MOM SHAMING DAN HITAM-PUTIH DUNIA PARA IBU



Beberapa tahun terakhir sedang marak istilah mom-shaming, yaitu aksi mengkritik atau mengomentari seorang ibu atas pilihannya terkait pengasuhan anak karena pilihan tersebut berbeda dengan pilihan si pengkritik. 

Kebanyakan dari pelaku mom-shaming adalah orang-orang terdekat ibu, tapi tak jarang aksi mom-shaming juga datang dari sumber-sumber yang tak dikenal; melalui media sosial. Menariknya, sebagian besar dari mereka tidak sadar bahwa mereka tengah melakukan mom-shaming. Bisa jadi niat mereka baik. Mereka ingin membantu, mengingatkan, menasehati tentang cara pengasuhan yang menurut mereka "benar". Mereka khawatir jika tidak diingatkan, anaklah yang menanggung resikonya. 

Sayangnya, banyak dari kita lupa bahwa setiap anak itu berbeda. Kondisi masing-masing keluarga juga berbeda. Gaya pengasuhan yang sama belum tentu akan memberi hasil yang sama pada setiap anak. Jadi apa yang mereka anggap benar itu tidak bisa langsung diterapkan pada anak yang lain. 

Kalau memang niatnya mengingatkan dan menasehati seorang ibu (terutama ibu baru), lakukan secara pribadi dan gunakan redaksi yang baik. Karena dampak negatif dari mom-shaming ini cukup berbahaya. Beberapa di antaranya adalah:
1. Ibu menjadi rendah diri dan tidak percaya diri
2. Meningkatnya kecemasan dan potensi depresi pada ibu
3. Munculnya over-parenting; Ibu memiliki standar tinggi dalam pengasuhan anak dan (sadar atau tidak) menuntut anak mencapai standar tersebut
4. Melemahnya insting natural seorang ibu karena terlalu fokus berusaha menuruti berbagai pendapat
5. Meningkatnya potensi siklus rantai, seorang ibu ganti mengkritik ibu lain atas pilihan parentingnya
6. Merasa bahwa dirinya gagal dan tidak akan pernah menjadi ibu yang baik bagi anaknya. (Sumber: @momikologi)

Bahaya banget kan? So, mari kita bergandengan tangan untuk meciptakan lingkungan yang kondusif bagi sesama ibu dalam mengasuh anak-anaknya, baik di dunia nyata maupun social media, agar kita semua menjadi ibu yang bahagia. Sebab setiap anak itu tidak butuh ibu yang sempurna, mereka hanya butuh ibu yang bahagia menjalankan perannya.

Berikut adalah salah satu bentuk mom shaming (mungkin tidak disengaja) yang coba saya kupas untuk dilihat di mana letak bahayanya.

P.S. Postingan ini lebih dahulu diunggah di Facebook setahun silam.

Ternate, 3 Januari 2018

Screencapture dari postingan di https://m.facebook.com/nuraida.rachmawati
Postingan seorang dokter puskesmas ini lewat di beranda saya kemarin sore, saat saya sedang asyique ngelonin Singa sambil berselantjar di dunia maya.

Begini redaksinya:
Sy sering merasa geregetan, klo ada seorang Bunda yg cantik... memberikan empeng/kempengan/kempongan kpd putra/putrinya... maaf, ya...Beberapa hr yg lalu sy punya pasien bayi dg diare... berlendir dan berdarah... dan ternyata, dr hasil laboratoriumnya, ada amoeba di dlm kotorannya. Bayi kan belum bisa jajan atau rujakan ya? Tapi dia sdh terkena desentry, krn dia diberi kempengan oleh bundanya. Kempengan itu sungguh tidak higienis. Empeng sering jatuh ke lantai, atau ke tanah, dan diberikan ke bayi tanpa dibersihkan dg benar. Empeng jg srg digeletakkan begitu saja shg dihinggapi lalat atau debu dan kotoran lainnya. Sungguh kotor... tega benar Bunda berikan kpd bayi.Sebelumnya, sy jg punya pasien bayi kurang gizi... dan dia juga diberikan kempengan oleh bundanya. (Hhiii... geregetan) Menghisap kempengan membuat bayi lelah shg dia kehilangan keinginan utk menghisap puting susu ibunya. Membuatnya malas minum susu... shg jd kurang gizi.Ayyo dong, Bun... hentikan pemberian kempengan pd bayi. Agar anak kita tumbuh sehat dan cerdas.

Begitu selesai membaca postingan ini, saya langsung tergerak untuk menanggapinya lewat postingan terpisah.
Pertama, bu dokter lupa menyertakan keterangan usia si bayi pada postingannya. Berapa hari? Berapa bulan? Atau bahkan, berapa tahun? Menurut wikipedia, sebutan bayi biasa digunakan untuk anak usia <12 bulan. Tapi di beberapa tempat ada pula yang mendefinisikannya sampai 2 tahun. Nah, kalau bayi pada kasusnya bu dokter ini usianya >6 bulan, yang mana idealnya sudah mengenal MPASI, maka redaksi "Bayi kan belum bisa jajan atau rujakan ya?" ini sangatlah menggelitik. Bayi >6 bulan memang belum bisa jajan sendiri ke warung, atau sengaja memanggil penjual es lilin agar berhenti di depan rumah. Tapi bukan berarti mereka belum boleh jajan. Bayi >6 bulan, apalagi bayi zaman sekarang, sudah punya jajan (snack)-nya sendiri. Banyak tersedia di mini maupun supermarket. Berbagai merk. Asqi anak saya saja rutin beli snack bayi kok yang bentuknya biskuit itu. Artinya, dia sudah bisa jajan. Bayi >6 bulan juga sudah bisa mengonsumsi buah-buahan yang biasa digunakan untuk membuat rujak, seperti pepaya, belimbing, mangga, bengkoang, dan timun, bahkan nanas. Bisa banget. Meskipun tanpa sambal gula.

Nah, disentri amoeba (dalam postingan tersebut terlampir hasil test laboratorium yang menunjukkan positif amoeba) merupakan diare yang disertai darah atau lendir, yang disebabkan oleh infeksi parasit (amoeba). Tapi, amoeba lebih sering ditemukan pada makanan dan air yang tercemar. Bisa jadi karena kurang higienis dalam pengolanannya, bisa juga karena faktor lingkungan. Resiko terkontaminasi amoeba akan meningkat pada seseorang yang tinggal di dekat saluran pembuangan, kesediaan air bersihnya kurang memadai, daerah kumuh, dan tempat-tempat di mana tinja manusia dijadikan pupuk. Itulah kenapa--menurut saya--menyertakan umur bayi dalam postingan semacam ini sangatlah penting. Kalau memang usia bayinya <6 bulan dan belum MPASI, ndak mimik sufor, kita baru boleh mengarahkan penyebab disentri amoeba ke hal lain. Karena ASI jelas steril. Jadi kemungkinan penyebabnya bisa ke benda-benda di sekitarnya yang ikut terkontaminasi amoeba, dalam hal ini; empeng.

Kedua, dan inilah yang paling penting, soal redaksi, "Kempengan itu sungguh tidak higienis. Empeng sering jatuh ke lantai, atau ke tanah, dan diberikan ke bayi tanpa dibersihkan dg benar. Empeng jg srg digeletakkan begitu saja shg dihinggapi lalat atau debu dan kotoran lainnya. Sungguh kotor... tega benar Bunda berikan kpd bayi."

Ini kalimat yang sangat berbahaya; menggeneralisir dan men-judge.

Sebelum kalimat di atas muncul, ada kalimat, "Tapi dia sdh terkena desentry, krn dia diberi kempengan oleh bundanya." Andai, setelah kalimat ini bu dokter menuliskan bahwa; "menurut keterangan ibu pasien, empeng yang diberikan pada bayinya memang tidak higienis, sering jatuh, dan lain sebagainya sehingga menyebabkan diare," itu justru bagus. Karena berlandaskan anamnesa keluarga pasien. Tidak ngawur. Nah, kalimat yang berbunyi; "Kempengan itu sungguh tidak higienis. Bla bla bla...", itu hanyalah kumpulan dari sisi-sisi negatif empeng yang sering terjadi di masyarakat secara luas, bukan terkhusus pada kasus ini. Tapi oleh bu dokter, paragraf ke-2 ini ditutup dengan kalimat, "Sungguh kotor... tega benar Bunda berikan kpd bayi." Seakan setiap bunda akan melakukan hal demikian pada bayinya, lebih khusus lagi; bunda dalam kasus bayi diare ini. Sungguh bukan redaksi yang bhaique~

Terakhir, kalimat penutup pada postingan tersebut sarat akan kampanye. Tapi, alih-alih mengkampanyekan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar terhindar dari penyakit diare, bu dokter ini justru menuliskan; "Ayyo dong, Bun... hentikan pemberian kempengan pd bayi. Agar anak kita tumbuh sehat dan cerdas."

(Ya kan emang dari awal mbahasnya kempengan, Bookkk. Ibok Asqi. Piye sih.)

Oh iya juga ya. Ya sowry deh~

Maksud saya, kalau memang bu dokter ini mau mengkampanyekan anti-empeng, ya lebih baik dibahas saja kelebihan dan kekurangan si empeng. Timbang bobotnya, lalu simpulkan bahwa ternyata--katakanlah--mudharatnya lebih banyak daripada mashlahatnya. "Maka itu hindarilah." Itu, jauuuuh lebih mencerdaskan daripada postingan menjudge yang datanya ngambang semacam ini.

Saya bukannya mendukung pemberian empeng pada bayi ya. Bukan. Empeng memang dikabarkan memiliki sisi negatif, seperti meningkatnya resiko infeksi pada telinga, bingung puting, dan beberapa kekhawatiran soal masalah pada pertumbuhan gigi (pertumbuhan terhambat, gigi jadi tonggos, dll.). Tapi ada banyaaaaaak sekali ibu-ibu di luaran sana yang dengan sadar memberikan empeng pada bayinya, dan sampai bayinya tumbuh menjadi anak-anak, mereka tetap sehat nan cerdas sesuai tahapannya. Jarang terserang diare, tidak pernah punya masalah dengan telinga, dan gigi mereka pun tumbuh rapi bagaikan barisan biji mentimun. Baca deh komen-komen di postingan itu.

Korelasi antara empeng dan diare itu kan hanya terletak pada kebersihannya, sedangkan antara empeng dan kurang gizi ada pada durasinya. Alangkah tidak bijaknya jika kita men-judge seorang ibu yang memberikan empeng pada bayinya sebagai ibu yang TEGA. Bahkan sampai berkampanye untuk menghentikan pemberian empeng dengan alasan sehat dan cerdas. Lha opo nek ngempeng kui trus bayine dadi bodo?

Kampanyekanlah untuk menghentikan kebiasaan buruknya (empeng tidak langsung dicuci setelah jatuh ke lantai, memberikan empeng terlalu lama sampai bayi kelelahan dan malas nyusu, dsb.), bukan barangnya.

Kita tidak tahu kondisi masing-masing ibu. Yang perlu kita yakini, setiap ibu pasti sayang pada anak-anaknya. Dan setiap ibu pasti memiliki pertimbangannya sendiri. Mau diberi empeng ataupun tidak, pasti ada alasan yang sudah dipertimbangkan terlebih dahulu.

Yang saya khawatirkan dari postingan men-judge semacam ini--yang mana memiliki angka >12k shares dan 5k reactions, dan mungkin akan terus bertambah--adalah rasa jumawa pada diri para pembaca yang berada pada sisi putih. Sisi putih di sini adalah sisi yang dibenarkan oleh pemilik postingan, yaitu mereka yang tidak memberikan empeng pada bayinya. Yang pada tahap tertentu, dapat membuat mereka merasa dirinya sudah baik, paling baik, paling benar, lalu menganggap salah dan buruk orang lain yang berada si sisi hitam (orang-orang yang memberikan empeng pada bayinya). Padahal baik dan buruk itu memiliki faktor yang sangat luas. Tidak hanya ditentukan dari satu nilai; empeng/tidak empeng, sufor/ASI, MPASI 6 bulan/MPASI dini, SC/spontan.

Sekian dan terima sayang. 

***


P.S. Original post-nya sudah dihapus oleh pemilik akun, entah dengan alasan apa. Ketika saya membuka link-nya lagi, halaman itu sudah tidak ada. Saya berharap jika bu dokter yang bersangkutan membaca tulisan saya ini, beliau tidak beranggapan bahwa saya membencinya. Tulisan ini tidak dibuat untuk kepentingan personal. Ini adalah tanggapan dari sesama tenaga kesehatan dan seorang ibu, murni ditujukan untuk menghindari sikap mom-shaming diantara para ibu karena yang saya komentari adalah redaksi dan cara bu dokter menyampaikan pesan yang rentan disalahtanggapi oleh ibu-ibu lain di seluruh Indonesia.


Diedit dan post ulang pada 15 Januari 2019 (diperbaruhi pada 31 Desember 2019), di tanah Jakarta.

0 comments:

Posting Komentar