WANITA DAN INNER CHILD YANG TERLUKA

Inner-Child yang Terluka

Ilustrasi Depresi/Credit: Kathrin Honesta Ilustration

Semalam, saya ngobrol panjang dengan seorang teman lewat chat whatsapp. Dia bercerita bahwa belum lama ini dirinya menemui seorang psikiater. Menjalani serangkaian tes, wawancara, konsultasi, lalu berujung pada diagnosis awal; Borderline Personality Disorder.

Buat yang belum tahu, Borderline Personality Disorder (BPD) atau dikenal juga dengan istilah kepribadian ambang merupakan kondisi psikologis dimana seseorang kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Menurut beberapa artikel yang saya baca, pada umumnya kondisi ini ditandai dengan perubahan mood yang mendadak, gangguan pola pikir dan persepsi (seperti tiba-tiba merasa dirinya buruk, tidak percaya diri, atau muncul ketakutan-ketakutan akan diabaikan), dan kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain. Pada tahap tertentu, BPD dapat memicu perilaku impulsif berupa tindakan ceroboh atau bahkan percobaan bunuh diri.

Hati ini rasanya mak-deg!
Bukan karena penjabaran dari diagnosis BPD itu sendiri, tapi lebih kepada keputusan teman saya untuk menemui seorang psikiater. Bagi saya, keputusannya itu serupa tanda bahwa kondisi mentalnya memang sudah sedemikian "sulit" untuk ditanganinya seorang diri.

Ngeri ya.
Kita memang tidak pernah tahu apa yang ada di dalam diri orang lain. Teman saya itu, kalau kamu bertemu langsung dengannya, kamu akan sependapat bahwa dia adalah seorang wanita yang tampak selalu bahagia. Dia senang bercanda, dan selalu menjadi yang pertama datang menyapa. Apapun yang diucapkannya selalu sukses membuat kami tertawa. Tidak ada yang akan mengira bahwa jauh di dalam dirinya, ada amarah, kesedihan, kekecewaan, kegelisahan, yang menumpuk tanpa pernah tuntas tersalurkan. Yang kemudian membuat emosinya meledak-ledak hanya karena satu percikan.

Pernah suatu ketika, dia bercerita tentang emosi negatifnya di masa lalu, yang bersumber dari kemarahannya kepada orangtua, terutama ibunya. Di waktu kecil, tuturnya, dia adalah sasaran amarah sang ibu yang jet lag karena perubahan rutinitas dari wanita karir menjadi IRT dan harus tinggal di pedalaman gunung. Ibunya stress berat saat itu, dan melampiaskan segala kecamuk itu padanya. Beranjak remaja, dia sering merasa tertekan dengan pola didik orangtuanya yang terlampau keras, sementara pola yang sama tidak berlaku untuk adik-adiknya. Apa yang dia sukai tidak pernah diterima oleh orangtuanya, dan setiap keputusan yang diambilnya kemudian hanyalah jalan untuk memuaskan ego mereka.

Masalah berlanjut ketika dia menikah dan kemudian hamil. Proses persalinannya menyisakan trauma mendalam. Baby blues pun tak terhindarkan. Yang kemudian menjadi penyesalan hingga kini adalah bahwa air susunya tidak keluar di awal kelahiran bayinya, dan tidak ada seorangpun yang bisa dia tanyai perihal solusi. Bayinya kemudian tumbuh menjadi--meminjam istilah teman saya itu--"anak sapi", yang hanya minum susu formula tanpa mengenal ASI.

Puncak dari semuanya adalah dia harus menjalani kuret karena kehamilan keduanya dinyatakan tidak berkembang (Blighted Ovum), beberapa bulan yang lalu.

Ilustrasi Depresi/Credit: 2017 | DestinyBlue

Kalau boleh saya simpulkan, teman saya itu belum selesai dengan masa lalunya, tapi tidak menyadari hal itu dan tetap melanjutkan langkah dengan mengambil peran dan tanggung jawab baru di setiap jengkalnya. Beban bertumpuk, mengendapkan emosi buruk. Saya yakin banyak dari kita mengalami hal serupa, termasuk saya. Ya, saya juga.

Kenangan buruk di masa lalu memang bukan sesuatu yang remeh. Sebab, pengalaman-pengalaman itulah yang turut membentuk diri kita hari ini. Kalau ternyata penggalan-penggalan kejadian itu mempengaruhi laju kehidupan kita sekarang, ya harus "diselesaikan". Dan teman saya tadi masih dalam perjalanan menuju proses "penyelesaian".

Saya menghela napas.
Rasanya ingin juga segera "menyelesaikan" perkara ini. Tidak banyak yang tahu bahwa saya mengalami masa-masa sulit saat harus beradaptasi dengan status baru sebagai istri, lalu ibu. Sesuatu bernama "inner child yang terluka"--yang baru saya sadari keberadaannya setelah menikah--ini cukup berpengaruh buruk terhadap pola asuh saya kepada Arslan. Mati-matian saya berusaha mengatasi efek destruktif dari luka ini, sendirian. Saya pernah mencoba menyembuhkan luka ini dengan membuat lifeline, menarik kembali kejadian-kejadian menyakitkan di masa lalu untuk kemudian dibedah lalu dimaafkan, tapi gagal (tentang itu sudah pernah saya tuliskan di sini). Dan saya kembali menjadi pribadi dengan inner child yang rapuh. Sampai pada satu titik, saya merasa tidak berguna, sepi, asing. Bayangkan, kamu sedang berkumpul bersama keluarga dan semua orang di sana saling ngobrol seru sambil tertawa lepas, tetapi kamu mendadak sedih dan kalut. Kamu bertanya-tanya mengapa kamu tidak bisa menikmati suasana seperti yang lain?

Saya pernah berada di titik itu. Rasanya menakutkan. Kenapa saya jadi seperti ini? Tapi saat itu saya langsung tahu bahwa yang saya butuhkan hanyalah self-awareness. Kesadaran untuk menerima segala kondisi diri saya, lalu terbuka untuk menceritakannya pada orang yang tepat. Dan orang itu; suami saya.

Meskipun pada awalnya suami saya terus-terusan berkata, "Itu hanya perasaanmu saja," tapi lambat laun belio menyadari bahwa yang perlu belio lakukan adalah memberikan rasa aman dan mengakomodasi saya untuk lebih produktif berkarya, agar kepercayaan diri saya meningkat. (Baca postingan saya tentang "menjalin komunikasi yang sehat dengan suami" di sini.)

Nah, nanti, kalau ada seseorang datang kepadamu mengatakan bahwa dirinya cemas berlebihan, tolong dirangkul. Kalau kamu ga bisa, maka bantu dia mendatangi orang yang tepat. Bantu dia mengatasi lukanya. Jangan malah meninggalkan luka baru dengan komentar menyakitkan, "Halah, hidup kok dibikin ribet sendiri." Atau, "Makanya, cari kegiatan di luar. Biar ga baperan."

Asal kamu tahu, itu tidak menyembuhkan.

0 comments:

Posting Komentar