SURAT CINTA #3: KLISE

Saya kira, jawaban dari mengapa pernikahan bukan tindakan main-main adalah karena tidak mudahnya menyatukan dua pribadi dari dua lingkungan yang berbeda, ke dalam satu bejana kehidupan yang sama; saya dengan didikan dari keluarga saya yang seperti ini, dan dia dengan didikan keluarganya yang seperti itu, disatukan dalam sebuah komitmen besar untuk bersama membangun balok-balok rumah tangga dengan segala problematika di dalamnya. Tentu itu bukan hal yang mudah. Perbedaan cara pandang, isi kepala, tingginya ego, dan dua kemauan yang berselisih menjadi dasar permasalahan sehari-hari. Perkara-perkara seperti balok bagian mana yang akan lebih dulu disusun, bagaimana konsep susunannya, dan lain sebagainya, sedikit banyak menimbulkan pesilangan pendapat dan berujung pada masalah.

Beruntung, saya mendapatkan suami yang demikian baik. Sikapnya yang santai, senang bercanda, dan jauh dari kata pemarah, serta caranya menyingkirkan pilihan-pilihan rumit dalam mengambil keputusan; membuat saya mudah menyesuaikan diri, dan enteng saja menjalani hari-hari bersamanya.
Banyak pasangan di luar sana membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal, sebelum memantapkan diri menuju jenjang pernikahan. Tapi kami tidak. Hanya butuh tiga kali bertatap muka dan dua bulan perkenalan, kami mantap melangkah.

Saya ingat betul satu statement-nya yang kemudian membuat saya yakin bahwa dia memang orang yang tepat. Ketika dulu dia mengutarakan niatnya untuk menemui orang tua saya, saya sempat bertanya, "Apa tidak ingin kenalan lebih dulu?"

Dia menjawab, "Kayaknya ga perlu sih. Buat apa. Mau bagaimanapun pasti akan ada sikap yang membuat kecewa atau kurang cocok. Tapi ya memang seperti itulah dinamika kehidupan. Aku harus menerima, dan kamu harus menerima."
Cukup.

*

Hari ini, tepat sembilan bulan kami melangsungkan pernikahan, dan sembilan bulan saya menjalani kehamilan. Dalam hitungan minggu, atau bahkan dalam hitungan hari ke depan, akan hadir manusia baru yang menjadi bukti cinta kami sekaligus hadiah dari Tuhan.
Tanggung jawab bertambah. Akan ada banyak hal berubah. Tapi semoga, cinta kami tidak.
Klise ya. Cinta memang alasan yang klise. Tapi ketika segala materi dan kenikmatan duniawi dicabut dari badan, ketika prinsip-prinsip menjadi ujian, apa lagi yang membuat seseorang bertahan di sampingmu sampai tua kalau bukan cinta?

Pekalongan, 11 April 2017

0 comments:

Posting Komentar