Tadi sore saya iseng buka twitter lagi, setelah 2 tahun lamanya tidak saya jamah. Ada banyak sekali notifikasi, dan setelah scroll beberapa saat, saya nemu satu yang menarik perhatian. Seorang teman menandai saya dalam tweet-nya. Ternyata dia membagikan salah satu tulisan yang saya unggah di facebook pada Mei 2018. Tulisan tentang film Bumi Manusia.

Saya rasa masih sangat relevan untuk saya posting di blog sekarang, karena kabarnya film itu akan tayang tahun 2019 ini. Jadi, sembari menantikan filmnya launching di bioskop seluruh Indonesia, mari kita kupas dulu beberapa hal terkait penggarapan film Bumi Manusia, khususnya; pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai tokoh Minke.

***

BUMI MANUSIA


Foto Teaser Bumi Manusia. Sumber: Mldspot.com

Saya sudah membaca Tetralogi Buru sejak 2009--tahun di mana saya masih belia dan teman-teman seumuran saya asik ngurusin perkara cinta. Empat judul buku karya Pramoedya Ananta Toer itu menjadi awal bagi saya menyukai sastra, juga sejarah. Dan yang paling tersohor dari keempat judul itu adalah Bumi Manusia, yang terkenal dengan Nyai Ontosorohnya, juga kalimat-kalimatnya yang kemudian banyak tersebar sebagai quotes-quotes di sosial media.

"Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai." 

"Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Dari dulu sudah santer terdengar kabar bahwa Bumi Manusia akan difilmkan. Saya dan Mbak Roch Pangkatych (seorang Pramis asal Bogor) sudah sangat menantikannya. Tapi ternyata kabar yang beredar hanya sebatas rumor, ga berujung film beneran. Sampai kemudian saya disodori berita soal diresmikannya Iqbaal (dengan dua huruf A) sebagai pemeran Minke. Dan Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya.

"Kok Iqbaal sih? Emang gada yang lain?"

"Kenapa yang dipilih malah Iqbaal?"

Dan berbagai pertanyaan senada lainnya muncul meramaikan dunia maya.

Alasan pertama yang membuat pertanyaan itu muncul adalah Bumi Manusia telah lebih dulu dipentaskan sebagai sebuah teater yang dimainkan dengan apik oleh aktor fenomenal yang tak diragukan lagi kegantengannya, eh, kualitas aktingnya, ialah Kangmas Reza Rahadian. Dan menuai banyak pujian. Kolaborasinya dengan Budhe Happy Salma yang senior dan Chelsea Islan yang menis-menis manja dinilai sangat pas. Inilah yang kemudian--secara diam-diam--terpatri pada diri setiap pecinta Bumi Manusia, bahwa yang cocok memerankan Minke adalah Reza Rahadian. Harus Reza! Ga boleh yang lain.

Kedua, Iqbaal, seperti yang kita semua tahu, belum lama ini sukses membawakan peran Dilan dalam film Dilan 1990. Meraup angka lebih dari 6 juta penonton. Dik Iqbaal yang unyu ini belum banyak bermain film. Dan Dilan adalah film pertamanya setelah beranjak dari masa abege. Sangat wajar jika kemudian sosok Dilan diidentikkan dengan Iqbaal. Iqbaal itu ya Dilan. Dilan itu Iqbaal.
Pemilihan Iqbaal sebagai pemeran Minke jadi terkesan terburu-buru: "Mumpung masih anget." Atau mungkin sengaja dilakukan Hanung untuk menghapus imej sebagai sutradara yang cuma punya 1 aktor; Reza Rahadian. Setidaknya, begitu menurut saya. Sehingga memunculkan pertanyaan dalam benak, "Dapatkah Dik Iqbaal membawakan peran Minke (yang hidup berbeda zaman dan karakter dengan Dilan) dengan sebaik-baiknya, setotal-totalnya (seperti yang dilakukan Kangmas Reza dalam teater itu)?"

Iqbaal Ramadhan dan Reza Rahadian. Sumber: Tribunnews.com


Saya mengerti alasan Hanung dalam memilih iqbaal sebagai pemeran Minke; muda, millennial (pada zamannya), berintelektual tinggi, dan berkembang. Yang terakhir ini saya kurang paham juga apa maksudnya. Dikatakan di sana bahwa Bumi Manusia merupakan bagian dari tetralogi, sehingga karakter Minke terus berkembang seiring zaman. Mungkin maksudnya, kalau film Bumi Manusia ini sukses dan dilanjutkan dengan pembuatan film Anak Semua Bangsa, maka Iqbaal masih sangat cocok untuk berperan lagi sebagai Minke. Karena muda. Mungkin begitu. Mungkin lho ya. Heu~

Saya akui memang Mas Rahadian ini sudah terlalu tua untuk peran-peran tertentu, meskipun tetap ganteng. Dan saya juga mengakui bahwa Dik Iqbaal ini--meskipun kurus--termasuk pemuda yang pintar. Terlihat dari caranya berbicara, kepercayaan dirinya, pemilihan kata, susunan kalimat, dan isi dari gagasan yang dia sampaikan. Tipikal orang yang senang menjamah buku. Saya yakin dia sudah menuntaskan Tetralogi Buru sebelum tawaran bermain film Bumi Manusia ini datang padanya.

Yah, bagaimanapun kabar ini tetap mengejutkan. Meskipun sebenarnya, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma siapa pemeran utama dalam film ini, melainkan bagaimana Hanung akan meringkas buku setebal lebih 500 halaman menjadi sebuah film berdurasi kurang dari 2 jam. Bagaimana Hanung akan memvisualisasikan kegelisahan dan pergolakan batin Minke yang terlahir sebagai priyayi, tapi berusaha membebaskan diri dari kepompong kejawaannya--menyejajarkan diri dengan kemampuan orang Eropa untuk melawan ketidakadilan yang dialami bangsanya. Juga tentang Nyai Ontosoroh yang hanya seorang gundik tapi cerdas luar biasa.

Apakah nilai-nilai itu akan muncul dalam film? Atau isi film hanya akan terfokus pada kisah cinta Minke dan Annelies?

Di sini para pemuja Bumi Manusia siap menilai habis-habisan.

Jakarta, 26 Mei 2018
Diketik ulang pada hari ini, 27 Januari 2018, tepat 21 Bulan Arslan lahir ke dunia.

Matrikulasi IIP itu apa?

Doc. pribadi: Foto saat wisuda bersama dua saudara kesayangan


Ketika pertama kali meminta izin pada suami untuk mengikuti perkuliahan online di Institut Ibu Profesional (IIP) pada Juni yang lalu, beliau cuma bertanya, "Kuliah apa itu?"

Saya menjawabnya singkat, "Kuliahnya ibu-ibu, Mas."

Pada saat itu kami baru saja pindah ke Jakarta dan saya belum tahu apa-apa mengenai Program Matrikulasi IIP. Saya hanya mendengar bahwa IIP adalah komunitas ibu-ibu di Indonesia dan saya--sebagai penghuni baru di ibu kota--merasa perlu bergabung untuk update issue parenting. Sebatas itu.

Seiring berjalannya waktu, ketika tugas-tugas mulai berdatangan dan saya terpaksa melibatkan beliau dalam proses penggarapannya, beliau bertanya lagi, "Kuliah apa sih ini sebenarnya?" Hahaha. Saya tertawa, sebab bingung harus menjawab apa. Tugas-tugas dalam Program Matrikulasi memang terbilang abstrak dan rumit untuk pikiran lelaki macam suami saya, sehingga saya kesulitan menyusun kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan baliau. Pada akhirnya saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah kegiatan belajar bagi ibu dan calon ibu agar dapat menjalankan perannya dengan baik, agar bisa jadi seorang ibu yang profesional.

"Institut Ibu Profesional adalah salah satu komunitas wanita terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pemberdayaan wanita dalam perannya sebagai ibu, istri, dan manusia dalam komunitas."

Mungkin bagi suami saya (juga mungkin bagi ribuan suami lainnya di luar sana), menjadi ibu, menjadi orang tua, seutuhnya adalah tentang naluri. Kita hanya perlu mengupayakan yang terbaik untuk anak, dan itu sudah terpatri dalam intuisi kita sebagai manusia. Tapi bagi wanita, tidak sesimpel itu.

Ada proses yang sulit dijelaskan dan hampir terjadi pada semua wanita. Ialah proses adaptasi dengan status baru. Yang di dalamnya berisi penolakan, emosi, air mata, sampai kemudian penerimaan datang karena terbiasa, atau berusaha membiasa, atau mungkin tak pernah datang sebab kita tak mengizinkannya. Banyak suami yang mungkin tidak menyadari istri yang baru sebulan dinikahinya ternyata sering menangis sendirian saat ia tinggal kerja. Sang istri mengalami "jet lag" dengan status barusnya sebagai istri. Mereka menangis karena kaget, kaget pada rutinitas barunya, kaget pada kebiasaan-kebiasaan pasangan yang mungkin bertolak belakang dengan apa yang dia kerjakan selama ini, kaget dengan berbagai hal yang tak ia ketahui sebelumnya. Banyak wanita merasa ekspektasi tentang rumah tangga yang selama ini hinggap di benak ternyata jauh dari kenyataan. Sebagian dari mereka juga rindu pada pekerjaannya sebelum menjadi housewife, rindu kepada teman-temannya yang hampir setiap hari bertemu dan berkumpul, rindu pada "kebebasan" untuk pergi kemanapun tanpa terkendala izin dan omongan orang, dan yang utama rindu pada orang tua dan saudara. Ini bukan tentang penyesalan atas keputusan yang telah disepakati. Bukan. Ini murni tentang adaptasi. Tapi terkadang sebagai wanita, kita sendiri tidak menyadari proses ini, sehingga kita bingung bagaimana menghadapi emosi yang berkecamuk dalam dada, takut untuk mengutarakannya, lalu berakhir dengan tangis di sudut-sudut waktu.

Saya termasuk yang mengalami proses adaptasi ini, mengingat sebelumnya saya aktif bekerja sesuai profesi, senang mengikuti berbagai kegiatan, dan tidak pernah merantau jauh dari orang tua, ternyata setelah menikah harus resign dari pekerjaan dan ikut suami merantau jauh ke Ternate. Sesampainya di Ternate pun tidak melanjutkan jalan profesi karena ada jabang bayi yang perlu "dijaga". Perubahan total dari segi aktivitas, lingkungan, dan fisik ini tentu membuat saya kaget dan tersedu-sedu. Tapi saya tak pernah bisa menjelaskannya pada suami karena beliau tidak mengalaminya, jadi dengan sendirinya saya merasa beliau tidak akan paham.

Proses semacam ini tidak hanya terjadi pada penyandang predikat "istri baru", melainkan juga "ibu baru", dalam artian: ibu yang baru saja melahirkan. Itulah kenapa ada istilah Baby Blues, Postpartum Blues, Depresi Masa Nifas, dan sebagainya, untuk menggambarkan bahwa proses ini tidak sesederhana yang dikira.

Serangkaian proses tadi, apabila tidak terlewati dengan baik, sedikit banyak pasti akan berpengaruh buruk pada pola pengasuhan kita terhadap anak. Sebab, mengutip kalimat Bu Septi, kita belum selesai dengan diri kita sendiri.

Itulah, saya kira, akar tujuan diadakannya Program Matrikulasi di IIP, ialah sebagai media kita belajar mengenal diri, menggali potensi, meluruskan kembali tujuan dan peran hidup kita di dunia yang luas ini. Sampai kita selesai dengan diri kita. Sampai kita tidak lagi merasa memiliki ganjalan di hati. Sampai plong! Sebab, hanya wanita yang telah selesai dengan dirinyalah yang dapat mengabdikan diri secara total pada anak-anak dan suaminya, siap mengembangkan potensi, lalu membantu sesamanya dalam masalah serupa.

Rasanya saya ingin menuliskan perkara "selesai" ini dalam satu postingan terpisah.


Doc. pribadi: Wisuda Matrikulasi IIP Batch 6 Kelas Jakarta 3

Hari Ahad, 20 Januari 2019 kemarin, pada akhirnya kami diwisuda, setelah dinyatakan lulus pada November yang lalu. Suami saya turut serta hadir menyaksikan rangkaian acara wisuda. Melihat banyaknya peserta yang hadir, sepulangnya dari sana suami saya bertanya kembali, "Ikut IIP itu output-nya apa?"

Ingiiiin rasanya saya menjawab bahwa saya merasa lebih bahagia sekarang. Sepenuhnya menerima bahwa peran utama saya saat ini adalah menjadi istri bagi beliau dan ibu bagi anak(-anak) kami. Saya telah melepas ransel di punggung yang berisi ego pribadi dan menyimpannya di rak paling bawah sendiri. Setelahnya, menggendong Asqi terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi beban masa lalu yang selamanya hanya akan membuat saya uring-uringan.

Saya ingin menjawab seperti itu, tapi karena jawaban tersebut terlalu absurd, saya mengurungkan niat. Saya memilih mengisahkan kembali cerita seorang ibu yang sering berlaku kasar pada anak balitanya, sebelum akhirnya bergabung ke dalam IIP dan menyadari bahwa tindakannya selama ini keliru. Saya kira itu cukup untuk dijadikan contoh konkret demi menjawab pertanyaan suami. Dan saya rasa itulah tujuan komunitas, sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman dan upgrade ilmu. Sebab setinggi apapun kita, kita tetap perlu belajar dan butuh pengingat untuk menjadi lebih baik.


Diketik bersama rintik hujan yang membasahi kota.
Jakarta, 24 Januari 2019


Saya jatuh hati pada filosofi BLW ketika pertama kali melihat Kawa, bayi berusia 6 bulan, makan sepotong tomat dengan lahapnya, dan tanpa dihaluskan, di hari pertamanya mengenal MPASI. Wow. Beberapa tahun berkutat dengan masalah ibu dan bayi, saya baru tahu ada metode MPASI bernama BLW ini. Cuppuuuuuu bet kan. Wqwq

Betewe, Kawa itu siapa?

Oh iya. Kawa itu putranya Andien Aisyah.

Andien yang penyanyi itu?

Iya. Wkwkwk ketahuan banget ya diem-diem suka stalkin’ akunnya selebriti. 🤣 Ndak papa, yang diambil ilmunya, bukan gosipnya.

Saya bersyukur Kawa lahir 3,5 bulan lebih awal daripada Asqi. Sehingga saya mengetahui lebih dini, dan memiliki cukup waktu untuk mempelajari apa itu BLW sebelum Asqi benar-benar menjalani masa MPASI.

Dulu, saya pikir aksi “menolak makan” dan “tidak doyan sayur” adalah bagian dari fase tumbuh kembang setiap anak. Bahwa tiap-tiap anak pasti akan mengalaminya. Karena saya lihat, kebanyakan anak memang begitu. Tak terkecuali adik bontot saya, Aufa. Selalu ada periode dimana dia tidak mau makan, terlebih jika ada sayuran di menunya. Dia akan menutup mulutnya rapat-rapat, atau lari kabur ke rumah tetangga. Anak-anak dari tetangga saya yang lain pun sama. Para orang tua itu setidaknya punya satu kesamaan masalah: anaknya susah makan dan menolak sayuran.

Setelah saya merampungkan bacaan mengenai BLW, saya memahami sesuatu; bahwa aksi menolak tadi bukanlah satu fase yang pasti dilalui setiap anak. Saya yakin fitrahnya manusia adalah memakan makanan yang sehat, sebab tubuh kita membutuhkan itu. Tapi dalam prosesnya kadang ada saja kendala. Nah, prosesnya inilah yang perlu kita utak-atik. Setidaknya ada EMPAT prinsip dalam BLW yang perlu kita pegang erat-erat demi membuat anak doyan makan dan menyukai sayuran. Yang pertama, ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Inilah--saya kira--filosofi utama BLW.

Bagaimana caranya?

Biarkan anak mengeksplorasi makanannya. Sajikan. Lalu biarkan. Tidak perlu ada aksi menyuapi. Kita tahu bayi memiliki kebiasaan memasukkan benda apapun ke dalam mulut yang dikenal dengan fase oral, nah manfaatkan kebiasaan itu. Biarkan dia bermain dengan makanannya. Jadikan agenda makan menjadi kegiatan yang menarik baginya. Sehingga dia berpikir bahwa waktu makan adalah waktu yang menyenangkan.

Yang kedua, yaitu “kenalkan” sayur sejak awal. Tahu kan istilah “tak kenal maka tak sayang”? Itu juga berlaku di BLW. Tugas pertama kita sebagai orang tua adalah membuatnya kenal dengan menu makanan sehat seperti sayuran. Kenal dulu, biar bisa sayang. Sayur yang diberikan kepada bayi dibiarkan utuh tanpa dihaluskan (hanya dipotong menjadi seukuran jari atau biasa dikenal dengan istilah finger food). Biar dia tahu bahwa sayur berwarna oranye ini adalah wortel. Ternyata wortel bisa dimakan, dan rasanya enak, kek ada manis-manisnya. Gitu. Juga brokoli, buncis, kentang, bayam, baby corn, terong, kembang kol, dan banyak lagi. Kenalkan secara bergantian dan berkelanjutan. Sampai bayi terbiasa. Sampai dia menyadari hadirnya cinta. Sebab cinta datang karena terbiasa, katanya.

Yang ketiga, makanlah bersama bayimu. Gill Rapley, penulis buku Baby-Led Weaning, menuliskan dalam bukunya, "Eat with your baby; at the same time, at the same table, and sharing the same food."
Tentu ini akan lebih mudah dilakukan ketika ibunya menjadi stay at home mom seperti saya, dimana kita bisa selalu membersamai bayi di rumah tanpa ada tuntutan pekerjaan dari profesi yang kita lakoni. Tapi bukan tidak mungkin hal ini juga bisa dilakukan oleh working mom. Saya punya seorang teman, dia adalah working mom dengan bayi usia 8 bulan. Dia tinggal bertiga bersama suaminya, dan sejak 2 bulan pasca-melahirkan, dia harus kembali bekerja. Hidup terpisah dari orang tua membuatnya terpaksa membawa bayinya (sejak usia 2 bulan) ke tempat kerja. Tapi kondisi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk menerapkan BLW kepada bayinya ketika usianya genap 180 hari. Prinsip ketiga ini dilakukannya dengan telaten; menyiapkan bekal sarapan, snack, dan makan siang untuk dibawa ke kantor, dengan menu yang sama untuk dia dan bayinya, lalu dimakan bersama.

Salut.

Tapi ngomong-ngomong, kenapa ya dalam BLW makan bersama bayi itu sangan penting?

Kita tahu bahwa bayi adalah peniru yang ulung. Dan baginya, kita adalah role model yang sangat agung sehingga apapun yang kita lakukan akan ditiru olehnya. Pada awal MPASI, bayi makan bukan karena dia lapar, tapi karena mencontoh orang di sekitarnya melakukan hal yang sama. Itulah kenapa kita dianjurkan makan bersamanya. Untuk menunjukkan padanya bagaimana caranya memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, menelannya, berulang kali sampai habis lalu berkata, "Enak!". Lama-lama dia akan mengenali rasa laparnya sendiri.

Makanan yang bayi makan juga sebisa mungkin sama dengan apa yang kita makan (tentu tanpa tambahan gula dan garam untuk usia <1 tahun), agar dia merasa dianggap sebagai bagian dari lingkungan. Ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Prinsip yang keempat sekaligus yang terakhir adalah enjoy! Ini dikhususkan untuk kita sebagai ibu yang mendampinginya belajar makan. Ingat, satu kecemasan ibu sebanding dengan 10 kecemasan bayi.

doc. pribadi: Ekspresi Arslan, 6 bulan, ketika memakan sepotong tomat.
Istilah Baby Led-Weaning (BLW) bisa diartikan sebagai proses (awal) penyapihan yang dipimpin sendiri oleh sang bayi. Di mana bayi memiliki kontrol atas dirinya dan juga kemauannya soal makan. Seberapa banyak ia ingin makan. Kapan memulainya. Kapan mengakhirinya. Apa. Bagaimana. Mengapa. Dia diberi kewenangan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dia lakukan terhadap makanan di hadapannya.


Bagi sebagian orang yang belum tahu, mungkin BLW (hanya) dianggap sebagai metode MPASI untuk melatih kemandirian bayi. Biar orang tuanya ga repot. Padahal ndak sesimpel itu. BLW menyimpan banyak sekali manfaat. Ketika bayi mengambil makanan di depannya, motorik halusnya terstimulasi. Sampai kemudian dia berhasil menggenggamnya, dan mengarahkan makanannya ke mulut, saat itu dia sedang melatih koordinasi mata dan tangan. Lalu pada waktu dia menggenggam makanannya, mulai menggigitnya, mengunyahnya, sebenarnya dia sedang memainkan kepekaan sensori. Dia belajar mengenal tekstur makanan dari multi-inderanya: indera penglihatan, peraba, dan perasa. Ini tentu sangat baik karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan daya imajinasi sang bayi. Bonusnya--ingat, hanya bonus ya--bayi menjadi lebih cepat terlatih mandiri dalam makan.


Saya benar-benar jatuh hati dan mantap menerapkan metode ini pada Asqi (untuk cerita pengalaman selama menjadi praktisi BLW bersama Asqi, nanti saya tulis terpisah, ya). Dan sangat bersyukur karena ternyata suami juga mendukung penuh pilihan ini. Tengs beb. 😘


Namun, seperti kebanyakan hal baru di Indonesia, BLW pun memiliki pro dan kontra. Tidak sedikit dokter Sp.A yang tidak merekomendasikan penerapan metode BLW untuk MPASI, apalagi jika dimulai sejak awal usia 6 bulan. Para ahli itu memandang BLW terlalu beresiko dari segi kesehatan, seperti adanya resiko tersedak dan kekurangan gizi (karena dalam BLW, makanan yang masuk ke perut bayi sulit ditakar jumlahnya) yang mengarah ke anemia defisiensi besi atau ADB.


Kekhawatiran yang sangat masuk akal sebetulnya. Tapi resiko-resiko itu tentu tidak muncul tanpa pencegahan dan penanganan. Mari kita jabarkan.

Bayi usia 6 bulan itu biasanya sudah bisa duduk (baik secara mandiri maupun dengan bantuan). Nah, selama dia makan dengan posisi duduk tegak, resiko tersedak sangat minim terjadi. Sebab bayi memiliki reflek gagging, atau reflek mengeluarkan makanan dari mulut ketika dia kelolodan. Tugas kitalah sebagai ibunya untuk memastikan posisi duduknya sudah baik, bisa dengan dipangku maupun dibantu-topang menggunakan booster seat.


(Meski begitu, kita tetap perlu mempelajari teknik penanganan bayi tersedak untuk antisipasi, ya. Ini adalah satu bekal wajib yang harus dimiliki para praktisi BLW.)


Untuk perkara kurang gizi, yang pertama harus kita tekankan adalah prinsip under one is just for fun. Aktivitas makan untuk bayi di bawah 1 tahun itu sifatnya hanya pengenalan, sisanya bersenang-senang. Bayi di bawah usia 1 tahun masih sangat bisa untuk menggantungkan kebutuhan nutrisinya pada ASI saja. Kandungan gizi dalam ASI masih mencukupi kebutuhannya sampai usia 1 tahun. Jadi jika di awal-awal BLW kok anak makannya sedikit, lebih banyak bermainnya, ya ndak papa. Masih oke. Tentu dengan disertai usaha kita dalam mengoptimalkan gizi dalam setiap menu makan anak. Panduan MPASI terbaru menjelaskan tentang menu 4* dan kandungan makronutrien serta mikronutrien. Menu 4* artinya dalam satu kali waktu makan, menu masakan untuk bayi harus mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur (satu lagi tambahan wajib yaitu lemak tambahan). Empat bintang (plus) ini termasuk dalam makronutrien, sedang mikronutrien terdiri dari berbagai vitamin seperti vitamin A, B, C, D, E, K, dan lain sebagainya. Mikronutrien bisa diberikan melalui cemilan buah saat snack time.

Kalau sudah berpegangan pada panduan itu, saya kira tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi.


Ingatlah selalu untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Sebab aksi memaksa atau suasana yang penuh perintah dan tekanan hanya akan mencederai memori anak soal makan, dan-bisa jadi-membuatnya trauma.

Jakarta, 11 Januari 2019