APA YANG DIDAPAT DARI MATRIKULASI IIP?

Matrikulasi IIP itu apa?

Doc. pribadi: Foto saat wisuda bersama dua saudara kesayangan


Ketika pertama kali meminta izin pada suami untuk mengikuti perkuliahan online di Institut Ibu Profesional (IIP) pada Juni yang lalu, beliau cuma bertanya, "Kuliah apa itu?"

Saya menjawabnya singkat, "Kuliahnya ibu-ibu, Mas."

Pada saat itu kami baru saja pindah ke Jakarta dan saya belum tahu apa-apa mengenai Program Matrikulasi IIP. Saya hanya mendengar bahwa IIP adalah komunitas ibu-ibu di Indonesia dan saya--sebagai penghuni baru di ibu kota--merasa perlu bergabung untuk update issue parenting. Sebatas itu.

Seiring berjalannya waktu, ketika tugas-tugas mulai berdatangan dan saya terpaksa melibatkan beliau dalam proses penggarapannya, beliau bertanya lagi, "Kuliah apa sih ini sebenarnya?" Hahaha. Saya tertawa, sebab bingung harus menjawab apa. Tugas-tugas dalam Program Matrikulasi memang terbilang abstrak dan rumit untuk pikiran lelaki macam suami saya, sehingga saya kesulitan menyusun kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan baliau. Pada akhirnya saya hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah kegiatan belajar bagi ibu dan calon ibu agar dapat menjalankan perannya dengan baik, agar bisa jadi seorang ibu yang profesional.

"Institut Ibu Profesional adalah salah satu komunitas wanita terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pemberdayaan wanita dalam perannya sebagai ibu, istri, dan manusia dalam komunitas."

Mungkin bagi suami saya (juga mungkin bagi ribuan suami lainnya di luar sana), menjadi ibu, menjadi orang tua, seutuhnya adalah tentang naluri. Kita hanya perlu mengupayakan yang terbaik untuk anak, dan itu sudah terpatri dalam intuisi kita sebagai manusia. Tapi bagi wanita, tidak sesimpel itu.

Ada proses yang sulit dijelaskan dan hampir terjadi pada semua wanita. Ialah proses adaptasi dengan status baru. Yang di dalamnya berisi penolakan, emosi, air mata, sampai kemudian penerimaan datang karena terbiasa, atau berusaha membiasa, atau mungkin tak pernah datang sebab kita tak mengizinkannya. Banyak suami yang mungkin tidak menyadari istri yang baru sebulan dinikahinya ternyata sering menangis sendirian saat ia tinggal kerja. Sang istri mengalami "jet lag" dengan status barusnya sebagai istri. Mereka menangis karena kaget, kaget pada rutinitas barunya, kaget pada kebiasaan-kebiasaan pasangan yang mungkin bertolak belakang dengan apa yang dia kerjakan selama ini, kaget dengan berbagai hal yang tak ia ketahui sebelumnya. Banyak wanita merasa ekspektasi tentang rumah tangga yang selama ini hinggap di benak ternyata jauh dari kenyataan. Sebagian dari mereka juga rindu pada pekerjaannya sebelum menjadi housewife, rindu kepada teman-temannya yang hampir setiap hari bertemu dan berkumpul, rindu pada "kebebasan" untuk pergi kemanapun tanpa terkendala izin dan omongan orang, dan yang utama rindu pada orang tua dan saudara. Ini bukan tentang penyesalan atas keputusan yang telah disepakati. Bukan. Ini murni tentang adaptasi. Tapi terkadang sebagai wanita, kita sendiri tidak menyadari proses ini, sehingga kita bingung bagaimana menghadapi emosi yang berkecamuk dalam dada, takut untuk mengutarakannya, lalu berakhir dengan tangis di sudut-sudut waktu.

Saya termasuk yang mengalami proses adaptasi ini, mengingat sebelumnya saya aktif bekerja sesuai profesi, senang mengikuti berbagai kegiatan, dan tidak pernah merantau jauh dari orang tua, ternyata setelah menikah harus resign dari pekerjaan dan ikut suami merantau jauh ke Ternate. Sesampainya di Ternate pun tidak melanjutkan jalan profesi karena ada jabang bayi yang perlu "dijaga". Perubahan total dari segi aktivitas, lingkungan, dan fisik ini tentu membuat saya kaget dan tersedu-sedu. Tapi saya tak pernah bisa menjelaskannya pada suami karena beliau tidak mengalaminya, jadi dengan sendirinya saya merasa beliau tidak akan paham.

Proses semacam ini tidak hanya terjadi pada penyandang predikat "istri baru", melainkan juga "ibu baru", dalam artian: ibu yang baru saja melahirkan. Itulah kenapa ada istilah Baby Blues, Postpartum Blues, Depresi Masa Nifas, dan sebagainya, untuk menggambarkan bahwa proses ini tidak sesederhana yang dikira.

Serangkaian proses tadi, apabila tidak terlewati dengan baik, sedikit banyak pasti akan berpengaruh buruk pada pola pengasuhan kita terhadap anak. Sebab, mengutip kalimat Bu Septi, kita belum selesai dengan diri kita sendiri.

Itulah, saya kira, akar tujuan diadakannya Program Matrikulasi di IIP, ialah sebagai media kita belajar mengenal diri, menggali potensi, meluruskan kembali tujuan dan peran hidup kita di dunia yang luas ini. Sampai kita selesai dengan diri kita. Sampai kita tidak lagi merasa memiliki ganjalan di hati. Sampai plong! Sebab, hanya wanita yang telah selesai dengan dirinyalah yang dapat mengabdikan diri secara total pada anak-anak dan suaminya, siap mengembangkan potensi, lalu membantu sesamanya dalam masalah serupa.

Rasanya saya ingin menuliskan perkara "selesai" ini dalam satu postingan terpisah.


Doc. pribadi: Wisuda Matrikulasi IIP Batch 6 Kelas Jakarta 3

Hari Ahad, 20 Januari 2019 kemarin, pada akhirnya kami diwisuda, setelah dinyatakan lulus pada November yang lalu. Suami saya turut serta hadir menyaksikan rangkaian acara wisuda. Melihat banyaknya peserta yang hadir, sepulangnya dari sana suami saya bertanya kembali, "Ikut IIP itu output-nya apa?"

Ingiiiin rasanya saya menjawab bahwa saya merasa lebih bahagia sekarang. Sepenuhnya menerima bahwa peran utama saya saat ini adalah menjadi istri bagi beliau dan ibu bagi anak(-anak) kami. Saya telah melepas ransel di punggung yang berisi ego pribadi dan menyimpannya di rak paling bawah sendiri. Setelahnya, menggendong Asqi terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi beban masa lalu yang selamanya hanya akan membuat saya uring-uringan.

Saya ingin menjawab seperti itu, tapi karena jawaban tersebut terlalu absurd, saya mengurungkan niat. Saya memilih mengisahkan kembali cerita seorang ibu yang sering berlaku kasar pada anak balitanya, sebelum akhirnya bergabung ke dalam IIP dan menyadari bahwa tindakannya selama ini keliru. Saya kira itu cukup untuk dijadikan contoh konkret demi menjawab pertanyaan suami. Dan saya rasa itulah tujuan komunitas, sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman dan upgrade ilmu. Sebab setinggi apapun kita, kita tetap perlu belajar dan butuh pengingat untuk menjadi lebih baik.


Diketik bersama rintik hujan yang membasahi kota.
Jakarta, 24 Januari 2019


1 komentar:

  1. Selalu suka dengan ceritanya mbak Fina😍, yang digambarkan di atas mewakili perasaan saya banget tuh,

    Setelah menikah saya sempat mengalami depresi tapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkan apa yang saya rasakan pada suami karena cuma sy yg rasakan, setelah melahirkan pun begitu.

    Btw baarakallaah ya mbak atas wisudanya. IIP ini sudah lama sy tahu cuma belum tahu gimana cara bergabungnya, mungkin mbak bisa tlg jelasin ke saya (bs lewat inbox fb ya) krn sy tertarik jg pengen belajar dstu.

    BalasHapus