Kalau secara ga sengaja baca artikel/postingan tentang kasus bayi asfiksia, kelahiran posterm dengan ketuban keruh, dan hal-hal beraroma senada, saya jadi teringat momen menjelang kelahiran Asqi.
Pada awalnya saya sangat pede mengatakan bahwa saya akan menggunakan metode gentle birth untuk proses persalinan anak kami. Sedang ramai diperbincangkan di luaran sana soal metode ini, dimana ibu dapat melahirkan bayinya dengan cinta dan seminim-minim trauma. Tapi saya sadar betul, saya nyaris tidak pernah olahraga (kecuali jalan pagi dan joged-joged ga jelas untuk latihan napas), dan tidak pula memperhatikan baik-baik asupan gizi selama hamil (sangat tidak mencerminkan profesi bidan, kan? Iya memang. Heuheu :3) Maka makin mendekati HPL, saya pun mulai realistis. Yang penting bayi saya lahir sehat, begitu doa saya.

Tiga hari menjelang 40 minggu dan belum ada sedikitpun tanda-tanda persalinan. Nggak mules, nggak ada lendir, nggak ada nyeri-nyeri pinggang seperti yang orang-orang bilang. Saya pun memutuskan konsul SpOG untuk melihat gambaran kondisi janin saya. Kalau semuanya baik, saya rela menunggu sampai batas akhir 41 minggu. Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Cairan ketuban saya keruh, dan index volume-nya di bawah batas minimal (minimalnya 10, saya 9). Singkatnya: keruh dan sedikit.

Kaget, tentu saja. Karena hasil pemeriksaan dari awal hamil selalu bagus, tidak pernah ada masalah baik di janin, letak plasenta, maupun ketubannya.

"Kenapa, Dok?" Saya bertanya lebih karena syok dari pada ingin tahu.

"Hipoksia. Banyak penyebabnya. Tapi itu yang paling memungkinkan."

Dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan induksi. Artinya, saya diberi obat untuk merangsang kontraksi agar segera terjadi kelahiran.

"Kapan induksinya, Dok?"

"Sesegera mungkin. Lebih cepat lebih baik."

Dokter menawarkan untuk mulai rawat inap malam itu juga, tapi saya meminta waktu untuk berpikir dan--tentu saja--menghubungi suami saya yang saat itu masih di rantau. Ibuk mengatakan jangan ambil resiko mengabaikan advis dokter, tapi kepala saya terlalu sibuk dengan berbagai pertanyaan sehingga kalimat Ibuk tidak saya respon dengan baik.

Sisa malam itu saya habiskan dengan mencari rangkaian jawaban dari satu tanya:
Bagaimana ketuban saya bisa keruh?

Dan perlahan duduk perkaranya mulai jelas.

Cairan ketuban yang keruh bisa disebabkan oleh sindrom aspirasi mekonium, dimana kotoran bayi untuk pertama kalinya bercampur dengan cairan ketuban ketika masih di dalam perut atau selama proses persalinan berlangsung. Pada tahap tertentu, mekonium akan semakin banyak tercampur dalam cairan ketuban. Jika mekonium ini tertelan, maka akan membahayakan keselamatan bayi (aspirasi mekonium, lalu berakibat asfiksia ketika lahir). Hiks.

Apa yang menyebabkan keluarnya mekonium? Hipoksia. Ya, seperti yang Dokter SpOG tadi katakan. Hipoksia atau kekurangan oksigen akan membuat aktivitas usus bayi meningkat dan menyebabkan pengenduran pada sfingter anal. Pengenduran inilah yang akan membuat mekonium keluar dan bercampur dengan cairan ketuban. Andai cairan ketuban saya cukup banyak, dokter mengatakan bisa ditunggu sampai HPL (tepat 40 minggu). Tapi karena terbilang sedikit, akan sangat beresiko jika menunggu terlalu lama.

Lalu kenapa bisa hipoksia?
Saya cenderung menyalahkan diri sendiri ketika mempertanyakan itu. Sebab saya langsung tahu jawabannya. Anemia. Saya tidak bisa dikatakan menderita anemia berat, tapi dari hasil pemeriksaan darah terakhir, kadar Hb saya turun dari 11 menjadi 9 dalam waktu sebulan. Dan saya menyesal.
Pola dan menu asupan saya memang agak kacau di bulan terakhir kehamilan. Soalnya jauh dari suami sih  (eh, apa hubungannya?). Minim buah-sayur. Minim zat besi. Dan lagi-lagi, saya katakan saya menyesal.

Setelah perenungan panjang malam itu, dan dengan serentetan kalimat panjang bernada menenangkan dari suami, akhirnya saya memutuskan menerima advis dokter untuk induksi persalinan.

Keesokan harinya suami saya pulang, dan induksi pun dimulai. Asqi lahir selamat dan sehat, 7 jam setelah reaksi induksi yang pertama muncul. Maturnuwun, Gusti.

***

Banyak teman saya yang menyayangkan dilakukannya induksi persalinan "hanya karena" ketuban keruh dan index volume-nya 9. Masih bisa ditunggu sampai ada kontraksi alami, katanya. Tapi.. ah, beberapa mereka tidak merasakan bagaimana rasanya menghawatirkan calon bayi yang sudah dikandungnya 9 bulan. Sebab saya rumongso malas olahraga, rumongso malas makan makanan sehat, jadi saya tidak maksa dan ngoyo. Saya hanya mencoba mengindari terjadinya hal-hal seperti yang ada pada artikel dan postingan yang saya baca. Dan mungkin inilah jalan yang sudah tertulis untuk saya.
Satu hal yang pasti dan patut saya syukuri; saya melahirkan dengan didampingi suami.


Jakarta, awal bulan Juni 2018.