JAKARTA

Desember 09, 2018

Ada yang bilang, ketika kita akan pindah ke tempat baru, pandangan kita terhadap orang-orang yang akan kita temui nanti sangat bergantung pada bagaimana kita memandang orang-orang yang kita tinggalkan di tempat lama. Itu bukan berarti karakter dan tingkah laku orang-orang di tempat sebelumnya akan selalu senada dengan yang akan kita temui di tempat baru. Bukan tentang orang-orang itu. Justru semuanya berpusat di dalam diri kita, di hati dan pikiran kita, sebagai pelaku utama. Sudut pandang yang kita ambillah yang akan menentukan bagaimana orang-orang itu di mata kita. Dan bagaimana orang-orang itu kepada kita.

***

Dulu suami saya pernah mengatakan bahwa Jakarta bukan tempat yang baik untuk memulai sebuah keluarga, terlebih untuk membesarkan anak. Lingkungan, pergaulan, cara pandang, terlalu banyak hal yang jauh dari ideal, katanya. Lalu saya mulai berpikir, mungkin Jakarta memang seburuk itu. Sejak kecil saya banyak mendengar cerita tentang orang-orang yang merantau ke sana tapi tak juga kaya. Sebab katanya Jakarta itu keras. Bengis. Tak kenal belas kasih pada orang-orang kecil yang ingin numpang mengais rejeki. Sering pula televisi di rumah kami menampilkan berita kriminal yang terjadi di ibu kota. Juga tentang betapa kentalnya individualisme di sana. Belum lagi perang politik antar-pejabat negeri yang tak juga saya pahami. Sampai kemudian muncul ungkapan, "Ibu kota itu lebih kejam daripada ibu tiri."

Ya, mungkin Jakarta memang semengerikan itu.

Dengan sendirinya saya memilih untuk tidak mendoakan suami pindah kerja ke Jakarta. Jangan. Jangan sampai kami pindah ke sana. Tapi kenyataan berkata lain. SK mutasi datang dan dari ratusan kota yang ada, Jakartalah yang tertulis di dalamnya. Ada rasa cemas dan ketakutan tak terdefinisi yang hinggap dalam benak saya. Saya rasa, saya tidak siap.

***

Kedatangan kami ke Jakarta disambut oleh teriakan caci maki dari mulut ibu-ibu yang bertengkar entah karena apa. Saling sahut dengan suara sangat lantang dan kalimat-kalimat kasar. Tepat di depan rumah kontrakan yang baru saja kami tinggali. Saya buru-buru menutup pintu pagar, lalu membatin, beginikah Jakarta, Ya Tuhan?

Satu minggu berselang. Dua minggu. Lalu sebulan. Dengan makin banyaknya tempat yang kami kunjungi, makin banyaknya orang yang kami temui, saya menyadari sesuatu: Jakarta tidak seburuk yang saya kira sebelumnya. Kamu tahu, Jakarta tidak semengerikan itu.

Jakarta adalah definisi dari banyak cerita. Tentang kejahatan. Kebaikan. Kekerasan. Keramah-tamahan. Konflik. Keharmonisan. Depresi. Romantisme. Kesibukan. Rasa tenggang. Gotong royong. Kesuksesan. Miskin. Kejam. Kehangatan. Dia adalah tempat orang-orang membuang kotoran, sekaligus menjadi tanah dimana mereka meletakkan jangkar-jangkar harapan agar mimpinya tidak hilang tergerus arus. Jakarta menjadi tempat bernaung para bandit, sekaligus menjadi gubuk bagi manusia-manusia berhati lembut yang membagi kehangatannya lewat senyum tiap kali bertemu tatap. Jakarta itu kumuh, tapi juga mewah. Jakarta adalah dua sudut pandang berbeda bagi dua orang yang memiliki kesenjangan tingkat ekonomi. Kamu mungkin akan mendapat jawaban yang saling bertolak belakang saat bertanya tentang Jakarta pada orang-orang yang punya segudang ambisi, lalu pada mereka yang tidak. Jakarta akan selalu menyimpan kisah, entah pedih entah bahagia, milik raga-raga yang pernah bersandar padanya.


Terlepas dari sisi hitam yang banyak orang yakini tentang Jakarta, saya bersyukur berada di sini. Tinggal di kota yang menjadi pusat berkumpulnya ide-ide, dialog, orang-orang “sukses” dari berbagai penjuru. Kota yang menjadi saksi menjamurnya aktivitas berkarya dari banyak bidang. Ada banyak peluang. Ada banyak kelas-kelas ilmu tanpa bangunan, yang leluasa kamu masuki dengan bekal niat baik di hati. Ada banyak sekali hal bagus yang tersebar di sudut-sudut kota ini. Kekhawatiran awal tentang pengasuhan anak pelan-pelan sirna dengan kunjungan ke banyak tempat yang memenuhi 3 kriteria; edukatif, baby friendly, dan terjangkau (baik secara biaya maupun jarak). Dan saya bahagia. Setidaknya, saya bisa melihat rona bahagia di wajah suami saat bercerita tentang apa yang ia kerjakan di luar rumah, meskipun tubuhnya tampak lelah. Dan, sekali lagi, itu cukup untuk membuat saya merasa lebih bahagia.

Ditulis dengan cinta, Jakarta, 9 Desember 2018

You Might Also Like

1 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe