Terlahir sebagai anak orang "miskin" lalu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah menikah ternyata membawa beban tersendiri bagi saya.

Saya tahu bagaimana orang tua saya--yang hanya penjahit rumahan dan penjual pecel di pinggir jalan--mati-matian menyekolahkan anaknya sampai mendapat gelar diploma. Saya masih ingat betul ucapan Bapak soal biaya masuk kulian yang tergolong besar, "Biar itu jadi urusan bapak-ibu. Kamu tinggal belajar aja yang benar."

Dan Ibu yang bilang, "Ibu punya simpanan uang. Cukup kok."

Kalau diingat-ingat lagi sekarang, rasanya susah untuk tidak menangis. Saya merasa punya hutang yang sangat besar pada mereka, sekalipun Bapak berkali-kali meyakinkan, "Sudah jadi kewajiban orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Kamu ga perlu merasa berat."

Status tidak mandiri secara finansial ini bukan hanya menjadi beban batin, tapi juga membuat rasa minder saya sebagai manusia bertambah besar. Saya seperti anak kecil yang terpaksa putus sekolah, lalu malu bertemu dengan teman-temannya karena minder.

Saya pernah beberapa kali menolak diajak kondangan ke pernikahan teman suami hanya karena saya malu. Tidak percaya diri bertemu orang-orang di lingkungan suami saya, orang-orang kemenkeu, orang-orang berduit, yang saya anggap sebagai orang-orang sukses. Saya tidak cantik. Tidak punya bakat apa-apa. Dan sekarang tidak bekerja di ranah publik. Mungkin saya hanya akan membuat suami saya malu memiliki istri seperti saya.

Ya, sampai separah itu penyakit minder yang saya derita. Jangankan sama orang luar, sama suami sendiri pun saya kerap minder luar biasa. Beliau multitalenta, produktif, good at everything, dan koneksi pertemanannya luas. Saya kebalikannya. Saya selalu merasa uang suami tetaplah uang suami. Tidak ada hak saya kecuali untuk urusan rumah tangga. Sebab beliau yang banting tulang. Beliau yang memeras otak untuk dapat uang, bukan saya. Saya tidak pernah sanggup untuk meminta uang layaknya istri-istri lain meminta uang pada suami mereka. Karena sejak kecil saya tidak terbiasa menerima uang secara cuma-cuma. Pada akhirnya sikap ini menjadi beban tambahan yang membuat saya tidak berkembang dan makin terperosok dalam jurang ketidakpercayaan diri.

Berkali-kali suami saya mengatakan, "Yang punya kewajiban bekerja dan menafkahi keluarga itu kan aku. Bukan kamu." Dan berkali-kali itu juga saya menangis setelahnya. Menangis karena ingin berontak tapi tak bisa. Saya tahu tidak seharusnya saya merasa begini. Tapi watak "keras kepada diri sendiri" ini telah mendarah daging dan sulit dilenyapkan begitu saja.


***

Itulah sekelumit kondisi jiwa saya di awal-awal pernikahan hingga menjadi ibu baru. Beradaptasi dengan status baru, lingkungan baru, kebiasaan baru, dan semua yang serba baru membuat saya syok. Terutama setelah anak kami lahir, seluruh waktu yang saya miliki tersita untuknya. Ingin produktif dalam berkarya tapi tak bisa. Akhirnya saya makin merasa useless. Saya tidak menyesal, tapi keinginan untuk memiliki kembali kelonggaran dan kegiatan berpenghasilan seperti sebelumnya selalu datang menggoda. Dan di saat-saat itulah saya sering uring-uringan.

Beberapa waktu setelahnya saya mengenal IIP. Lalu bergabung ke dalamnya. Ini adalah satu hal yang sangat saya syukuri dalam hidup. Sebab oleh campur tangan IIP, saya (bisa dikatakan) berhasil menyelesaikan urusan dengan diri saya sendiri. Kini saya merasa lebih legowo menerima kondisi diri saya sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Saya tidak ingin mengulang momen ketika saya menangis mengingat jasa-jasa orang tua, pun menangis dibalik punggung suami ketika merasa gagal menjadi istri. Saya tidak ingin mengulang momen-momen itu, menangis karena gagal menjadi ibu. Tidak. Saya harus menjadi ibu yang baik bagi anak saya.

Itulah kenapa saya membulatkan tekad untuk mendaftarkan diri mengikuti kelas Bunda Sayang IIP Batch 5. Saya ingin memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas diri saya sebagai Ibu bagi Arslan (21 Bulan). Saya tidak ingin merasa kerdil dan minder di hadapannya. Saya harus jadi ibu yang hebat.
Semangat saya masih berkobar, sama seperti ketika saya berhasil menyelesaikan 9 NHW di kelas matrikulasi tepat waktu. Tanpa terlambat satu pun.

Tekad saya masih sama bulatnya dengan pertama kali registrasi untuk mengikuti kelas matrikulasi. Dan kini bahkan makin membulat sempurna.

Saya siap ber-marathon-ria bersama Arslan dan ayahnya. Meluangkan waktu beberapa menit sebelum tidur untuk membaca ulang materi dan obrolan bersama teman-teman di WAG, guna men-charge semangat agar konsisten, seperti yang rutin saya lakukan ketika matrikulasi dulu. Dan mengambil peran lebih banyak dalam komunitas; masuk ke dalam kepanitiaan, mengambil peran dalam rumbel, atau menjadi bagian dari perangkat kelas. Bismillah. Semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk menetapkan langkah.

Demikian esai yang saya tulis demi mendaftarkan diri di kelas Bunda Sayang Batch 5.

Jakarta, 11 Februari 2019