi rahim atau keluarnya lendir bercampur darah, saya disarankan untuk melakukan induksi persalinan, atau istilah awamnya; dipacu.

Malam itu juga saya menelepon suami yang masih berada di Ternate.

"Ya, Dek? Gimana hasilnya?"

"Ketubanku keruh dan dikit, Mas. Dokter menyarankan induksi."

"Apa itu?"

"Disuntik obat untuk merangsang kontraksi, biar janinnya segera lahir." Terdiam sejenak, lalu, "Maaf ya, Mas." (Maaf karena tidak bisa menjaga kondisi kandungan tetap baik sampai akhir) :(

"Lho kok maaf. Kapan induksinya?"

"Secepatnya, Mas."

"Yowis kamu yang tenang, ya. Ini aku coba cari tiket pesawat dulu. Semoga dapet penerbangan besok biar bisa langsung pulang."

Dia tahu saya takut sebab suara saya bergetar meski tak kentara. Tapi di luar dugaan, dia meresponnya dengan sangat tenang. Tidak ada sedikitpun kepanikan yang tergambar seperti yang sering terjadi pada suami-suami muda yang istrinya mengalami "sedikit masalah" pada proses persalinannya.

Belakangan saya tahu, alih-alih panik, dia justru senang dengan kabar dari saya malam itu. Dia senang, karena akhirnya akan bertemu dengan jagoan kecilnya.

"Halo, Dek. Ini aku udah beli tiket pesawat. Alhamdulillah masih bisa booking tiket buat besok. Penerbangan siang. Nanti aku telepon Ibu biar pesan kamar di RSIA. Kamu yang tenang ya. Bismillah aja. Malam ini buat istirahat, jangan begadang. Besok aku pulang."

Saya tidak tahu apakah jalannya akan berbeda seandainya saya tidak berharap untuk disanding suami. Saya tidak tahu. Saya tentu berharap bisa melahirkan dengan proses yang alami, dengan seminim-minim trauma, tapi ternyata keinginan untuk disanding suami jauh lebih besar dari yang dapat saya perkirakan. Dan keduanya seperti memaksa alam bawah sadar saya untuk memilih satu.
Pada akhirnya, Tuhan menjawab doa saya. Mengirimkan seorang suami yang menemani proses persalinan saya dari awal sekali sampai lahirnya bayi. Menjadi orang pertama yang menangis dan mencium saya, sembari berbisik, "Terima kasih, sayang."

Jakarta, pertengahan Juli 2018
Cara Membuat Tenda Anak dari Paralon by Ayah Asqi

Gara-gara nge-post foto dan video tenda paralon bikinan Ayah Asqi di IG @ranafiu, saya jadi kebanjiran pertanyaan soal cara membuatnya. Hahaha

Nah, daripada saya menjawabnya satu per satu via japri, capek ngetik fiuh, mending saya post tutorialnya di blog. Biar link jawabannya tinggal di-copy-paste aja ke para penanya. 

Doc.pribadi: Asqi dan tenda paralon buatan ayahnya


Alat dan Bahan :

  • 4 pcs Paralon (d=1inch) @100cm
  • 2 pcs Paralon (d=1inch) @80cm
  • 6 pcs Sambungan Paralon bentuk L (gatau apa namanya)
  • Segulung Tali Rafia 
  • Selembar Kain Selimut/Jarit
  • Niat
  • Kreativitas

Gampang beud kan alat dan bahannya? Kalau belum punya, tinggal beli di toko bangunan terdekat. Harga dijamin terjangkau.

Langkah membuatnya :

  1. Siapkan alat dan bahan. Pastikan paralonnya sudah dipotong sesuai ukuran ya. 
  2. Bentuklah huruf U menggunakan 2 paralon 100cm dan 1 paralon 80cm
  3. Sambung bagian sudut menggunakan sambungan paralon berbentuk L
  4. Lakukan langkah yang sama pada 3 paralon yang tersisa. Sehingga hasil akhirnya menjadi 2 huruf U
  5. Letakkan 2 kerangka huruf U dengan posisi tegak saling berhadapan sejarak kurang lebih 1 meter
  6. Satukan 2 ujung atas masing-masing kerangka dengan menggunakan 2 sambungan paralon. Nanti kerangkanya akan membentuk pisma segitiga (dalam kondisi kurang sempurna)
  7. Sempurnakan bentuk pisma segitiga dengan mengikatkan tali rafia ke 2 sisi kerangka bawah dan 1 sisi kerangka atas (lihat foto)
  8. Sekarang kerangka tenda sudah siap. Pastingan setiap sambungan paralonnya terpasang kuat
  9. Pasang kain selimut menutupi kerangka tenda. Rapihkan. (Selimut yang kami pakai ternyata masih kurang panjang, sehingga tidak menutupi kedua sisi tenda. Alangkah baiknya kalo kamu pakai selimut atau kain yang lebih panjang ya ^_^)
  10. Ikat ujung-ujungnya menggunakan tali rafia. Dan tenda pun siap digunakan

Ukuran kerangka tenda ini sesuai dengan yang kami buat di rumah. Tentu dengan menyesuaikan tinggi tubuh Asqi. Kalian bisa memodifikasinya sesuai kebutuhan kalian. Mau dibuat lebih tinggi, atau lebih panjang, atau lebih mungil, bebassss! 
Oh iya tinggi badan Asqi pada saat pembuatan tenda paralon ini sekitar 80 cm. Usianya 14 bulan.

Selamat berkreasi!




Jakarta, 17 Juli 2018
Kalau secara ga sengaja baca artikel/postingan tentang kasus bayi asfiksia, kelahiran posterm dengan ketuban keruh, dan hal-hal beraroma senada, saya jadi teringat momen menjelang kelahiran Asqi.
Pada awalnya saya sangat pede mengatakan bahwa saya akan menggunakan metode gentle birth untuk proses persalinan anak kami. Sedang ramai diperbincangkan di luaran sana soal metode ini, dimana ibu dapat melahirkan bayinya dengan cinta dan seminim-minim trauma. Tapi saya sadar betul, saya nyaris tidak pernah olahraga (kecuali jalan pagi dan joged-joged ga jelas untuk latihan napas), dan tidak pula memperhatikan baik-baik asupan gizi selama hamil (sangat tidak mencerminkan profesi bidan, kan? Iya memang. Heuheu :3) Maka makin mendekati HPL, saya pun mulai realistis. Yang penting bayi saya lahir sehat, begitu doa saya.

Tiga hari menjelang 40 minggu dan belum ada sedikitpun tanda-tanda persalinan. Nggak mules, nggak ada lendir, nggak ada nyeri-nyeri pinggang seperti yang orang-orang bilang. Saya pun memutuskan konsul SpOG untuk melihat gambaran kondisi janin saya. Kalau semuanya baik, saya rela menunggu sampai batas akhir 41 minggu. Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Cairan ketuban saya keruh, dan index volume-nya di bawah batas minimal (minimalnya 10, saya 9). Singkatnya: keruh dan sedikit.

Kaget, tentu saja. Karena hasil pemeriksaan dari awal hamil selalu bagus, tidak pernah ada masalah baik di janin, letak plasenta, maupun ketubannya.

"Kenapa, Dok?" Saya bertanya lebih karena syok dari pada ingin tahu.

"Hipoksia. Banyak penyebabnya. Tapi itu yang paling memungkinkan."

Dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan induksi. Artinya, saya diberi obat untuk merangsang kontraksi agar segera terjadi kelahiran.

"Kapan induksinya, Dok?"

"Sesegera mungkin. Lebih cepat lebih baik."

Dokter menawarkan untuk mulai rawat inap malam itu juga, tapi saya meminta waktu untuk berpikir dan--tentu saja--menghubungi suami saya yang saat itu masih di rantau. Ibuk mengatakan jangan ambil resiko mengabaikan advis dokter, tapi kepala saya terlalu sibuk dengan berbagai pertanyaan sehingga kalimat Ibuk tidak saya respon dengan baik.

Sisa malam itu saya habiskan dengan mencari rangkaian jawaban dari satu tanya:
Bagaimana ketuban saya bisa keruh?

Dan perlahan duduk perkaranya mulai jelas.

Cairan ketuban yang keruh bisa disebabkan oleh sindrom aspirasi mekonium, dimana kotoran bayi untuk pertama kalinya bercampur dengan cairan ketuban ketika masih di dalam perut atau selama proses persalinan berlangsung. Pada tahap tertentu, mekonium akan semakin banyak tercampur dalam cairan ketuban. Jika mekonium ini tertelan, maka akan membahayakan keselamatan bayi (aspirasi mekonium, lalu berakibat asfiksia ketika lahir). Hiks.

Apa yang menyebabkan keluarnya mekonium? Hipoksia. Ya, seperti yang Dokter SpOG tadi katakan. Hipoksia atau kekurangan oksigen akan membuat aktivitas usus bayi meningkat dan menyebabkan pengenduran pada sfingter anal. Pengenduran inilah yang akan membuat mekonium keluar dan bercampur dengan cairan ketuban. Andai cairan ketuban saya cukup banyak, dokter mengatakan bisa ditunggu sampai HPL (tepat 40 minggu). Tapi karena terbilang sedikit, akan sangat beresiko jika menunggu terlalu lama.

Lalu kenapa bisa hipoksia?
Saya cenderung menyalahkan diri sendiri ketika mempertanyakan itu. Sebab saya langsung tahu jawabannya. Anemia. Saya tidak bisa dikatakan menderita anemia berat, tapi dari hasil pemeriksaan darah terakhir, kadar Hb saya turun dari 11 menjadi 9 dalam waktu sebulan. Dan saya menyesal.
Pola dan menu asupan saya memang agak kacau di bulan terakhir kehamilan. Soalnya jauh dari suami sih  (eh, apa hubungannya?). Minim buah-sayur. Minim zat besi. Dan lagi-lagi, saya katakan saya menyesal.

Setelah perenungan panjang malam itu, dan dengan serentetan kalimat panjang bernada menenangkan dari suami, akhirnya saya memutuskan menerima advis dokter untuk induksi persalinan.

Keesokan harinya suami saya pulang, dan induksi pun dimulai. Asqi lahir selamat dan sehat, 7 jam setelah reaksi induksi yang pertama muncul. Maturnuwun, Gusti.

***

Banyak teman saya yang menyayangkan dilakukannya induksi persalinan "hanya karena" ketuban keruh dan index volume-nya 9. Masih bisa ditunggu sampai ada kontraksi alami, katanya. Tapi.. ah, beberapa mereka tidak merasakan bagaimana rasanya menghawatirkan calon bayi yang sudah dikandungnya 9 bulan. Sebab saya rumongso malas olahraga, rumongso malas makan makanan sehat, jadi saya tidak maksa dan ngoyo. Saya hanya mencoba mengindari terjadinya hal-hal seperti yang ada pada artikel dan postingan yang saya baca. Dan mungkin inilah jalan yang sudah tertulis untuk saya.
Satu hal yang pasti dan patut saya syukuri; saya melahirkan dengan didampingi suami.


Jakarta, awal bulan Juni 2018.
Mengenang pengalaman bersalin setahun yang lalu, saya sering malu sendiri. Malu, semalu-malunya. Pasalnya, memasuki usia kehamilan 37 minggu, saya sudah koar-koar ke beberapa teman curhat sesama bumil, bahwa saya siap merasakan kontraksi malam itu juga. Siap fisik dan mental untuk menjalani serangkaian proses persalinan dari his kala I fase laten sampai IMD. Saya merasa referensi bacaan saya sudah cukup, pengetahuan saya tentang ilmu kebidanan juga sudah mumpuni, dan segala praktik persiapan (teknik relaksasi, menejemen nyeri, atur napas, pijat perineum) yang sudah saya cicil sejak awal hamil membuat saya cukup pede untuk mengatakan pada dunia bahwa "SAYA AKAN MELAHIRKAN DENGAN KALEM".

Pruttt!

Semua hanyalah kesombongan belaka. Bahahahha.

Nyatanya saya tetap berteriak ketika kontraksi datang menyapa. Suami saya yang jadi saksinya. Dia yang menemani saya dari awal masuk ruang bersalin sampai bayi kami lahir. Dia yang tahu persis bagaimana istrinya teriak-teriak seperti orang kesurupan, istighfar sekencang-kencangnya, memanggil semua bidan untuk mengabarkan rasa sakitnya. Dia yang bingung, panik, iba, sekaligus menjadi yang paling lelah karena harus manut istrinya buat mijit sana mijit sini. Hahahaha (Suwun ya, sayang. 😘😂)

Itu adalah kondisi ketika pembukaan jalan lahir memasuki centimeter ke-7. Luar biasa sakit. Rasanya seolah ada sebilah kapak membara yang membelah tulang-tulang punggung bawah. Memukul dengan kencang, bertubi-tubi, dan bertahan di sana sampai 2 menit lamanya. Mereda pada menit ke-3, lalu kembali menyerbu tak lama kemudian. Menjalar ke depan ke area bawah pusar, menciptakan rasa mulas yang teramat sangat.

Nyeri yang saya rasakan ketika bersalin memang terpusat di satu titik; punggung bawah. Sisanya adalah mulas. Pada sebagian wanita, ada yang merasakan nyeri berputar di area perut, daerah vagina sampai pangkal paha, juga pinggang. Saya tidak. Mungkin iya, tapi tidak sehebat yang di punggung bawah, sehingga saya tidak terlalu memikirkannya.

Nah, saya yang pusatnya di satu area saja sudah teriak-teriak apalagi yang rasa nyerinya menyebar?

Saya jadi teringat ketika dulu masih berstatus sebagai mahasiswi kebidanan dan magang di rumah sakit. Berkali-kali saya menasehati ibu-ibu yang bersalin untuk tenang dan mengatur napas, bukan malah teriak-teriak karena itu hanya akan membuat tenaganya habis sebelum mengejan. (Sok yes banget kan?) Kebanyakan mereka adalah ibu yang baru pertama kali melahirkan, sama seperti saya sekarang. Beberapa di antaranya malah berusia lebih muda daripada saya, sehingga saya merasa makin pantas untuk menasehatinya. Tapi tetap saja, seorang bocah yang cuma modal teori tapi sok menasehati ibu bersalin yang tengah kesakitan adalah tindakan tidak sopan. Dan saya malu mengingatnya. Sebab saya sendiri ternyata tak kalah keras teriaknya ketika mengalami hal serupa. 😂

Memang benar ya, kita akan lebih mengerti suatu hal ketika mengalaminya sendiri. Seperti orang-orang bilang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengetahuan hanyalah isi ransel yang menemani kita menuju "belajar" yang sesungguhnya.


Jakarta, penghujung April 2018