Ada yang bilang, ketika kita akan pindah ke tempat baru, pandangan kita terhadap orang-orang yang akan kita temui nanti sangat bergantung pada bagaimana kita memandang orang-orang yang kita tinggalkan di tempat lama. Itu bukan berarti karakter dan tingkah laku orang-orang di tempat sebelumnya akan selalu senada dengan yang akan kita temui di tempat baru. Bukan tentang orang-orang itu. Justru semuanya berpusat di dalam diri kita, di hati dan pikiran kita, sebagai pelaku utama. Sudut pandang yang kita ambillah yang akan menentukan bagaimana orang-orang itu di mata kita. Dan bagaimana orang-orang itu kepada kita.

***

Dulu suami saya pernah mengatakan bahwa Jakarta bukan tempat yang baik untuk memulai sebuah keluarga, terlebih untuk membesarkan anak. Lingkungan, pergaulan, cara pandang, terlalu banyak hal yang jauh dari ideal, katanya. Lalu saya mulai berpikir, mungkin Jakarta memang seburuk itu. Sejak kecil saya banyak mendengar cerita tentang orang-orang yang merantau ke sana tapi tak juga kaya. Sebab katanya Jakarta itu keras. Bengis. Tak kenal belas kasih pada orang-orang kecil yang ingin numpang mengais rejeki. Sering pula televisi di rumah kami menampilkan berita kriminal yang terjadi di ibu kota. Juga tentang betapa kentalnya individualisme di sana. Belum lagi perang politik antar-pejabat negeri yang tak juga saya pahami. Sampai kemudian muncul ungkapan, "Ibu kota itu lebih kejam daripada ibu tiri."

Ya, mungkin Jakarta memang semengerikan itu.

Dengan sendirinya saya memilih untuk tidak mendoakan suami pindah kerja ke Jakarta. Jangan. Jangan sampai kami pindah ke sana. Tapi kenyataan berkata lain. SK mutasi datang dan dari ratusan kota yang ada, Jakartalah yang tertulis di dalamnya. Ada rasa cemas dan ketakutan tak terdefinisi yang hinggap dalam benak saya. Saya rasa, saya tidak siap.

***

Kedatangan kami ke Jakarta disambut oleh teriakan caci maki dari mulut ibu-ibu yang bertengkar entah karena apa. Saling sahut dengan suara sangat lantang dan kalimat-kalimat kasar. Tepat di depan rumah kontrakan yang baru saja kami tinggali. Saya buru-buru menutup pintu pagar, lalu membatin, beginikah Jakarta, Ya Tuhan?

Satu minggu berselang. Dua minggu. Lalu sebulan. Dengan makin banyaknya tempat yang kami kunjungi, makin banyaknya orang yang kami temui, saya menyadari sesuatu: Jakarta tidak seburuk yang saya kira sebelumnya. Kamu tahu, Jakarta tidak semengerikan itu.

Jakarta adalah definisi dari banyak cerita. Tentang kejahatan. Kebaikan. Kekerasan. Keramah-tamahan. Konflik. Keharmonisan. Depresi. Romantisme. Kesibukan. Rasa tenggang. Gotong royong. Kesuksesan. Miskin. Kejam. Kehangatan. Dia adalah tempat orang-orang membuang kotoran, sekaligus menjadi tanah dimana mereka meletakkan jangkar-jangkar harapan agar mimpinya tidak hilang tergerus arus. Jakarta menjadi tempat bernaung para bandit, sekaligus menjadi gubuk bagi manusia-manusia berhati lembut yang membagi kehangatannya lewat senyum tiap kali bertemu tatap. Jakarta itu kumuh, tapi juga mewah. Jakarta adalah dua sudut pandang berbeda bagi dua orang yang memiliki kesenjangan tingkat ekonomi. Kamu mungkin akan mendapat jawaban yang saling bertolak belakang saat bertanya tentang Jakarta pada orang-orang yang punya segudang ambisi, lalu pada mereka yang tidak. Jakarta akan selalu menyimpan kisah, entah pedih entah bahagia, milik raga-raga yang pernah bersandar padanya.


Terlepas dari sisi hitam yang banyak orang yakini tentang Jakarta, saya bersyukur berada di sini. Tinggal di kota yang menjadi pusat berkumpulnya ide-ide, dialog, orang-orang “sukses” dari berbagai penjuru. Kota yang menjadi saksi menjamurnya aktivitas berkarya dari banyak bidang. Ada banyak peluang. Ada banyak kelas-kelas ilmu tanpa bangunan, yang leluasa kamu masuki dengan bekal niat baik di hati. Ada banyak sekali hal bagus yang tersebar di sudut-sudut kota ini. Kekhawatiran awal tentang pengasuhan anak pelan-pelan sirna dengan kunjungan ke banyak tempat yang memenuhi 3 kriteria; edukatif, baby friendly, dan terjangkau (baik secara biaya maupun jarak). Dan saya bahagia. Setidaknya, saya bisa melihat rona bahagia di wajah suami saat bercerita tentang apa yang ia kerjakan di luar rumah, meskipun tubuhnya tampak lelah. Dan, sekali lagi, itu cukup untuk membuat saya merasa lebih bahagia.

Ditulis dengan cinta, Jakarta, 9 Desember 2018

"Kenapa sih, Bapak nyekolahin anak-anak Bapak di sekolah Muhammadiyah?" Pertanyaan itu pernah terlontar dari mulut saya, beberapa waktu silam.
Entah sudah berapa puluh kali saya merepotkan Bapak dengan mempertanyakan hal-hal kekanakan semacam itu. Hal-hal yang tidak pokok, yang seringkali hanya berfungsi untuk meloloskan rasa ingin tahu seorang bocah yang ingin dianggap dewasa.

Kelima anak Bapak, dari Mbak Liya hingga Aufa (tidak termasuk Bina, yang telah lebih dulu meninggal pada usia pertamanya), selalu disekolahkan di sekolah yang sama: TK Aisyiyah, dan SD Muhammadiyah. Turun-temurun, sampai guru-guru di kedua sekolah itu mengenal kami sebagai saudari bagi yang lain. Baru ketika SMP, kami dibebaskan untuk memilih sekolah negeri favorit yang diinginkan.

"Yo ben anak-anake Bapak biso sinau agomo." Jawab Bapak sekedarnya. Tenang. Dalam.

"Tapi, kenapa sekolah Muhammadiyah?" Saya kembali bertanya. Dalam hati berteriak, 'kenapa nggak NU, Pak?' Dan tampaknya Bapak mengerti, apa motif sebenarnya dari pertanyaan ini.

"Kenopo nggak NU, gitu?" Tembaknya langsung. Saya merasa menang, merasa sukses menggiring Bapak pada titik yang saya inginkan tanpa harus mengatakannya. Tapi pada saat yang sama, sesuatu dalam ekspresi Bapak membuat saya menyesal.

"Ndhuk, jangan dikira Bapak itu fanatik pada satu golongan." Bapak mulai menjelaskan. Dan sesal itu makin kuat saya rasakan. "Enggak. Bapak cuma pingin kalian memiliki bekal pengetahuan agama sejak kecil. Tapi karena Bapak dan Ibumu ini orang bodoh, yang nggak bisa ngajarin anak-anaknya tentang agama, ya sudah jadi tanggung jawab Bapak untuk memilihkan sekolah yang bagus buat kalian, yang bercorakkan Islam." Bapak memberi jeda pada kalimatnya. Sejenak. Membiarkan saya bebas mengamati pahatan wajahnya, dan mengambil kesimpulan bahwa pada sisi tertentu, Bapak begitu mirip dengan Anggito Abimanyu.

"Kenapa Muhammadiyah, karena Bapak cari yang dekat rumah. Kalau Bapak harus menyekolahkan kalian ke Kauman, itu terlalu jauh. Bapak kan gak bisa setiap hari antar-jemput. Di Bendan dekat, kalian bisa pulang naik angkutan umum sendiri. Bapak gak terlalu khawatir." Penjelasan itu ditutupnya dengan nada yang terdengar apik di telinga.

Kauman adalah sebuah daerah dekat alun-alun kota yang--entah bagaimana sejarahnya--sarat akan NU. Di sana berdiri banyak madrasah berlogo bintang songo; dari ibtidaiyah hingga aliyah; juga Masjid Agung tempat berlangsungnya berbagai acara besar keagamaan. Saking kentalnya nuansa NU di sana, saya sampai mengira, orang-orang di Kauman pastilah Nahdliyyin semua.

Sedangkan Bendan, Bendan merupakan nama desa di mana sekolah kami, SD Muhammadiyah 02, mengokohkan gedungnya. Jaraknya hanya sepuluh menit bersepeda dari rumah kami; satuan ukur yang Bapak sebut sebagai "dekat".

***

Kiai Haji Ahmad Dahlan, saya bisikkan nama itu perlahan. Untuk sejenak mengingat bagaimana pribadi besar itu berjuang membangun peradaban.

Kala itu, mentari di langit Jogja sedang terik-teriknya. Kemarau yang memanjang telah memaksa warga sekitar untuk menerima kondisi alam walau bagaimanapun ganasnya. Mereka yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan para ningrat maupun memegang suatu jabatan di pemerintahan akan terus memacu diri ke ladang, ke sawah, ke pasar, dan segelintir sisanya ke pabrik-pabrik. Bekerja tanpa rehat untuk upah yang tak seberapa, dalam ketat aturan yang semena-mena.

Di titik inilah, di antara riuh rendah orang-orang yang berlalu-lalang, mengintip di balik jendela berkusen jati, seorang pemuda terduduk diam. Dalam kepalanya bersarang keresahan: tanah airnya tak kunjung merdeka. Ratusan tahun lamanya Belanda menduduki pertiwi, belum juga tampak tanda-tanda akan berhasilnya perjuangan pribumi.

Aroma keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani pun mulai tercium saat itu. Munculnya faktor-faktor seperti pemberontakan internal, kemerosotan kondisi sosial dan ekonomi, juga tekanan dari gerakan sekulerisasi Barat, membuat ketahanan kekhalifahan goyah. Konflik dimana-mana, kerusuhan menjadi tak terhindarkan, Barat terus melakukan serangan, dan Ottoman terancam jatuh. Ini bukan prognosa yang baik, tentu saja. Robohnya pilar kekhalifahan yang masih tersisa hanya akan memperparah keadaan umat Islam di negeri-negeri terjajah. Apa yang bisa dibanggakan dari suatu kaum yang kehilangan kejayaan dan tidak lagi memiliki pusat pemerintahan? Meski tak bisa dikatakan bahwa Ottoman mewakili seluruh lapisan muslim di dunia, dia adalah ikon peradaban ummat yang tersisa. Lalu apa yang bisa diharapkan dari suatu kaum yang tidak akan lagi memiliki sistem peradaban?

Maka demikianlah ummat Islam (di negeri terjajah) dipandang saat itu, atau setidaknya, begitulah menurut pemuda yang mengintip di balik jendela berkusen jati.


http://pribuminews.com/wp-content/uploads/2015/08/Pengurus-Muhammadiyah-1918-1921.jpg

Namanya Muhammad Darwis. Beberapa waktu yang lalu, sepulangnya dari lima tahun masa belajarnya di Makkah, dia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Konon, sejak saat itu, dia mulai berani menampilkan diri sebagai pemuda yang bersemangat dalam dakwah. Aktif menuturkan pemikiran-pemikirannya tentang kemajuan ummat kepada beberapa kalangan, termasuk di dalamnya para guru dan keluarganya sendiri.

Ide-ide tentang modernisasi pendidikan, sistem ekonomi, sosial, dan kesadaran politik yang dipropagandakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha--selama belajar di Makkah--sedikit banyak memberikan gambaran apa langkah yang hendak dia ambil demi kemerdekaan bangsanya. Menurutnya, ummat Islam di Indonesia harus mengejar ketertinggalan-ketertinggalan mereka selama ini. Bagaimana mau balik menyerang kalau tidak tahu senjata lawan? Katanya. Maka bagi Dahlan, mempelajari apa yang dipelajari oleh Belanda adalah perlu.

Didirikannya sekolah diniyah dengan metode pembelajaran seperti yang ada dalam sekolah-sekolah resmi Belanda. Dahlan mengkombinasikan pelajaran agama dengan pengetahuan umum seperti bahasa inggris, matematika, dan sains. Ah, iya, dan satu lagi: seni. Tujuannya, tentu saja, untuk meningkatkan kualitas anak bangsa melalui jalur pendidikan dengan tetap berpijak pada Islam. Meski, yaah~ tidak semua orang mau sependapat.

Dia bergabung ke dalam organisasi Boedi Oetomo beberapa tahun kemudian. Langkahnya kali ini langsung mendapat kecaman dari sebagian besar tokoh agama Islam termasuk keluarganya sendiri, sebab Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi sekuler-kejawen yang tidak pantas diikuti oleh seorang kiai macam Ahmad Dahlan.

Dahlan menghirup napas sejenak. Disandarkannya punggungnya pada kursi kayu di ruang depan. Sudah sejauh ini, batinnya, dia tidak boleh berhenti. Beberapa langkah lain dia ambil dengan perhitungan matang, dan sebagai puncaknya, didirikannya Muhammadiyah: sebuah organisasi yang kelak menjadi wadah sekaligus kendaraan baginya untuk menjalankan visi dan misi.

Muhammadiyah yang kini lebih dikenal sebagai identitas bagi muslim yang tidak memakai doa qunut dan menolak upacara tahlilan itu sebenarnya tidak ditujukan untuk hal-hal demikian. Muhammadiyah, dengan segala detailnya, mengajarkan pada anggotanya untuk menjadi muslim yang mandiri secara ekonomi, berilmu, dinamis, dan (sebisa mungkin) memiliki amalan-amalan yang bersifat sosial.

Dengan begitu, rakyat akan menjadi cukup kuat untuk bangkit melawan. Dan memang kemudian itu toh yang terjadi?

***

Bapak saya bukan seorang pengurus Muhammadiyah, asal kamu tahu. Bapak tidak pernah terlibat dalam kepengurusan organisasi itu. Punya KTA-M pun tidak. Dia sosok yang terlampau biasa saja untuk memiliki kesibukan di komunitas. Tapi sejauh saya bisa mengingat, setiap kali saya bertanya atau menuntut fatwa darinya atas suatu perkara yang saya ragukan asal-muasal sumbernya, Bapak selalu memberi pertimbangan yang--baru saya tahu setelah dewasa--tidak jauh jauh dari isi HPT (Himpunan Putusan Tarjih). Meski saya yakin, sekalipun Bapak belum pernah membaca kitab itu.

Sampai di sini, saya mengerti. Tindakan menyekolahkan anak-anaknya di Bendan bukanlah perkara jarak yang katanya "lebih dekat". Bapak, saya meyakini, memang menyimpan ruh Muhammadiyah dalam dirinya.

Dan saya takzim. Sebab seorang teman pernah berkata, "Kamu tahu apa yang paling membuat Ahmad Dahlan sedih? Ialah ketika orang-orang Muhammadiyah kehilangan ruh kemuhammdiyahannya."

Bapak saya menyimpan ruh itu. Dan akan tetap begitu seterusnya.
Mungkin setelah ini, saya hanya perlu membuat catatan lanjutan dengan judul, "Pak, Saya Boleh NU?"

Pekalongan, 15 September 2010
Pak, Saya Boleh NU?

Saya tidak tahu, bagaimana persisnya seseorang boleh disebut atau menyebut dirinya sebagai seorang Nahdliyyin, hingga orang-orang di luar sana mengira; saya NU.

"Roup kui NU!" Begitu kata seorang teman ketika dalam suatu percakapan, kami membahas latar belakang keluarga masing-masing lengkap dengan tradisi-tradisi yang melingkupinya. Saya mesam-mesem saja mendengar pernyataan-tanpa-diminta itu.

Perlu kalian tahu, saya ini tidak punya KARTANU, tidak pernah aktif dalam organisasi ke-NU-an, tidak juga mondok di pesantren konservatif milik Kiai NU. Bahkan lahir dari keluarga NU saja tidak. Ngaji kitab juga tidak, apalagi mengamalkan seluruh ajaran ahlussunah waljamaah. Ndak.
Lalu, di mana letak ke-NU-an saya?

Kalo mau diklothok kulit luarnya saja, lalu diambil kesimpulan mentah bahwa NU adalah mereka yang rutin qunut, niat pake usholli, dzikir dengan prinsip jahr, menyenangi ziaroh kubur, mencintai para ulama, yaasinan dan tahlilan, matangpuluh dino, nyatus, nyewu, manaqiban, barzanzinan, dan segala-gala ritual yang seabrek barokahnya itu, maka percayalah, saya bukan NU.

"Saya Muhammadiyah." Demikian pengakuan saya suatu hari, kepada seorang teman yang lain.

Dan dia terkejut, "Masa njenengan Muhammadiyah, Mbak? Nggak percaya."

"Lho, kok nggak percaya?"

Saat saya tanya kenapa, dia menjawab, "Hehe, nggak kelihatan Muhammadiyahnya, Mbak."

Mungkin, mungkin lho ya, mereka menilai pandangan-pandangan dan pemikiran saya sudah terlalu 'bebas' dan 'nyleneh' untuk seorang yang mengaku Muhammadiyah. Tidak--ehem, maaf--'kaku' seperti beberapa orang yang biasanya vokal. Huehue. Saya sendiri menyadari bahwa saya hanyalah Muhamadiyah bawaan. Hanya karena sejak kecil saya bersekolah di sekolah Muhammadiyah, terbiasa mengikuti ketetapan yang berlaku dalam Muhammadiyah, dan beribadah ala Muhammadiyah, lantas saya mengimaninya sampai mendarah daging.

Makin dewasa, lingkungan dan lingkaran pertemanan saya justru makin diwarnai oleh manusia-manusia NU, baik yang garis keras maupun yang terlampau toleran. Baik yang santri maupun bukan. Baik yang tulen maupun gadungan. Hahaha. Membawa saya pada pemahaman lain di luar Muhammadiyah--pemahaman akan NU--dan pada satu titik di kemudian hari, membuat saya mulai mencintainya.

***

K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sumber: Bangkitmedia.com

Adalah K. H. Hasyim Asy'ari, seorang laki-laki dari garis keturunan Sunan Giri, yang menghabiskan masa remajanya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Memperdalam ilmu dari satu guru ke guru lainnya. Dan kelak di suatu masa, menjadi tokoh paling penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Ada satu fase dalam deret panjang perjalanan hidup Kiai Hasyim yang lebih ditekankan ketika banyak orang berbicara tentang identitas NU yang sebenarnya. Satu fase yang teramat manis untuk dikenang. *halah

Kala itu, Kiai Hasyim bertolak ke Makkah untuk belajar agama islam kepada beberapa guru, satu di antaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, tepat ketika Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaruan pemikiran islam. Abduh mengajak ummat islam untuk memurnikan kembali islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari islam, juga melakukan reformasi di bidang pendidikan, sosial, dan politik. Lalu untuk beberapa alasan, Abduh menggencarkan ide agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan pada pola pikiran para mazhab.

Syaikh Ahmad Khatib mendukung pemikiran-pemikiran Abduh, meskipun dalam beberapa hal, ia berbeda. Sikap mendukung inilah yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya. Salah satu di antara banyak muridnya bernama K. H. Ahmad Dahlan, yang sepulangnya dari Makkah turut mengembangkan ide-ide Abduh dengan mendirikan Muhammadiyah.

Kiai Hasyim bukan tidak senang dengan buah pikiran Abduh. Dia--sama juga dengan murid yang lain--mendukung ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali islam. Akan tetapi, dia menolak pemikiran Abduh agar ummat islam melepaskan diri dari keterikatan kepada mazhab. Baginya, tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Hadits tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang terhimpun dalam sistem mazhab. Sangat tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah tanpa melalui jalur ilmu para ulama hanya akan menghasilkan pemutarbalikan dari ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya. Demikian menurut Kiai Hasyim.

Dan itulah, saya kira, sumbu pembeda dari segala beda yang ada.

Dalam perkembangannya, benturan pendapat antargolongan--yang bermazhab (kelompok tradisional; diwakili oleh kalangan pesantren) dengan yang tidak bermazhab (kelompok modernis; diwakili oleh Muhammadiyah dan Persis)--itu memang tidak terelakkan. Dan dalam tahap ke sekian, mengantarkan Kiai Hasyim pada satu keputusan untuk membentuk sebuah komite berjuluk Nahdlatul Ulama.

***

Tuduhan sebagai seorang Nahdliyyin yang ditujukan orang-orang kepada saya tentu saja membuat saya bangga. Bagaimana tidak? Dituduh sebagai manusia yang doyan ngaji, memiliki pemahaman agama yang mengakar, toleran, luwes, tidak grusah-grusuh dan asal nuduh, serta kuat melek sambil ngopi dan guyon semalaman, lha yo mesti bangga.

Banyak hal dari NU yang saya suka, terutama tentang kegemaran mereka mengambil keutamaan-keutamaan dalam sebuah hadits peribadatan, juga cara mereka menyajikan contoh-contoh kejadian sederhana sebagai analogi bagi perkara-perkara yang sedang diperdebatkan. Mereka membuka diri terhadap perbedaan. Dan lebih dari itu, saya suka jalan berilmu yang mereka tempuh. Mereka senang berguru pada tokoh besar dengan sanad ilmu yang jelas. Jangankan untuk mengaji, mereka bahkan tidak akan segan-segan menempuh jarak ratusan kilo hanya untuk--misalnya--bertemu muka dengan ulama kesayangan. Biar tertular barokahnya, kata mereka.

Sedikit demi sedikit, saya mulai mengadopsi sebagian dari ideologi NU--tanpa sepenuhnya saya sadari.

Hingga kemudian, saya merasa iri. Iri yang begitu sangat. Karena betapa pun orang-orang itu mengira saya NU, saya tidak pernah--dan mungkin tidak akan pernah--bisa menjadi NU. Saya harus jujur, bahwa mengaku-ngaku sebagai warga NU sama halnya seperti mendaku barang milik orang lain. Ada rasa tidak nyaman. Ada keasingan yang membakar. Seolah saya tengah mencuri. Bagaimana pun, jauh lebih tenang duduk di antara orang-orang Muhammadiyah dibanding yang lain. Mungkin karena saya terlanjur terbiasa, atau karena saya merasa lebih menguasai medan ketika berada di antata mereka, atau.. mungkin karena hakikat manusia adalah memilih satu dan menetap di dalamnya, dengan tetap bersentuhan pada yang lain. Dan alam bawah sadar saya telah memilih.

Pada akhirnya, aksi koar-koar yang saya lakukan dengan membuat catatan berjudul "Pak, Kenapa Kita Ndak NU?" hanyalah sebentuk ekspresi pencarian jati diri yang berujung pada kesimpulan bahwa saya tetaplah anak Muhammadiyah, yang mencoba mengenal induknya dengan melongok ke luar pagar.

Kalau sudah begini, saya jadi ingat petuah Bapak:
"Ndhuk, Bapak tahu kecenderunganmu, juga ketertarikanmu akan NU. Itu pilihan. Tapi ingat-ingat, iki mung perkara tumpakan (kendaraan). Jalan kita tetap jalan Islam. Tujuannya Gusti Pangeran. Jangan cuma karena perkara NU-Muhammadiyah, lalu kamu lupa beragama. Lupa kewajibanmu terhadap sesama. Kamu nggak pernah tahu, kan? Bisa jadi ada yang nggak suka membaca tulisanmu di facebook. Bahkan lebih parahnya lagi, ada yang sakit hati. Jadi, tetaplah hati-hati, meski dalam tulisan."

Dan itu cukup untuk menjadi penutup.

Pekalongan, 29 Oktober 2015