DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Maret 28, 2019

Menerapkan Komunikasi Produktif kepada Diri Sendiri

Komunikasi Produktif Game Day #1

Beberapa waktu yang lalu ketika Materi 3 Pra-Bunsay disampaikan, ingatan saya ditarik kembali ke masa lalu dimana segala emosi negatif yang saya miliki sekarang menemukan titik mulanya. Materi ini memang ditujukan agar kami dapat berdamai dengan masa lalu, dengan cara menghidupkan lagi peristiwa-peristiwa paling pahit yang pernah dialami, lalu menggali emosi yang kami rasakan saat itu, untuk kemudian dijabarkan apa saja hikmah yang kami dapat dari peristiwa itu. Sampai kami memaafkan segala sesuatu yang terlibat di dalamnya, dan melangkah maju. Menjadi pribadi yang baru.

Saya kira saya akan baik-baik saja. Sebab selama ini pun saya tidak benar-benar melupakan peristiwa-peristiwa itu dan saya baik-baik saja. Tapi ternyata menggali masa lalu itu tidak sama dengan membiarkannya tetap ada di sana. Tidak pernah sama. Dan saya hampir saja kembali terpuruk.

Ilustrasi Komunikasi Produktif pada Diri Sendiri. Sumber: doc. pribadi
Mungkin saya terlalu masuk ke dalam emosi negatif yang dulu saya rasakan, ketika menganalisanya. Sehingga emosi negatif itu justru menguasai hati dan pikiran saya selama beberapa waktu. Saya kembali kehilangan kepercayaan diri, rendah diri, kerdil, dan menyesali masa-masa yang telah lewat, juga pilihan-pilihan yang terlanjur tidak tepat. Mengapa dulu saya tidak begini, tidak begitu. Mengapa saya tidak bisa melakukan ini, tidak bisa melakukan itu. Saya merasa hidup saya tidak bermanfaat sama sekali.

Hal ini berefek buruk tidak hanya pada diri saya sendiri, tapi juga pada cara berkomunikasi saya dengan suami. Saya menjadi mudah tersinggung dan selalu berpikiran negatif pada beliau. Apa yang beliau sampaikan, semuanya terdengar negatif. Ketika beliau bertanya, saya mendengarnya sebagai sindiran. Ketika beliau menasehati, saya merasa seperti sedang dimarahi dan dicaci-maki. Ketika beliau mengerjakan hal yang sepele sendirian, saya merasa diremehkan dan tidak dianggap karena biasanya saya lah yang melakukannya untuk beliau. Seburuk ituuuuuu hati sayah, pemirsaaaah! 

Satu contoh, sempat beliau bertanya, "Kok sekarang kamu ga pernah nulis di fesbuk lagi?"

Bukannya menjawab, saya justru terdiam dan merasa sangat tersinggung. Dalam hati saya, berkecamuk segala emosi. Suara-suara kecil sayup-sayup terdengar saling tindih beradu benar. "Gimana mau nulis di fesbuk, punya ide tulisan aja enggak, punya waktu buat nulis aja enggak. Sehari-harinya habis buat rutinitas yang gitu-gitu aja. Ngerti nggak sih kamu, Mas? Aku juga pengen nyetatus lagi di fesbuk. Tapi ga bisa!" Lalu saya menangis sendiri karenanya.

Facebook sudah seperti panggung bagi saya. Di sanalah saya membentuk personal branding sejak awal kuliah. Dulu saya dikenal sebagai seorang bidan yang gemar sharing tentang topik seputar kesehatan wanita, pintar menulis, suka menggambar, dan jaringan pertemanannya luas. Itu personal branding saya. Tapi kini semuanya terkikis dengan sendirinya. Perlahan saya menepi dari hingar bingar dunia maya. Sampai saya merasa kehilangan eksistensi di sana. Saya bahkan tidak tahu, dikenal sebagai apa/siapa saya sekarang. Terlalu banyak hal tidak lagi saya miliki. Dan saya sedih.
Hanya karena satu pertanyaan tentang facebook dari suami saya, yang sebenarnya berniat baik ingin mengembalikan semangat menulis istrinya, saya jadi down. Niat baik beliau justru saya sikapi dengan amarah dan kesedihan.

Saat itu saya berpikir, ini pasti ada yang salah. Saya tidak bisa begini terus. Harus ada yang saya perbaiki.

Saya sadar letak kesalahannya ada dalam diri saya. Di hati dan pikiran saya. Sikap dan lelaku saya hanyalah output yang mencerminkan betapa negatifnya isi hati dan pikiran ini. Maka saya harus memperbaikinya.

Saya akan mereset semua program yang tertanam dalam diri. Mengobati rasa sakit. Berdamai dengan luka. Hingga yang ada hanyalah kata "jernih". Saya juga perlu mengganti kata-kata negatif yang sering saya pakai dengan kata-kata positif, agar energi yang masuk ke dalam diri saya pun sama positifnya.

Saya BISA. Saya PUNYA BANYAK IDE untuk menulis. Saya PUNYA CUKUP WAKTU untuk menulis. Saya PASTI BISA menghasilkan gambar lebih baik jika terus latihan. Saya MAMPU me-manage waktu agar kegiatan bermain bersama anak, melayani suami, dan memanjakan diri dapat berjalan seimbang. Saya BISA.

Bismillah. Semoga dengan tekad ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sehingga saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling saya dengan sebaik-baiknya, seproduktif yang saya bisa. Doakan saya ya. Dan tunggu kelanjutan cerita ini di postingan-postingan berikutnya. ;)

Diketik dengan rindu yang menggebu, 
Jakarta, 28 Maret 2019.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Instagram

Followers

Subscribe