CERITA PERSALINAN #1 : BERSALIN DENGAN KALEM, KATANYA

Mengenang pengalaman bersalin setahun yang lalu, saya sering malu sendiri. Malu, semalu-malunya. Pasalnya, memasuki usia kehamilan 37 minggu, saya sudah koar-koar ke beberapa teman curhat sesama bumil, bahwa saya siap merasakan kontraksi malam itu juga. Siap fisik dan mental untuk menjalani serangkaian proses persalinan dari his kala I fase laten sampai IMD. Saya merasa referensi bacaan saya sudah cukup, pengetahuan saya tentang ilmu kebidanan juga sudah mumpuni, dan segala praktik persiapan (teknik relaksasi, menejemen nyeri, atur napas, pijat perineum) yang sudah saya cicil sejak awal hamil membuat saya cukup pede untuk mengatakan pada dunia bahwa "SAYA AKAN MELAHIRKAN DENGAN KALEM".

Pruttt!

Semua hanyalah kesombongan belaka. Bahahahha.

Nyatanya saya tetap berteriak ketika kontraksi datang menyapa. Suami saya yang jadi saksinya. Dia yang menemani saya dari awal masuk ruang bersalin sampai bayi kami lahir. Dia yang tahu persis bagaimana istrinya teriak-teriak seperti orang kesurupan, istighfar sekencang-kencangnya, memanggil semua bidan untuk mengabarkan rasa sakitnya. Dia yang bingung, panik, iba, sekaligus menjadi yang paling lelah karena harus manut istrinya buat mijit sana mijit sini. Hahahaha (Suwun ya, sayang. 😘😂)

Itu adalah kondisi ketika pembukaan jalan lahir memasuki centimeter ke-7. Luar biasa sakit. Rasanya seolah ada sebilah kapak membara yang membelah tulang-tulang punggung bawah. Memukul dengan kencang, bertubi-tubi, dan bertahan di sana sampai 2 menit lamanya. Mereda pada menit ke-3, lalu kembali menyerbu tak lama kemudian. Menjalar ke depan ke area bawah pusar, menciptakan rasa mulas yang teramat sangat.

Nyeri yang saya rasakan ketika bersalin memang terpusat di satu titik; punggung bawah. Sisanya adalah mulas. Pada sebagian wanita, ada yang merasakan nyeri berputar di area perut, daerah vagina sampai pangkal paha, juga pinggang. Saya tidak. Mungkin iya, tapi tidak sehebat yang di punggung bawah, sehingga saya tidak terlalu memikirkannya.

Nah, saya yang pusatnya di satu area saja sudah teriak-teriak apalagi yang rasa nyerinya menyebar?

Saya jadi teringat ketika dulu masih berstatus sebagai mahasiswi kebidanan dan magang di rumah sakit. Berkali-kali saya menasehati ibu-ibu yang bersalin untuk tenang dan mengatur napas, bukan malah teriak-teriak karena itu hanya akan membuat tenaganya habis sebelum mengejan. (Sok yes banget kan?) Kebanyakan mereka adalah ibu yang baru pertama kali melahirkan, sama seperti saya sekarang. Beberapa di antaranya malah berusia lebih muda daripada saya, sehingga saya merasa makin pantas untuk menasehatinya. Tapi tetap saja, seorang bocah yang cuma modal teori tapi sok menasehati ibu bersalin yang tengah kesakitan adalah tindakan tidak sopan. Dan saya malu mengingatnya. Sebab saya sendiri ternyata tak kalah keras teriaknya ketika mengalami hal serupa. 😂

Memang benar ya, kita akan lebih mengerti suatu hal ketika mengalaminya sendiri. Seperti orang-orang bilang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengetahuan hanyalah isi ransel yang menemani kita menuju "belajar" yang sesungguhnya.


Jakarta, penghujung April 2018

1 komentar:

  1. Haha sama banget mbak😂 kemarin pengen melahirkan secara gentle, nggak pake drama teriak-teriak tapi hasilnya😂😂😂

    Hanya suami yang tahu betapa histerisnya sy dalam ruangan bersalin kwkwkw

    BalasHapus