SURAT CINTA #5: HARI AYAH DAN CERITA TENTANG LUPA

November 13, 2017, by ranafiu

Meski tidak selalu harmonis, kami termasuk pasangan yang jarang ribut. Dan kami memang tidak suka ribut. Tapi ada kalanya miskomunikasi itu muncul, sehingga memicu kesalahpahaman yang berujung saling diam-mendiamkan. Saya lah yang lebih sering memulainya duluan. Kebiasaan buruk (sebagian) wanita yang lebih suka "mengode" alih-alih mengatakan langsung apa yang diinginkannya, membuat saya (sebagai bagian dari populasi wanita yang suka ngode itu hiks) sering nesu-nesu gak jelas. Ditanya maunya apa, gak njawab. Ditawari bantuan, tetap diam. Giliran didiamkan, malah ngambek. Begitulah. Saya sendiri bingung kenapa bisa seperti itu.
Suami saya sangat santai menghadapi tingkah laku saya yang semacam itu. Sehingga dengan sendirinya suasana di rumah kami bisa kembali cair tanpa perlu ada yang marah-marah atau menyesal.

Dia juga santai menghadapi saya yang super ceroboh dan pelupa. Benda apapun yang saya pegang akan jatuh. Pasti. Terutama ketika sedang beberes dapur. Bunyi klentang-klentang cangkir stainless atau panci yang terpelanting mencium lantai sudah sangat akrab di telinga. Itu bagian cerobohnya. Bagian pelupanya, apa yang seharusnya dibawa seringkali ketinggalan, dan apa yang sudah dibawa tidak kembali pulang. Parah ya? Iya memang.


Yang paling saya ingat adalah ketika suami saya baru saja membeli hape baru. Hapenya dia masukkan ke saku, dan box-nya, yang berisi booklet panduan, kartu garansi, lengkap dengan charger dan earphone, diserahkan pada saya untuk dipegang saat kami naik motor menuju pembelian simcard. Pulang dari konter, beberapa meter saja sebelum sampai rumah, saya baru ingat kalau box-nya ketinggalan di konter. Untung ga sekalian hapenya. :3

Suami saya pun langsung putar balik, dan syukurlah box-nya masih utuh. Bahkan mas-mas penjualnya ga ngeh kalo ada box ketinggalan di situ.

Dan setelah semua itu, suami saya cuma bergumam, "Kowe kok biso lalinan ngunu ki piye, Nduk?"
Pernah juga saat naik Go-Car dalam perjalanan menuju Bandara Sam Ratulangi Manado, saya ketiduran sambil nyusui Asqi. Lalu begitu sampai bandara, saya langsung bangun dan keluar mobil tanpa mengecek saku rok. Hape saya terjatuh di jok. Dan saya baru menyadari ketika kami sudah masuk ke lobi bandara. Suami sayalah yang gerak cepat menghubungi sopir Go-Carnya dan mengambil kembali hape saya yang terjatuh di jok itu. Untung mobilnya belum jauh, dan sopirnya jujur mau mengantarkan kembali hape saya.

Lalu, seperti sebelum-sebelumnya, suami saya hanya bilang, "Nduk, Nduk, kok biso ceroboh ngunu ki piye kowe?"

Heuheu. Maaf ya.

Kami berdua bagaikan bumi dan langit. Saya buminya. Yang ceroboh, pelupa, tempat orang-orang membuang ludah. Dan dia langitnya. Teliti, berhati luas, tempat orang-orang menggantungkan asa.
Hanya Tuhanlah yang tahu betapa tak henti-hentinya saya bersyukur diberi suami sebaik dia. Semoga makin hari saya dapat mengimbangi kebaikannya.

Selamat ulang tahun, Ophand Albana. Selamat Hari Ayah Nasional. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Dan tetaplah seperti itu.

Ternate, 13 November 2017.
Diketik dengan rindu, antara Weda dan Koloncucu.

0 comments

Hi,

Thank you for visiting my blog. Hope you enjoy reading it. I'm so glad if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism to me to be able to write better.

Search on My Blog