1. SURAT CINTA UNTUK SUAMI

Assalamu'alaikum, suamiku.

Sebenarnya aku ragu mau nulis surat ini. Karena aku tahu betul, kamu tidak memerlukannya dan kamu juga tidak suka membaca tulisan yang terlalu panjang.
Suamiku, seharusnya ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Sudah berkali-kali aku menulis tentangmu, tentang cintaku padamu, tentang betapa bersyukurnya aku menjadi istrimu, meski tak satupun benar-benar kuberikan padamu--aku hanya berani menggunggahnya ke social media dan berharap kamu membacanya tanpa perlu kuminta.

Sayang, masih ingatkah kamu ketika dulu kita memutuskan untuk menikah? Kamu tak benar-benar mengenalku, dan aku juga tak benar-benar mengenalmu. Kita hanya bertemu beberapa kali sebelum kamu datang melamar. Dan hari pernikahan tiba hanya beberapa bulan setelah kita bertemu untuk pertama kalinya. Tapi kamu membuatku merasa pernikahan bukanlah suatu keputusan yang berat. Kamu membuatku percaya pada kalimat itu, bahwa "Marriage is'nt a tough decision, when you meet the right person."

Kamulah orangnya, Mas. Kamu yang berani menemui orang tuaku tanpa tapi-tapi, tanpa nanti-nanti. Kamu yang mengajakku pada hubungan halal, meski banyak anak seusia kita yang lebih memilih untuk saling mengenal lewat pacaran. Dan yang lebih penting, kamu open-minded terhadap segala jenis materi diskusi. Tidak fanatik pada satu hal lalu membenci hal lain. Itulah sikap paling mendasar yang kucari dalam diri seorang laki-laki.
Ketika kutanya mengapa tidak mengambil waktu lebih lama untuk saling mengenal, agar tak menyesal belakangan, kamu malah menjawab, "Tidak perlu. Pada akhirnya akan tetap ada hal yang membuat kita kecewa. Itu dinamika kehidupan. Aku harus menerima, dan kamu juga harus menerimanya."

Aku mengakui jawabanmu sangat gentle, Mas. Untuk itulah aku tidak ragu sama sekali.
Mas, kamu benar. Memang pada akhirnya tetap ada yang membuat kita saling kecewa, meskipun masing-masing kita sudah berusaha mengambil sikap paling sempurna. Aku pun demikian. Dan aku yakin kamu pun merasakannya. Tapi sesering apapun rasa kesal datang, tetap tak bisa menolak kenyataan bahwa kamu adalah ayah yang baik untuk Singa.

Kamu punya segudang kebaikan yang dibutuhkan seorang ayah. Kamu cerdas, berwawasan luas, dan teliti. Kamu terbiasa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Sebagai anak laki-laki, Singa tidak akan pernah menyesal menjadikanmu sebagai role model, Mas.

Kamu juga tipe orang yang selalu punya banyak ide dan senang mempelajari sesuatu. Aku tak pernah melihatmu menyerah pada satu bidang yang belum kamu kuasai. Kalau kamu sudah menyukai sesuatu, maka kamu akan terus mengasah skill-mu sampai kamu berada di tahap expert. Terima kasih, Mas. Kamu selalu membuatku terpukau pada semangatmu, lalu termotivasi untuk ikut belajar. Singa pasti bangga memiliki ayah sepertimu. Wariskanlah sifat-sifat baik itu kepada Singa. Insyaa Allah dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang hebat.

Mas, terima kasih untuk selalu mendukungku dalam menerapkan pola asuhan yang tepat untuk Singa, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Kamu tidak pernah perhitungan soal uang ketika itu berkaitan dengan kebutuhan Singa. Kamu selalu mengusahakan yang terbaik tanpa memanjakan.
Kamu juga peduli pada orang-orang di sekitarmu. Kamu hampir selalu menjadi yang paling awal memberi bantuan. Kamu akan menjadi sosok yang tepat untuk Singa belajar berbagi, agar tidak semaunya sendiri.

Terima kasih sudah banyak membantu, meski aku tahu kamu sudah lelah bekerja seharian. Terima kasih karena tidak mengeluh melihat istrimu banyak kekurangan. Terima kasih, Mas...

Aku tidak tahu apakah selamanya rumah tangga kita akan berjalan harmonis, atau akan ada badai besar yang datang sebagai ujian, seperti halnya badai yang mendatangi rumah tangga Abah dan Ibuk. Aku sama sekali tidak mengharapkannya, Mas. Naudzubillah. Tapi seandainya, ada badai yang mendekat, ada batu yang menghalangi, ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu. Singa mencintaimu. Kami mencintaimu karena Allah yang telah memilihmu untuk kami.

Aku selalu berdoa agar bisa terus membersamaimu dan anak-anak kita kelak. Jika tidak bisa selamanya di dunia, maka akhiratlah tempat kita kembali bersua. Semoga ya, Mas.

Sayang, sehat-sehatlah selalu. Fokuslah pada apa yang ingin kamu capai dalam hidup. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu mendampingimu sampai batas yang Allah izinkan.

Wassalamu'alaikum.

Dari istrimu.

***

Respon suami saya ketika mulai membacanya tentu saja tertawa. Belio merasa lucu karena saya mengiriminya surat cinta. Tapi setelah selesai membacanya, belio langsung mencium saya dan mengucapkan terima kasih. Belio juga minta didoakan agar bisa selalu menjadi suami dan ayah yang baik.


2. POTENSI ANAK

Namanya Arslan Shidqi Albana. Dipanggil Asqi atau Singa. Usianya saat ini adalah 15 bulan. Dia termasuk anak laki-laki yang aktif sejak bayi. Mulai merangkak ketika usianya menjelang 5 bulan, dan sudah berjalan di usia 10 bulan. Pertumbuhan fisiknya juga terbilang cepat. Usia 4 bulan mulai tumbuh gigi, dan di usianya yang sekarang giginya sudah lengkap. Berat dan tinggi badannya juga selalu dalam kurva hijau tua. Alhamdulillah.

Secara bahasa, dia mulai bisa mengucapkan beberapa kata seperti Ayah, mimik, maem, ndak papa, jatuh, basah, kereta, dan habibi. Sudah mengerti kalimat perintah dan meresponnya dengan tindakan yang sesuai. Mengenali benda-benda di sekitarnya, juga anggota tubuhnya dari rambut sampai kaki.
Tapi saya belum bisa mengerucutkan potensi apa yang ada dalam diri anak saya. Dia masih dalam tahap meniru apa yang orang di sekitarnya lakukan. Ayahnya menggambar, dia ikut-ikutan pegang pensil. Ibunya memasak, dia ingin ikut andil dalam memotong wortel. Begitulah. Mungkin masih terlalu dini untuk bicara soal potensi.

Satu yang pasti, dia tidak suka didekte. Ketika memainkan suatu permainan, dia tidak akan mau diberi tahu cara memainkannya dengan lisan. Jika saya tetap ngotot ingin memberitahunya, mainan yang sedang dipegangnya pasti akan dilempar. Dia tidak suka digurui.

3. POTENSI DIRI SENDIRI

Potensi saya? Hm.. saya bisa menggambar, menulis, sedikit menjahit, sedikit memasak, merawat tanaman, beres-beres rumah, apa lagi ya?

Saya orang yang suka kebersihan dan kerapihan, sehingga selalu mengusahakan agar barang-barang di rumah tertata dengan baik.

Saya juga suka belajar. Ketika ada beberapa hal yang belum saya tahu tentang suatu bidang yang saya sukai, saya akan dengan senang hati mempelajarinya, agar makin kaya pengetahuan saya tentangnya. Saya menyukai tema-tema seperti sejarah, filsafat, parenting, seni, sastra, dan sains-fiksi. Tema dari buku-buku yang saya koleksi tidak jauh dari enam bidang tersebut.

Saya pun termasuk tipe wanita jawa pada umumnya, yang "nerimo", manut, dan mengagungkan suami. Saya tidak bisa membentak suami, apalagi berbicara kasar terhadapnya. Pernah sekali saya menaikkan nada bicara--hampir tak terkontrol--dan setelah itu langsung menyesal hebat.

Saya juga tipe ibu yang tidak senang mengekang. Saya membebaskan anak saya mengeksplore setiap hal dalam setiap kegiatan yang kami lakukan. Tentu dengan pengawasan. Contohnya, saya menerapkan metode BLW dalam memberikan MPASI Asqi. Tujuannya agar dia bisa mengeskplore makanannya, dan menikmati kegiatan makan seperti dia menikmati kegiatan bermain. Saya juga senang mengajaknya pergi ke tempat-tempat rekreasi yang belum pernah dia kunjungi, agar dia tahu bahwa dunia ini luas, dan ada banyak hal untuk dijelajahi.

Dari semua hal itu, sejujurnya saya masih tidak tahu pasti apa sebenarnya Kehendak Allah SWT menghadirkan saya di keluarga ini. Mungkin sebagai pelengkap suami saya, dan sebagai fasilitator bagi anak saya untuk belajar mengenal dunia. Mungkin. Saya masih tidak tahu. Saya hanya berusaha memainkan peran sebaik-baiknya, sebagai wanita, istri, dan ibu.

4. LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Lingkungan tempat kami tinggal di Jakarta ini termasuk lingkungan yang padat penduduk. Tinggal di sebuah perkampungan di antara Bungur Besar 6 dan Bungur Besar 7. Tetangga rumah kebanyakan adalah orang tionghoa, yang sering marah-marah setiap kali banyak anak kecil bermain dan berteriak-teriak di depan rumah mereka.

Awalnya saya agak terganggu dengan sikap para tetangga itu, "Kenapa sih harus marah-marah?" begitu tanya saya dalam hati. Tapi seiring berjalannya waktu, datang kesempatan-kesempatan kecil di mana saya bisa menyapa tetangga saya itu dan kami ngobrol santai. Ternyata orang-orangnya sangat baik. Dan dari beberapa obrolan kami, saya jadi tahu alasan kenapa mereka marah-marah pada anak-anak kecil dari kampung sebelah; di rumah mereka ada orang tua sepuh yang tekanan darahnya agak tinggi, sehingga membutuhkan suasana yang tenang untuk bisa istirahat. Dan mereka sendiri pun butuh istirahat dengan nyaman tanpa gangguan teriakan anak-anak.

Saya mulai mengerti sekarang. Saya bisa memahami alasan-alasan itu. Saya tidak bisa menyalahkan para tetangga tionghoa itu, pun tak bisa mengalahkan anak-anak kecil yang senang bermain di jalan depan rumah kami.

Beberapa waktu lalu saya mencoba ikut bermain dengan anak-anak kecil tadi. Lalu ngobrol dengan beberapa anak yang tampak mendominasi perkumpulan. Saya bilang ke mereka, "Kalian ga bosan dimarahi terus sama pemilik rumah itu?" (sambil menujuk rumah tetangga saya). Saya memberi saran kepada anak-anak itu untuk memilih waktu bermain saat para tetangga saya sedang pergi (hari Minggu pagi saat mereka beribadah, atau ketika mobil di garasi mereka tidak ada) atau ketika mereka sudah bangun dari istirahat siang. Sekitar jam 4 atau 5 sore.

Anak-anak itu tidak langsung menanggapi ucapan saya. Tapi selang beberapa waktu, saya makin jarang mendengar suara tetangga tionghoa itu marah-marah. Saya mulai bisa menandai kapan anak-anak itu datang bermain. Syukurlah.

Saya tidak yakin apakah ini adalah salah satu dari Kehendak-Nya menempatkan keluarga kami di lingkungan seperti ini. Kami hanya berusaha sebaik mungkin menjadi warga dan tetangga yang baik.

----------------------------------------------------------------

Semoga dengan mengikuti perkuliahan di IIP, saya bisa belajar membaca Kehendak-Nya kenapa saya hadir di tengah keluarga dan lingkungan ini. Apa misi spesifik saya. Apa tujuan hidup saya. Semoga.


Jakarta, 20 Agustur 2018
Ra'ufina

Banyak kejadian luar biasa hadir dalam keriuhan keluarga kecil kami sepekan terakhir. Dari hal-hal remeh sampai sesuatu yang besar dan tak terduga, yang bahkan kami tak tega menyebutkannya di ranah publik. Lelah karena emosi terkuras. Letih karena terus-menerus memikirkan apa kiranya solusi terbaik yang bisa kami ambil untuk menyelesaikan konflik.

Sampai saya lupa, ada satu tugas yang belum saya sentuh sedikitpun. Dan besok pagi adalah batas akhir pengumpulannya. Saya mohon maaf kepada fasilitator kelas kami, Mbak Sasha, atas kelambatan dan kemalasan saya dalam NHW#2 ini. Seharusnya saya lebih bersungguh-sungguh dan tidak menunda mengerjakannya sampai batas waktu yang ditentukan.

Nice Homework kali ini adalah tentang indikator profesionalisme seorang ibu. Para peserta MIIPB6 diberi tugas untuk membuat checklist indikator profesionalisme yang bisa kami jalankan di kehidupan sehari-hari; sebagai individu, istri, dan ibu. Indikator utama keberhasilan ibu profesional adalah "Menjadi kebanggaan keluarga", dimana kebahagiaan suami dan anak-anak menjadi tolok-ukur nilai profesionalisme. Untuk itulah para peserta diminta mengomunikasikan pada suami dan anak-anaknya, hal-hal apa saja yang membuat mereka merasa bahagia terkait dengan dirinya. Nantinya, jawaban-jawaban itu dapat dijadikan acuan untuk membuat checklist.

Tapi, tapi, tapi... suami saya itu ketika ditanya, "Yah, hal apa yang aku lakukan dan bisa membuat Ayah bahagia? Atau aku harus ngapain gitu biar jadi istri dan ibu yang baik?"
Jawabannya justru, "Lha opo si? Lha mbuh." yang artinya kurang kebih, "Apa sih? Ga tau."
Hhaaaahaha. Begitulah kami. Tidak semua hal bisa dan biasa kami diskusikan (secara lisan), ada hal-hal yang cukup kami aktualisasikan dalam tindakan saja, mengamati satu sama lain untuk kemudian saling mengoreksi kesalahan masing-masing.

Nah, karena judulnya "checklist", seharusnya saya membuat semacam tabel yang berisikan daftar kegiatan atau terget-target yang akan dicapai lengkap dengan patokan waktu dan kolom evaluasi. Tapi, karena saya tidak cukup lihai dalam membuat tabel, saya akan menuangkannya ke dalam narasi.

Silakan disimak~

CHECKLIST INDIKATOR IBU PROFESIONAL

Sebagai Individu
Spiritual
1. Sholat fardhu tepat waktu (setiap hari! No excuse.)
2. Sholat dhuha (min. 2 rakaat setiap hari)
3. Tilawah Qur'an (min. 1 halaman setiap hari)
4. Puasa senin-kamis (selama masa suci)
5. Istighfar (min. 10x dalam sehari)

Pengembangan diri (berkaitan dengan minat dan bakat, serta jurusan yang telah saya ambil di NHW#1)
1. Mengasah keterampilan menggambar (min. menghasilkan 2 gambar dalam 1 pekan)
2. Mencari referensi tutorial menggambar (baik berupa bacaan maupun tontonan) untuk meningkatkan pemahaman teori gambar. (min. 1 video/artikel dalam 1 pekan)
3. Menulis di blog (min. 1 artikel dalam 1 pekan, tidak termasuk artikel NHW)
4. Olahraga ringan; peregangan otot dengan gerakan seperti pemanasan (setiap pagi hari setelah matahari terbit), jogging (max. 1x dalam 1 pekan)

Sebagai Istri
1. Menyiapkan segala keperluan suami sebelum berangkat kerja/dinas luar kota/kegiatan lainnya (setiap hari! Alhamdulillah selama ini sudah diterapkan. Tinggal bagaimana cara meningkatkannya.)
2. Memastikan rumah sudah beres dan masakan sudah siap saji sebelum suami pulang dari kantor (setiap weekdays)
3. Berdandan simple dan memasang roman muka yang "enak dipandang" ketika berhadapan dengan suami. (Ini yang paling sulit, jadi saya tidak akan mematok waktu untuk melakukannya. Sebagai gantinya, saya akan mencatat berapa kali saya gagal melakukannya dalam 1 pekan, lalu mengevaluasinya setelah 3 bulan.)
4. Mengucapkan terima kasih (setiap hari menjelang tidur malam)
5. Tidak meninggalkan piring kotor sebelum tidur; agar tidak repot ketika pagi menyapa, dan leluasa menyiapkan keperluan esok hari. (setiap hari! No excuse.)

Sebagai Ibu
1. Selalu membersamai anak kala ia terjaga (setiap saat)
2. Menciptakan permainan baru untuk mengasah hard and soft skill anak sesuai tahapan usianya (min. 1 permainan dalam 2 hari)
3. Membuat mainan DIY bersama anak (min. 1 mainan dalam 1 pekan)
4. Membuat menu masakan baru agar anak mengenal banyak rasa dan tekstur makanan (min. 1 menu dalam 1 bulan)
5. Mengajak anak bermain/bertamasya ke area publik yang kids friendly (min. 1x dalam 1 pekan, tiap weekend)
6. Mengatakan I Love You, "Ibu bersyukur dengan hadirnya kamu", "Terima kasih untuk hari ini", dan kalimat sejenisnya kepada anak agar ia tahu betapa bahagianya saya menjadi ibu, dan betapa berharganya ia di mata ibu (setiap malam menjelang tidur).

Masing-masing point akan saya evaluasi setiap 3 bulan. Jika belum memenuhi target, saya akan mengulanginya dengan tenggat waktu 1 bulan. Jika sudah terpenuhi, akan saya naikkan kuantitas (sebisa mungkin juga kualitas) di bulan berikutnya. Bismillah~

Terima kasih banyak!

Jakarta, 13 Agustus 2018
Salam,
Ra'ufina.

Ngomong-ngomong soal jurusan, pernahkah ada yang bertanya-tanya kenapa ada begitu banyak jurusan ilmu di dunia ini? Dan dari ribuan, atau bahkan jutaan jurusan itu masih banyak yang mungkin belum kita kenal. Seperti misalnya di Indonesia, ada jurusan yang bernama Batra (pembuatan obat tradisional), Kartografi dan Penginderaan Jauh (cabang dari ilmu Geografi mengenai ilmu pembuatan peta dan metode pengukuran obyek tanpa harus bersentuhan secara langsung), Kriptografi (ilmu persandian), dan masih banyak lagi yang saya sendiri belum pernah mendengarnya.

Ada juga jurusan-jurusan yang tidak terpikirkan sama sekali, yang begitu mendengar namanya, kita akan membatin, "Oh, ternyata ada ya jurusan seperti itu?"

Ini membuat saya semakin yakin, bahwa tiap serpih dari dunia ini memiliki disiplin ilmunya sendiri, meskipun tidak semuanya bisa diajarkan dalam sebuah pendidikan formal. Tiap hal bisa dipelajari, dan tiap-tiap jiwa bebas menentukan mana-mana yang akan mereka tekuni--demi menjalankan fitrahnya sebagai seorang manusia, yaitu belajar.

***

Ada sebuah tugas yang harus saya kerjakan. Tugas ini dikenal sebagai NHW (Nice Home Work) dari Kelas Matrikulasi Batch 6 yang saya ikuti di IIP (Institut Ibu Profesional). Tugasnya gampang-gampang-susah. Meski tidak ada nilai benar-salahnya, jawaban masing-masing peserta akan menunjukkan sejauh mana mereka mengenal potensi diri, menggalinya, untuk kemudian tahu kemana arah tujuannya belajar.

Dan bagi saya yang masih simpang-siur soal potensi diri ini, tugas ini begitu berat. Huhuhu.

Baik, kita langsung saja melihat bagaimana tugasnya. Ada 4 point yang harus dijawab. Dan keempat point itu adalah...

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang hendak kamu tekuni di Universitas Kehidupan ini

Setelah melalui perenungan panjang dan proses menimbang-nimbang beberapa hari ini, ditambah saran dan dukungan dari suami, akhirnya saya mantap memilih jurusan art: ilustration.

Ha. Terdengar main-main ya.

2. Alasan terkuat apa yang kamu miliki sehingga ingin menekuni dunia gambar (khususnya ilustrasi)

Sejujurnya saya tergoda melihat jawaban teman-teman sekelas saat diskusi di WAG tentang NWH#1 kemarin. Sebab banyak dari mereka yang berniat mengambil jurusan yang menurut saya sangat mulia; jurusan ilmu bijak, jurusan ilmu sabar, jurusan parenting, dan seabrek jurusan lain yang bermuara pada peningkatan kualitas diri sebagai orang tua. Bahkan sempat ada guest star di kelas kami bernama Mbak Yessy yang di lembaran profilnya tertulis jurusan kehidupan: parenting dan pendidikan anak, khususnya komunikasi dan home education.

Betapa mulianya. Saya juga ingin menjadi ibu yang baik dengan menekuni ilmu tentang parenting, menuliskannya besar-besar agar semua orang tahu akan hal itu, tapi saya tidak bisa mengabaikan suara hati kecil saya. Saya sangat suka menggambar. Dan menggambar adalah salah satu media healing saya terutama setelah menjadi ibu (rumah tangga).

Saya mulai menggambar sejak kelas 5 SD. Objek yang saya gambar saat itu hanya seputar barbie dan gaun-gaunnya. Lalu kelas VIII SMP saya mulai menyukai gambar-gambar manga. Beranjak SMA baru saya sadar, bahwa ada banyak sekali objek (juga subjek) yang bisa digambar, dan hal paling menyenangkan adalah ketika saya bisa mengilustrasikan satu cerita ke dalam sebuah gambar. Menjelang kelulusan SMA saya berpikir untuk melanjutkan studi ke ranah seni, khususnya seni rupa 2 dimensi. Tapi Ibu menentangnya. Jurusan tidak jelas, kata beliau. Bahkan kemudian saya dilarang mengikuti ujian masuk universitas di luar kota. Kalau mau lanjut sekolah, hanya boleh di Pekalongan, begitu kata beliau.

Pada akhirnya saya masuk ke akademi kebidahan, dengan segala kepadatan jadwalnya yang kemudian membuat saya nyaris tidak sempat menggambar lagi.

Setelah bekerja barulah saya mulai menggambar lagi. Kadang-kadang. Sekadar untuk senang-senang, mengisi waktu luang, dan membahagiakan diri. Tak pernah berniat untuk menekuninya maupun menggali potensi lebih dalam. Sampai kemudian saya menikah dengan seorang yang menghabiskan banyak waktunya untuk satu hal; nggambar. Ya, suami saya hobi menggambar, tapi dia tidak hanya menjadikannya sebagai sebuah hobi kosong, melainkan juga menjadi ladang pekerjaan. Darinyalah saya menyadari bahwa hal sekecil apapun, kesenangan seremeh apapun, bisa menjadi prestasi besar ketika kita fokus dan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Saya ingat betul kalimatnya kala itu:

"Tidak ada yang bisa mengalahkan orang yang fokus dan bersungguh-sungguh. Kamu mungkin meremehkan orang yang hobinya cuma main futsal, orang yang hobinya ngoleksi mainan, joged-joged niruin Idol KPOP, dan yang lainnya. Tapi lihat, Christiano Ronaldo. Dia sukses, populer, duitnya banyak, dapat penghargaan macam-macam, padahal "cuma" main sepak bola. Kenapa? Karena dia fokus. Dia sungguh-sungguh dalam bermain sepak bola. Sehingga dia bisa sukses. Pun demikian dengan kolektor, dancer, penyanyi, pengrajin, selama mereka fokus, mereka bisa sukses di jalan yang mereka tempuh. Tapi kamu tidak akan mendapatkan itu ketika bertindak setengah-setengah."

Untuk itulah saya ingin menekuni kesenangan ini lebih dalam. Lebih serius. Saya ingin menjadi ilustrator--minimal--untuk cerita-cerita yang saya buat. Juga untuk mengekspresikan emosi maupun pengalaman saya dalam suatu kejadian. Saya tidak tahu pasti apa yang sebenarnya saya tuju (Popularitas? Harta?), atau apa yang akan saya dapatkan dengan memilih jurusan ini, tapi satu yang pasti; pada seni rupa, Tuhan memberi saya kata BISA dan SUKA. Saya yakin Dia punya alasan untuk itu. Saya sendirilah yang perlu mencari jawabannya.

Saya tahu ini lebih seperti ego untuk menuntaskan ambisi masa kecil, tapi saya berharap gambar-gambar yang saya hasilkan bisa menjadi kendaraan saya dalam menebar benih kebaikan.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang kamu rencanakan di bidang tersebut

Ada satu nasehat dari seorang teman yang akan saya jadikan pedoman dalam mengarungi dunia gambar:

Teruslah goreskan pensilmu. Teruslah asah imajinasimu. Sejelek apapun hasilnya. Sebab hanya itulah yang akan membuatmu semakin dekat pada kata mahir.

Ya. Saya akan rajin menggambar. Apapun temanya, apapun objeknya. Sampai saya menemukan style saya sendiri. Sembari tidak lelah mempelajari tutorial-turorial dari para ahli, atau mengikuti workshop terkait. Tentu dengan dibantu suami, karena dialah konsultan gambar terbaik dalam hidup saya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang kamu perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut

Musuh terbesar saya adalah mental block. Pemikiran negatif dari alam bawah sadar yang menyabotase potensi dan menghancurkan keyakinan diri, sehingga membuat saya takut melangkah. Mau nggambar, takut hasilnya jelek. Ingin menulis buku, ragu apakah nantinya ada yang baca. Sampai akhirnya tidak menghasilkan apa-apa.

Untuk bisa menjadi seorang ilustrator handal, pertama-tama saya harus menghapus mental block dalam diri saya. Karena hal itu sangat menghambat seseorang dalam meraih kesuksesannya.

Selebihnya saya hanya perlu terus mencoba.

Terima kasih.

Jakarta, 5 Agustus 2018
Salam,
Ra'ufina.