Praktek Menerapkan Kaidah Komunikasi Produktif pada Pasangan

Game Level 1 Komunikasi Produktif Day 9

Partner: Suami

Topik: Lebih terbuka satu sama lain dengan permainan Glad, Sad, and Mad

Waktu: Menjelang pukul 22 malam, 5 April 2019

Saya tidak menyangka saya akan sampai di tahap ini. Dimana saya mampu mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini saya simpan kepada suami dengan santainya. Tanpa ledakan emosi, tanpa perlu isak tangis yang mendrama. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program belajar Bunda Sayang IIP, karena berkat progam inilah saya punya nyali untuk mengkomunikasikan perasaan saya pada suami.

Malam ini, jujur saja saya nyaris kehabisan ide untuk menuliskan laporan tantangan 10 hari komprod. Bukan karena tidak ada lagi yang bisa saya praktekkan, melainkan karena hampir setiap saat saya mencoba mempraktekkannya tapi tidak ada lagi yang cukup menarik untuk diceritakan. Untuk praktek komprod bersama Asqi, polanya mirip-mirip. Intinya begitu-begitu saja, sehingga saya pikir agak kurang menarik untuk dibagikan. Maka saya pun memutar otak, apa lagi yang bisa saya lakukan untuk menuntaskan tugas T10 materi pertama ini.

Dan muncullah ide yang satu ini.

Ide ini terinspirasi dari Mbak Vita, fasilitator kami, yang pernah sharing tentang salah satu kegiatan beliau dalam family forum bersama suami dan anak. Beliau dan suami menuliskan apa saja yang membuat mereka senang, sedih, dan marah terhadap sikap pasangan. Mereka menuliskannya di lembaran kertas kecil-kecil lalu menempelkannya di dinding.

Saya ingin menirunya.
Maka ketika kesempatan itu datang, saat suami sedang bermain game, saya memulai obrolan. Entah karena kami sedang dalam mood yang baik, atau memang waktunya tepat, obrolan yang saya kira akan berjalan dengan tegang ini ternyata justru mengalir ringan, luwes. Saya berhasil mengontrol gejolak emosi yang terasa ingin meletup.

Dari obrolan itu, saya tahu apa saja yang membuat suami senang, sedih, dan marah terhadap sikap saya. Ya sebenarnya saya sudah tahu sih kalau ini. Sejak matrikulasi sudah sering saya tanyakan. Tapi yang berbeda kali ini adalah.. pada akhirnya saya mampu mengatakan pada suami apa yang membuat saya sedih dan marah pada sikap beliau. Saya jabarkan sikap apa saja berikut contoh kejadiannya. Dan yang paling membuat saya takjub dengan diri saya sendiri adalah; saya melakukannya dengan tertawa cengengesan, dengan canda, bahkan ketika menceritakan detail peristiwa yang menyakitkan sekalipun. Saya bahkan berani mengatakan pada suami bahwa saya pernah sakit hati pada ucapan beliau, dengan santai. 

Saya tidak menyangka saya bisa melakukannya. Saya merasa banyak perubahan baik yang terjadi akhir-akhir ini. Apakah karena saya sudah berdamai dengan masa lalu? Memaafkan yang telah lewat? Menerima sepenuhnya diri saya yang sekarang? Entahlah. Yang jelas saya merasa menjadi pribadi yang baru.

Berikut jawaban suami untuk pertanyaan yang saya berikan. Saya pakai nama panggilan peran sebagai subjek.

GLAD:
Ibok mengizinkan Ayah bermain game
Ibok selalu membersamai Asqi, dan bermain bersamanya
Ibok mau mengorbankan waktu, tidak bekerja lagi, demi menjaga Asqi
Ibok nrimo, menjadi istri yang tidak banyak menuntut

SAD:
Ketika Asqi menangis tapi Ibok tidak mengubris karena lapar

MAD:
Ketika Ibok tiba-tiba nesu ga jelas.

Yaaah.. manusia ga ada yang sempurna kan. Sekeras apapun saya berusaha menjadi yang terbaik, tetap saja ada kurangnya. Saya mengakui itu. Solusi dari suami, saya harus mengutarakan apa yang saya inginkan secara verbal. No kode-kode club. Karena beliau ga akan tahu kalau saya ga ngomong, begitu katanya.

Siaaaaaap!

Bismillah, semoga kami menjadi pasangan yang lebih baik ke depannya. 

Jakarta, 5 April 2019