CERITA MPASI #1: BABY-LED WEANING (BLW)

Saya jatuh hati pada filosofi BLW ketika pertama kali melihat Kawa, bayi berusia 6 bulan, makan sepotong tomat dengan lahapnya, dan tanpa dihaluskan, di hari pertamanya mengenal MPASI. Wow. Beberapa tahun berkutat dengan masalah ibu dan bayi, saya baru tahu ada metode MPASI bernama BLW ini. Cuppuuuuuu bet kan. Wqwq

Betewe, Kawa itu siapa?

Oh iya. Kawa itu putranya Andien Aisyah.

Andien yang penyanyi itu?

Iya. Wkwkwk ketahuan banget ya diem-diem suka stalkin’ akunnya selebriti. 🤣 Ndak papa, yang diambil ilmunya, bukan gosipnya.

Saya bersyukur Kawa lahir 3,5 bulan lebih awal daripada Asqi. Sehingga saya mengetahui lebih dini, dan memiliki cukup waktu untuk mempelajari apa itu BLW sebelum Asqi benar-benar menjalani masa MPASI.

Dulu, saya pikir aksi “menolak makan” dan “tidak doyan sayur” adalah bagian dari fase tumbuh kembang setiap anak. Bahwa tiap-tiap anak pasti akan mengalaminya. Karena saya lihat, kebanyakan anak memang begitu. Tak terkecuali adik bontot saya, Aufa. Selalu ada periode dimana dia tidak mau makan, terlebih jika ada sayuran di menunya. Dia akan menutup mulutnya rapat-rapat, atau lari kabur ke rumah tetangga. Anak-anak dari tetangga saya yang lain pun sama. Para orang tua itu setidaknya punya satu kesamaan masalah: anaknya susah makan dan menolak sayuran.

Setelah saya merampungkan bacaan mengenai BLW, saya memahami sesuatu; bahwa aksi menolak tadi bukanlah satu fase yang pasti dilalui setiap anak. Saya yakin fitrahnya manusia adalah memakan makanan yang sehat, sebab tubuh kita membutuhkan itu. Tapi dalam prosesnya kadang ada saja kendala. Nah, prosesnya inilah yang perlu kita utak-atik. Setidaknya ada EMPAT prinsip dalam BLW yang perlu kita pegang erat-erat demi membuat anak doyan makan dan menyukai sayuran. Yang pertama, ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Inilah--saya kira--filosofi utama BLW.

Bagaimana caranya?

Biarkan anak mengeksplorasi makanannya. Sajikan. Lalu biarkan. Tidak perlu ada aksi menyuapi. Kita tahu bayi memiliki kebiasaan memasukkan benda apapun ke dalam mulut yang dikenal dengan fase oral, nah manfaatkan kebiasaan itu. Biarkan dia bermain dengan makanannya. Jadikan agenda makan menjadi kegiatan yang menarik baginya. Sehingga dia berpikir bahwa waktu makan adalah waktu yang menyenangkan.

Yang kedua, yaitu “kenalkan” sayur sejak awal. Tahu kan istilah “tak kenal maka tak sayang”? Itu juga berlaku di BLW. Tugas pertama kita sebagai orang tua adalah membuatnya kenal dengan menu makanan sehat seperti sayuran. Kenal dulu, biar bisa sayang. Sayur yang diberikan kepada bayi dibiarkan utuh tanpa dihaluskan (hanya dipotong menjadi seukuran jari atau biasa dikenal dengan istilah finger food). Biar dia tahu bahwa sayur berwarna oranye ini adalah wortel. Ternyata wortel bisa dimakan, dan rasanya enak, kek ada manis-manisnya. Gitu. Juga brokoli, buncis, kentang, bayam, baby corn, terong, kembang kol, dan banyak lagi. Kenalkan secara bergantian dan berkelanjutan. Sampai bayi terbiasa. Sampai dia menyadari hadirnya cinta. Sebab cinta datang karena terbiasa, katanya.

Yang ketiga, makanlah bersama bayimu. Gill Rapley, penulis buku Baby-Led Weaning, menuliskan dalam bukunya, "Eat with your baby; at the same time, at the same table, and sharing the same food."
Tentu ini akan lebih mudah dilakukan ketika ibunya menjadi stay at home mom seperti saya, dimana kita bisa selalu membersamai bayi di rumah tanpa ada tuntutan pekerjaan dari profesi yang kita lakoni. Tapi bukan tidak mungkin hal ini juga bisa dilakukan oleh working mom. Saya punya seorang teman, dia adalah working mom dengan bayi usia 8 bulan. Dia tinggal bertiga bersama suaminya, dan sejak 2 bulan pasca-melahirkan, dia harus kembali bekerja. Hidup terpisah dari orang tua membuatnya terpaksa membawa bayinya (sejak usia 2 bulan) ke tempat kerja. Tapi kondisi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk menerapkan BLW kepada bayinya ketika usianya genap 180 hari. Prinsip ketiga ini dilakukannya dengan telaten; menyiapkan bekal sarapan, snack, dan makan siang untuk dibawa ke kantor, dengan menu yang sama untuk dia dan bayinya, lalu dimakan bersama.

Salut.

Tapi ngomong-ngomong, kenapa ya dalam BLW makan bersama bayi itu sangan penting?

Kita tahu bahwa bayi adalah peniru yang ulung. Dan baginya, kita adalah role model yang sangat agung sehingga apapun yang kita lakukan akan ditiru olehnya. Pada awal MPASI, bayi makan bukan karena dia lapar, tapi karena mencontoh orang di sekitarnya melakukan hal yang sama. Itulah kenapa kita dianjurkan makan bersamanya. Untuk menunjukkan padanya bagaimana caranya memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, menelannya, berulang kali sampai habis lalu berkata, "Enak!". Lama-lama dia akan mengenali rasa laparnya sendiri.

Makanan yang bayi makan juga sebisa mungkin sama dengan apa yang kita makan (tentu tanpa tambahan gula dan garam untuk usia <1 tahun), agar dia merasa dianggap sebagai bagian dari lingkungan. Ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Prinsip yang keempat sekaligus yang terakhir adalah enjoy! Ini dikhususkan untuk kita sebagai ibu yang mendampinginya belajar makan. Ingat, satu kecemasan ibu sebanding dengan 10 kecemasan bayi.

doc. pribadi: Ekspresi Arslan, 6 bulan, ketika memakan sepotong tomat.
Istilah Baby Led-Weaning (BLW) bisa diartikan sebagai proses (awal) penyapihan yang dipimpin sendiri oleh sang bayi. Di mana bayi memiliki kontrol atas dirinya dan juga kemauannya soal makan. Seberapa banyak ia ingin makan. Kapan memulainya. Kapan mengakhirinya. Apa. Bagaimana. Mengapa. Dia diberi kewenangan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dia lakukan terhadap makanan di hadapannya.


Bagi sebagian orang yang belum tahu, mungkin BLW (hanya) dianggap sebagai metode MPASI untuk melatih kemandirian bayi. Biar orang tuanya ga repot. Padahal ndak sesimpel itu. BLW menyimpan banyak sekali manfaat. Ketika bayi mengambil makanan di depannya, motorik halusnya terstimulasi. Sampai kemudian dia berhasil menggenggamnya, dan mengarahkan makanannya ke mulut, saat itu dia sedang melatih koordinasi mata dan tangan. Lalu pada waktu dia menggenggam makanannya, mulai menggigitnya, mengunyahnya, sebenarnya dia sedang memainkan kepekaan sensori. Dia belajar mengenal tekstur makanan dari multi-inderanya: indera penglihatan, peraba, dan perasa. Ini tentu sangat baik karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan daya imajinasi sang bayi. Bonusnya--ingat, hanya bonus ya--bayi menjadi lebih cepat terlatih mandiri dalam makan.


Saya benar-benar jatuh hati dan mantap menerapkan metode ini pada Asqi (untuk cerita pengalaman selama menjadi praktisi BLW bersama Asqi, nanti saya tulis terpisah, ya). Dan sangat bersyukur karena ternyata suami juga mendukung penuh pilihan ini. Tengs beb. 😘


Namun, seperti kebanyakan hal baru di Indonesia, BLW pun memiliki pro dan kontra. Tidak sedikit dokter Sp.A yang tidak merekomendasikan penerapan metode BLW untuk MPASI, apalagi jika dimulai sejak awal usia 6 bulan. Para ahli itu memandang BLW terlalu beresiko dari segi kesehatan, seperti adanya resiko tersedak dan kekurangan gizi (karena dalam BLW, makanan yang masuk ke perut bayi sulit ditakar jumlahnya) yang mengarah ke anemia defisiensi besi atau ADB.


Kekhawatiran yang sangat masuk akal sebetulnya. Tapi resiko-resiko itu tentu tidak muncul tanpa pencegahan dan penanganan. Mari kita jabarkan.

Bayi usia 6 bulan itu biasanya sudah bisa duduk (baik secara mandiri maupun dengan bantuan). Nah, selama dia makan dengan posisi duduk tegak, resiko tersedak sangat minim terjadi. Sebab bayi memiliki reflek gagging, atau reflek mengeluarkan makanan dari mulut ketika dia kelolodan. Tugas kitalah sebagai ibunya untuk memastikan posisi duduknya sudah baik, bisa dengan dipangku maupun dibantu-topang menggunakan booster seat.


(Meski begitu, kita tetap perlu mempelajari teknik penanganan bayi tersedak untuk antisipasi, ya. Ini adalah satu bekal wajib yang harus dimiliki para praktisi BLW.)


Untuk perkara kurang gizi, yang pertama harus kita tekankan adalah prinsip under one is just for fun. Aktivitas makan untuk bayi di bawah 1 tahun itu sifatnya hanya pengenalan, sisanya bersenang-senang. Bayi di bawah usia 1 tahun masih sangat bisa untuk menggantungkan kebutuhan nutrisinya pada ASI saja. Kandungan gizi dalam ASI masih mencukupi kebutuhannya sampai usia 1 tahun. Jadi jika di awal-awal BLW kok anak makannya sedikit, lebih banyak bermainnya, ya ndak papa. Masih oke. Tentu dengan disertai usaha kita dalam mengoptimalkan gizi dalam setiap menu makan anak. Panduan MPASI terbaru menjelaskan tentang menu 4* dan kandungan makronutrien serta mikronutrien. Menu 4* artinya dalam satu kali waktu makan, menu masakan untuk bayi harus mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur (satu lagi tambahan wajib yaitu lemak tambahan). Empat bintang (plus) ini termasuk dalam makronutrien, sedang mikronutrien terdiri dari berbagai vitamin seperti vitamin A, B, C, D, E, K, dan lain sebagainya. Mikronutrien bisa diberikan melalui cemilan buah saat snack time.

Kalau sudah berpegangan pada panduan itu, saya kira tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi.


Ingatlah selalu untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Sebab aksi memaksa atau suasana yang penuh perintah dan tekanan hanya akan mencederai memori anak soal makan, dan-bisa jadi-membuatnya trauma.

Jakarta, 11 Januari 2019

1 komentar:

  1. Wah jazakillaah khayr for sharingnya mbak, anak sy bulan depan mau MPASI jd butuh ilmu banget yg kyk gini nih, baru tahu juga metoded BLW. Jadi tertarik...

    BalasHapus