NICE HOMEWORK #3: MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Agustus 20, 2018, by ranafiu

1. SURAT CINTA UNTUK SUAMI

Assalamu'alaikum, suamiku.

Sebenarnya aku ragu mau nulis surat ini. Karena aku tahu betul, kamu tidak memerlukannya dan kamu juga tidak suka membaca tulisan yang terlalu panjang.
Suamiku, seharusnya ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Sudah berkali-kali aku menulis tentangmu, tentang cintaku padamu, tentang betapa bersyukurnya aku menjadi istrimu, meski tak satupun benar-benar kuberikan padamu--aku hanya berani menggunggahnya ke social media dan berharap kamu membacanya tanpa perlu kuminta.

Sayang, masih ingatkah kamu ketika dulu kita memutuskan untuk menikah? Kamu tak benar-benar mengenalku, dan aku juga tak benar-benar mengenalmu. Kita hanya bertemu beberapa kali sebelum kamu datang melamar. Dan hari pernikahan tiba hanya beberapa bulan setelah kita bertemu untuk pertama kalinya. Tapi kamu membuatku merasa pernikahan bukanlah suatu keputusan yang berat. Kamu membuatku percaya pada kalimat itu, bahwa "Marriage is'nt a tough decision, when you meet the right person."

Kamulah orangnya, Mas. Kamu yang berani menemui orang tuaku tanpa tapi-tapi, tanpa nanti-nanti. Kamu yang mengajakku pada hubungan halal, meski banyak anak seusia kita yang lebih memilih untuk saling mengenal lewat pacaran. Dan yang lebih penting, kamu open-minded terhadap segala jenis materi diskusi. Tidak fanatik pada satu hal lalu membenci hal lain. Itulah sikap paling mendasar yang kucari dalam diri seorang laki-laki.
Ketika kutanya mengapa tidak mengambil waktu lebih lama untuk saling mengenal, agar tak menyesal belakangan, kamu malah menjawab, "Tidak perlu. Pada akhirnya akan tetap ada hal yang membuat kita kecewa. Itu dinamika kehidupan. Aku harus menerima, dan kamu juga harus menerimanya."

Aku mengakui jawabanmu sangat gentle, Mas. Untuk itulah aku tidak ragu sama sekali.
Mas, kamu benar. Memang pada akhirnya tetap ada yang membuat kita saling kecewa, meskipun masing-masing kita sudah berusaha mengambil sikap paling sempurna. Aku pun demikian. Dan aku yakin kamu pun merasakannya. Tapi sesering apapun rasa kesal datang, tetap tak bisa menolak kenyataan bahwa kamu adalah ayah yang baik untuk Singa.

Kamu punya segudang kebaikan yang dibutuhkan seorang ayah. Kamu cerdas, berwawasan luas, dan teliti. Kamu terbiasa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Sebagai anak laki-laki, Singa tidak akan pernah menyesal menjadikanmu sebagai role model, Mas.

Kamu juga tipe orang yang selalu punya banyak ide dan senang mempelajari sesuatu. Aku tak pernah melihatmu menyerah pada satu bidang yang belum kamu kuasai. Kalau kamu sudah menyukai sesuatu, maka kamu akan terus mengasah skill-mu sampai kamu berada di tahap expert. Terima kasih, Mas. Kamu selalu membuatku terpukau pada semangatmu, lalu termotivasi untuk ikut belajar. Singa pasti bangga memiliki ayah sepertimu. Wariskanlah sifat-sifat baik itu kepada Singa. Insyaa Allah dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang hebat.

Mas, terima kasih untuk selalu mendukungku dalam menerapkan pola asuhan yang tepat untuk Singa, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Kamu tidak pernah perhitungan soal uang ketika itu berkaitan dengan kebutuhan Singa. Kamu selalu mengusahakan yang terbaik tanpa memanjakan.
Kamu juga peduli pada orang-orang di sekitarmu. Kamu hampir selalu menjadi yang paling awal memberi bantuan. Kamu akan menjadi sosok yang tepat untuk Singa belajar berbagi, agar tidak semaunya sendiri.

Terima kasih sudah banyak membantu, meski aku tahu kamu sudah lelah bekerja seharian. Terima kasih karena tidak mengeluh melihat istrimu banyak kekurangan. Terima kasih, Mas...

Aku tidak tahu apakah selamanya rumah tangga kita akan berjalan harmonis, atau akan ada badai besar yang datang sebagai ujian, seperti halnya badai yang mendatangi rumah tangga Abah dan Ibuk. Aku sama sekali tidak mengharapkannya, Mas. Naudzubillah. Tapi seandainya, ada badai yang mendekat, ada batu yang menghalangi, ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu. Singa mencintaimu. Kami mencintaimu karena Allah yang telah memilihmu untuk kami.

Aku selalu berdoa agar bisa terus membersamaimu dan anak-anak kita kelak. Jika tidak bisa selamanya di dunia, maka akhiratlah tempat kita kembali bersua. Semoga ya, Mas.

Sayang, sehat-sehatlah selalu. Fokuslah pada apa yang ingin kamu capai dalam hidup. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu mendampingimu sampai batas yang Allah izinkan.

Wassalamu'alaikum.

Dari istrimu.

***

Respon suami saya ketika mulai membacanya tentu saja tertawa. Belio merasa lucu karena saya mengiriminya surat cinta. Tapi setelah selesai membacanya, belio langsung mencium saya dan mengucapkan terima kasih. Belio juga minta didoakan agar bisa selalu menjadi suami dan ayah yang baik.


2. POTENSI ANAK

Namanya Arslan Shidqi Albana. Dipanggil Asqi atau Singa. Usianya saat ini adalah 15 bulan. Dia termasuk anak laki-laki yang aktif sejak bayi. Mulai merangkak ketika usianya menjelang 5 bulan, dan sudah berjalan di usia 10 bulan. Pertumbuhan fisiknya juga terbilang cepat. Usia 4 bulan mulai tumbuh gigi, dan di usianya yang sekarang giginya sudah lengkap. Berat dan tinggi badannya juga selalu dalam kurva hijau tua. Alhamdulillah.

Secara bahasa, dia mulai bisa mengucapkan beberapa kata seperti Ayah, mimik, maem, ndak papa, jatuh, basah, kereta, dan habibi. Sudah mengerti kalimat perintah dan meresponnya dengan tindakan yang sesuai. Mengenali benda-benda di sekitarnya, juga anggota tubuhnya dari rambut sampai kaki.
Tapi saya belum bisa mengerucutkan potensi apa yang ada dalam diri anak saya. Dia masih dalam tahap meniru apa yang orang di sekitarnya lakukan. Ayahnya menggambar, dia ikut-ikutan pegang pensil. Ibunya memasak, dia ingin ikut andil dalam memotong wortel. Begitulah. Mungkin masih terlalu dini untuk bicara soal potensi.

Satu yang pasti, dia tidak suka didekte. Ketika memainkan suatu permainan, dia tidak akan mau diberi tahu cara memainkannya dengan lisan. Jika saya tetap ngotot ingin memberitahunya, mainan yang sedang dipegangnya pasti akan dilempar. Dia tidak suka digurui.

3. POTENSI DIRI SENDIRI

Potensi saya? Hm.. saya bisa menggambar, menulis, sedikit menjahit, sedikit memasak, merawat tanaman, beres-beres rumah, apa lagi ya?

Saya orang yang suka kebersihan dan kerapihan, sehingga selalu mengusahakan agar barang-barang di rumah tertata dengan baik.

Saya juga suka belajar. Ketika ada beberapa hal yang belum saya tahu tentang suatu bidang yang saya sukai, saya akan dengan senang hati mempelajarinya, agar makin kaya pengetahuan saya tentangnya. Saya menyukai tema-tema seperti sejarah, filsafat, parenting, seni, sastra, dan sains-fiksi. Tema dari buku-buku yang saya koleksi tidak jauh dari enam bidang tersebut.

Saya pun termasuk tipe wanita jawa pada umumnya, yang "nerimo", manut, dan mengagungkan suami. Saya tidak bisa membentak suami, apalagi berbicara kasar terhadapnya. Pernah sekali saya menaikkan nada bicara--hampir tak terkontrol--dan setelah itu langsung menyesal hebat.

Saya juga tipe ibu yang tidak senang mengekang. Saya membebaskan anak saya mengeksplore setiap hal dalam setiap kegiatan yang kami lakukan. Tentu dengan pengawasan. Contohnya, saya menerapkan metode BLW dalam memberikan MPASI Asqi. Tujuannya agar dia bisa mengeskplore makanannya, dan menikmati kegiatan makan seperti dia menikmati kegiatan bermain. Saya juga senang mengajaknya pergi ke tempat-tempat rekreasi yang belum pernah dia kunjungi, agar dia tahu bahwa dunia ini luas, dan ada banyak hal untuk dijelajahi.

Dari semua hal itu, sejujurnya saya masih tidak tahu pasti apa sebenarnya Kehendak Allah SWT menghadirkan saya di keluarga ini. Mungkin sebagai pelengkap suami saya, dan sebagai fasilitator bagi anak saya untuk belajar mengenal dunia. Mungkin. Saya masih tidak tahu. Saya hanya berusaha memainkan peran sebaik-baiknya, sebagai wanita, istri, dan ibu.

4. LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Lingkungan tempat kami tinggal di Jakarta ini termasuk lingkungan yang padat penduduk. Tinggal di sebuah perkampungan di antara Bungur Besar 6 dan Bungur Besar 7. Tetangga rumah kebanyakan adalah orang tionghoa, yang sering marah-marah setiap kali banyak anak kecil bermain dan berteriak-teriak di depan rumah mereka.

Awalnya saya agak terganggu dengan sikap para tetangga itu, "Kenapa sih harus marah-marah?" begitu tanya saya dalam hati. Tapi seiring berjalannya waktu, datang kesempatan-kesempatan kecil di mana saya bisa menyapa tetangga saya itu dan kami ngobrol santai. Ternyata orang-orangnya sangat baik. Dan dari beberapa obrolan kami, saya jadi tahu alasan kenapa mereka marah-marah pada anak-anak kecil dari kampung sebelah; di rumah mereka ada orang tua sepuh yang tekanan darahnya agak tinggi, sehingga membutuhkan suasana yang tenang untuk bisa istirahat. Dan mereka sendiri pun butuh istirahat dengan nyaman tanpa gangguan teriakan anak-anak.

Saya mulai mengerti sekarang. Saya bisa memahami alasan-alasan itu. Saya tidak bisa menyalahkan para tetangga tionghoa itu, pun tak bisa mengalahkan anak-anak kecil yang senang bermain di jalan depan rumah kami.

Beberapa waktu lalu saya mencoba ikut bermain dengan anak-anak kecil tadi. Lalu ngobrol dengan beberapa anak yang tampak mendominasi perkumpulan. Saya bilang ke mereka, "Kalian ga bosan dimarahi terus sama pemilik rumah itu?" (sambil menujuk rumah tetangga saya). Saya memberi saran kepada anak-anak itu untuk memilih waktu bermain saat para tetangga saya sedang pergi (hari Minggu pagi saat mereka beribadah, atau ketika mobil di garasi mereka tidak ada) atau ketika mereka sudah bangun dari istirahat siang. Sekitar jam 4 atau 5 sore.

Anak-anak itu tidak langsung menanggapi ucapan saya. Tapi selang beberapa waktu, saya makin jarang mendengar suara tetangga tionghoa itu marah-marah. Saya mulai bisa menandai kapan anak-anak itu datang bermain. Syukurlah.

Saya tidak yakin apakah ini adalah salah satu dari Kehendak-Nya menempatkan keluarga kami di lingkungan seperti ini. Kami hanya berusaha sebaik mungkin menjadi warga dan tetangga yang baik.

----------------------------------------------------------------

Semoga dengan mengikuti perkuliahan di IIP, saya bisa belajar membaca Kehendak-Nya kenapa saya hadir di tengah keluarga dan lingkungan ini. Apa misi spesifik saya. Apa tujuan hidup saya. Semoga.


Jakarta, 20 Agustur 2018
Ra'ufina

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog