KOMUNIKASI PRODUKTIF PADA PASANGAN: CHOOSE THE RIGHT TIME

Maret 30, 2019

Meberapkan Kaidah Komunikasi Produktif pada Pasangan (Choose the Right Time)

Komunikasi Produktif Game Day #2

Belakangan ini suami saya sangat disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Beliau jadi sering pulang terlambat, hampir selalu di atas jam 9 malam. Kadang juga sampai menginap di kantornya ketika weekend tiba.

Begitu pulang beliau sudah kelelahan. Tapi tugas belum selesai. Beliau masih harus menuntaskan pekerjaan yang berasal dari luar kantor, seperti orderan design dan sebagainya. Atau sekadar mengasah skill dan produktivitas. Dan itu dilakukannya selepas tengah malam. Di sela-sela waktunya, beliau masih harus merespon beberapa chat penting yang masuk, atau merefresh otak dengan membaca artikel bola dan bermain game.

Komunikasi Produktif
Ophand Albana. Sumber: doc.pribadi

Saya tahu, tidak seharusnya saya banyak menuntut. Sudah untung punya suami yang produktif berkarya dan membanggakan. Tapi dalam hati kecil saya, saya merasa interaksi di antara kami berkurang. Ikatan komunikasi merenggang. Di antara obrolan ringan yang masih terlontar, tak ada satu pun yang melibatkan perasaan. Hayati sedih, bagaimana pun Hayati kan butuh belaian, Bang, eh, maksudnya perhatian.

Ingin rasanya saya berkata, Mas mbok buka WA-nya nanti aja, main sama Asqi dulu. Tapi saya tidak pernah punya nyali. Siapa saya. Kerja enggak, ngerasain capeknya kerja seharian enggak, kok ngelarang-larang. Begitu pikir saya. Selalu begitu. Saya selalu merasa kerdil di hadapan suami. Hanya karena satu status "sepele": tidak bekerja di ranah publik. Bebeberapa waktu terakhir, perasaan useless dan minder ini memang muncul kembali dan semakin menjadi. Puncaknya, saya tidak dapat lagi menahan emosi, dan tangis meledak tanpa aba-aba. Suami saya bertanya, ada apa. Saya hanya diam. Saya ingin mengutarakan semuanya, tapi tidak sekarang, kata saya dalam hati. 

Saya menunggu waktu yang tepat agar apa yang saya sampaikan nanti dapat diterima persis seperti yang saya inginkan, tanpa perlu cek-cok. Dan ketika hari yang dinanti tiba, saya menahannya sampai tengah malam, sebab tengah malam adalah waktu dimana fokus kami meningkat dan emosi berada di level bawah. Sembari melaksanakan rutinitas memijat kepala beliau, saya pun membuka percakapan.

Selang beberapa waktu, saya mulai masuk ke inti pembicaraan. Saya mengatakan pada beliau bahwa saya ingin beliau meluangkan waktu sejenak setiap harinya untuk fokus kepada kami. Tidak perlu lama-lama. Cukup 15-30 menit selepas beliau bebersih badan sepulang kerja. Letakkan dulu gadget-nya. Ngrobrol santai. Entah obrolan seputar pekerjaan, atau yang lebih serius seperti masa depan Asqi. Bergurau sesekali. Lalu bahagia berkali-kali. Permintaan saya gak muluk-muluk kan, Mas? :')

Beliau tidak langsung mengiyakan, sebab mungkin bagi beliau, usul ini hanya mengada-ada. Bukan hal yang perlu. Tapi saya terus membujuk, hingga kemudian beliau setuju.

Keesokan harinya, saya menanti-nanti bagaimana beliau akan mengeksekusi kesepakatan kami semalam. Sepulang kerja, masuk ke kamar mandi berganti pakaian, beliau mendekati istri dan anaknya. Saya tersenyum. Tapi belum sempat kami ngobrol, dering handphone-nya berbunyi tanda notifikasi pesan WA masuk. Beliau spontan mengambil hapenya dan membuka notifikasi. Lalu sibuk mengetik.

Saya langsung menegurnya pelan, "Mas.."

Beliau buru-buru mengonfirmasi bahwa itu pesan penting dari Pak Eko, atasannya di kantor. Saya terdiam, menunggu. Tidak sampai satu menit, beliau sudah kembali meletakkan hapenya dan bercengkrama dengan kami.

Terima kasih, ya, Mas. Saya berharap ini akan berjalan seterusnya. Demi kekompakan kita. :)

Ditulis dengan sayang,
Jakarta, 29 Maret 2019

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe