KEHILANGAN

KEHILANGAN. Awal Maret 2003, adik bungsu kami dipanggil pulang. Namanya Bina. Usianya baru satu tahun lebih tiga belas hari. Masih senang-senangnya merambat, berjalan berpegangan kesana kemari.

Bina kejang pada Jum'at pagi, lalu tak sadarkan diri hingga Sabtu sore sebelum saya menjenguknya ke rumah sakit. Dokter menyebut-nyebut radang selaput otak, belakangan lebih dikenal dengan meningitis. Entahlah, bocah 10 tahun seperti saya tahu apa soal istilah-istilah. Saya hanya ingin bayi di depan kami itu sadar dan menangis, bukan tergeletak lunglai dengan wajah pucat dan ujung mata berair tanpa suara. Tapi takdir telah ditetapkan. Sore itu juga, ketika saya masih berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring, nyawa Bina dijemput. Dia sempat bergerak, lalu merintih pelan, membuat kami lega dan Bapak langsung berbisik riang mengatakan bahwa "Mbak Fina akan menginap di rumah sakit untuk menemani Bina", agar Bina makin semangat untuk memperjuangkan kesembuhannya. Tapi sesaat kemudian tubuhnya kembali lesu, dan mendadak telapak kakinya dingin. Ibu langsung panik dan meminta Bapak memanggil dokter. Dokter datang. Saya masih sempat melihat dokter mengecek denyut jantung Bina menggunakan stetoskop, sebelum Ibu memberi isyarat pada bulek untuk membawa saya keluar ruangan. Dan saya juga masih sempat melihat dokter itu kemudian mengusap pelan wajah Bina, yang saya tahu betul apa artinya. Bina telah pergi. Untuk selamanya.

Saya menangis.

Sekalipun saya belum mengerti apa yang menyebabkan Bina pergi, saya bisa merasakan bahwa kehilangan itu menyakitkan.

Tapi sesedih-sedihnya bocah 10 tahun, tak sampai dua hari, tangisnya terhenti. Masa berkabung telah terlewati, meski duka masih menggelayut di dalam hati. Mbak Liya dan Rizka, dua saudari saya yang lain, juga telah berhenti menangis. Bapak pun sama. Apalagi Bapak harus mengurus ini itu terkait pemakaman dan pengajian untuk mendoakan jenazah Bina, yang membuat fokusnya terpecah dan tidak lama-lama larut dalam kesedihan. Tapi tidak demikian dengan Ibu.

Malam hari setelah tahlilan selesai digelar dan semua tetangga pulang ke rumahnya, isak tangis Ibu masih terdengar mengisi keheningan. Beberapa kali Ibu bangkit dari duduknya secara tiba-tiba, lalu melongok ke ruang tengah sambil memanggil-manggil nama Bina, "Na.. Bina?" Seolah Ibu mendengar suara Bina yang tengah merangkak riang dari ruang tengah, seperti rutinitasnya tiap hari sebelum dia meninggalkan kami. Lalu ketika Ibu sadar bahwa itu hanya halusinasi, ia kembali menangis, kali ini lebih melengking. Membuat hati ini teriris perih.

Saya, Mbak Liya, dan Rizka, hanya duduk terdiam saling berpandangan. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Saya mengira-ngira apa yang Ibu rasakan di hati terdalam Ibu saat itu. Kalau hanya sedih, kami pun sedih. Bapak juga sedih. Tapi kenapa hanya Ibu yang terus menangis?

***

Hampir 17 tahun kemudian, Allah menjawab pertanyaan itu dengan membuat saya merasakannya sendiri. Tanggal 16 Februari kemarin, satu dari sepasang janin kembar yang saya kandung meninggal dunia. Allah memanggilnya pulang bahkan sebelum saya sempat mendekapnya dalam pelukan. Dan ketika akhirnya kami bertemu dalam fisik, saya melihatnya telah membiru.

Perasaan gagal dan bersalah terus-menerus menggempur dada sejak saat itu, membuat sesak. Bisikan-bisikan pertanyaan tentang "seandainya" terdengar nyaring di dalam kepala. Seandainya saja begini, seandainya saja begitu, apakah takdirnya akan berbeda? Apakah ujung jalannya tidak akan sama? Apakah jasad mungil yang terbungkus selimut itu dapat menangis sebagaimana saudara kembarnya?

Ternyata sedih saja tidak cukup untuk mendefinisikan perasaan saya. Ada rindu yang bercampur sesal, ada kecewa yang menyusup dalam-dalam, yang kemudian membuncah menjadi sikap menyalahkan diri sendiri. "Maaf ya, Le. Maafkan Ibu." Ucap saya berulang kali, sembari berharap semua ini hanya mimpi.

Kini saya bisa katakan bahwa saya sangat mengerti bagaimana perasaan Ibu saat kehilangan Bina. Amat sangat mengerti. Rasanya ingin sekali memeluk Ibu, menangis bersama, menguatkannya, untuk menggantikan sikap saya yang dulu belum tahu apa-apa.

Jakarta, (3 Maret 2020) 17 hari setelah kepergian Seguni.

0 comments:

Posting Komentar